Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Refleksi Muharram : Mewujudkan Kebangkitan Umat Hakiki

Wednesday, July 02, 2025 | Wednesday, July 02, 2025 WIB
Refleksi Muharram : Mewujudkan  Kebangkitan Umat Hakiki

Oleh : Ida Fitri 


Peringatan 1 Muharram sebagai awal tahun dalam kalender Hijriah mengandung makna mendalam dan menjadi saat yang tepat untuk refleksi spiritual serta memperkuat keimanan. Merujuk pada kalender Hijriah Indonesia tahun 2025, tanggal 1 Muharram 1447 H bertepatan dengan hari Jumat, 27 Juni 2025. Tanggal ini sekaligus menjadi titik awal pergantian tahun dari 1446 ke 1447 Hijriah, dan diperingati oleh umat Islam sebagai Tahun Baru Islam. 


Waktu begitu cepat berlalu, tahun baru Islampun hadir kembali di tengah berbagai persoalan yang masih terus menimpa umat Islam dan nasib umat semakin suram. Genosida Palestina masih terus terjadi di tengah pengkhianatan penguasa negeri muslim. Peringatan moment ini seakan hanya seremonial belaka yang diperingati dengan meriah oleh kaum Muslim. Hingar-bingarnya membuat kita lupa akan terpuruknya umat saat ini, walaupun tahun terus berganti kondisi umat tetap belum bergeser ke arah yang lebih baik. 


Tahun baru Islam seharusnya menjadi momen untukk introspeksi bagi umat Islam. Menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal terwujudnya kemuliaan umat.  Umat Islam bersatu di bawah naungan Daulah Islam, hidup sejahtera di bawah aturan Allah, Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia  dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak seperti kondisi saat ini, kita justru tersekat-sekat, terbagi-bagi dalam banyak negeri, sehingga tidak bisa menolong saudara sendiri di Palestina yang mengalami genosida. Umat sibuk dengan urusannya masing-masing, hanya memikirkan kepentingan negara sendiri, seakan apatis terhadap persoalan yang menimpa saudaranya di Palestina dan menganggap mereka bukan bagian dari umat. Wahai umat, mau sampai kapan kita terpecah belah? Tidakkah capek rasanya menahan perasaan tertekan tidak bisa berbuat apa2 karena tidak mempunyai perisai? Sedangkan pemimpin negara2 muslim bukannya memberi solusi malah berkompromi dengan musuh menjadi pengkhianat saudara sendiri. Kapan bisa hijrah dari kondisi yang buruk ke kondisi yang lebih baik, menjadi umat terbaik dalam naungan Islam? Pertanyaan yang berulang setiap tahunnya, tanpa banyak yang bisa dilakukan.  

Namun, hari ini predikat sebagai umat terbaik tak nampak nyata dalam kehidupan. Umat Islam harus merenungkan kembali, akar masalah kondisi buruk ini sehingga umat Islam kehilangan kemuliaannya sebagai umat terbaik.  Umat terpuruk karena semakin jauh dari aturan Allah (QS 20: 124), aturan Allah justru dicampakkan dan menggunakan aturan yang berasal dari manusia sendiri. Kalaupun diambil aturan itu hanya sebagian, ibarat makan di menu prasmanan, mana yang disukai diambil dan yang tidak disukai ditinggalkan, itulah kondisi saat ini, aturan Allah hanya berlaku di ranah ibadah, hanya mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta-Nya, sedangkan aturan dengan dirinya sendiri bab makanan dan pakaian dipilih-dipilah sesuka hatinya, mau berpakaian terbuka atau makan makanan yang tidak halal, asal suka asal senang. Apalagi hubungan antar sesama mulai dari ekonomi, hukum, sosial, pendidikan dan kesehatan, jauh sekali dari aturan Islam. 


Kehidupan dianggap bukan urusan agama dan tidak boleh membawa nama agama. Sungguh ironis dan miris sekali. Harusnya sebagai seorang muslim semua kehidupan diatur oleh Allah, sehingga kesejahteraan betul-betul kita rasakan, tidak seperti saat ini saat ekonomi susah, mau menyekolahkan anak juga susah, mendapatkan layanan kesehatan berkualitas pun susah. Bagaimana kita bisa hidup mulia jika seperti ini ?


Satu-satunya cara untuk meraih kembali kemuliaan adalah dengan kembali kepada aturan Allah dan menerapkannya dalam kehidupan secara kaffah (keseluruhan) yaitu hubungan dengan Allah, dengan diri kita sendiri dan dengan sesama manusia. Semua itu bisa terwujud dalam sistem Islam yang bernama Khilafah. Umat perlu disadarkan akan kebutuhan dan kewajibannya pada Khilafah sebagai institusi yang akan menjadi junnah/payung teduh bagi ummat atas semua persoalan yang ada. Karena itu umat harus disadarkan hakikatnya sebagai muslim dan didorong untuk ikut memperjuangkannya. Penyadaran umat ini membutuhkan bimbingan dari jamaah dakwah yang tulus dan istiqomah berjuang di jalan Allah. Wallahu a’lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update