Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perdagangan Anak: Ancaman Nyata Terhadap Masa Depan Bangsa

Tuesday, July 29, 2025 | Tuesday, July 29, 2025 WIB

 


 

Oleh Vee.Ana

Pengajar Boarding School di Malang

 

 

Anak adalah anugerah sekaligus amanah yang tak ternilai harganya. Mereka bukan sekadar penerus garis keturunan, melainkan generasi yang kelak akan memegang kendali arah bangsa. Di tangan merekalah masa depan negeri ini ditentukan, apakah menjadi bangsa yang maju, beradab, dan bermartabat, atau sebaliknya. Hal ini tidak bisa berharap masa depan yang gemilang, jika hari ini kita abai pada anak-anak kita. Sebaliknya, jika hari ini kita didik dan lindungi mereka dengan sepenuh hati, kelak mereka akan tumbuh menjadi pemimpin, inovator, dan penjaga nilai moral yang baik.

 Namun segala hal yang menjadi harapan hanyalah sebuah harapan, apabila menyimak sebuah kabar bahwa terungkap sindikat akan menjual 24 bayi ke luar negeri dengan harga antara Rp 11 juta hingga Rp 16 juta. Bayi-bayi yang dijual sindikat ini sebagian besar masih berusia dua hingga tiga bulan dan berasal dari berbagai wilayah di Jawa Barat.

Menurut Kombes Surawan, modus operandi para pelaku sangat terencana. Beberapa bayi bahkan sudah "dipesan" sejak dalam kandungan. Biaya persalinan ditanggung oleh pembeli, lalu bayi langsung diambil setelah lahir. "Ada yang orang tuanya menjual sejak dalam kandungan, dibiayai persalinannya, kemudian diambil pelanggan," ungkapnya. (BeritaSatu.com)

 Bayi merupakan makhluk paling lemah dan tak berdaya. Seharusnya mendapatkan perlindungan maksimal dari negara, masyarakat, dan keluarga. Namun dalam praktik perdagangan bayi, mereka diperlakukan layaknya komoditas yang bisa diperjualbelikan.

Mereka dijual untuk berbagai tujuan, mulai dari adopsi ilegal, eksploitasi seksual, hingga perdagangan organ. Ini adalah bentuk eksploitasi paling keji terhadap manusia yang belum sempat memilih jalan hidupnya sendiri.

 Dalam hal ini, tentu saja berkaitan dengan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Faktor yang melatar belakngi permasalahan ini salah satunya adalah faktor ekonomi yang membelenggu perempuan. Kemiskinan ini hasil dari keputusan politik dan arah pembangunan ekonomi Indonesia. Maka menjadi rentan untuk memunculkan kejahatan. Termasuk yang melibatkan perempuan dalam sindikat perdagangan. Di Indonesia kemiskinan bertemu dengan ekosistem TPPO yang kuat menjadikan perempuan dalam pusaran kejahatan dan meninggalkan sisi kemanusiannya sebagai seorang ibu.

Akibatnya anak tidak terlindungi bahkan sejak dalam kandungan.

 Perdagangan bayi akan kerap terjadi karena lemahnya pengawasan institusi sosial dan hukum. Di banyak kasus, praktik ini melibatkan jaringan terselubung yang melibatkan oknum rumah sakit, atau bahkan lembaga adopsi yang tidak sah. Hukuman yang tidak tegas atau proses hukum yang lamban hanya akan membuat pelaku tidak jera. Negara harus hadir dengan regulasi yang ketat dan penegakan hukum yang tanpa kompromi.

 Negara yang membiarkan perdagangan bayi terjadi secara sistematis sedang menghadapi krisis moral yang mendalam. Ketika nilai kemanusiaan digantikan oleh nilai ekonomi, ketika anak-anak tidak lagi dihargai sebagai individu, maka bangsa tersebut perlahan kehilangan arah dan jati diri. Nilai kekeluargaan, solidaritas sosial, dan empati yang menjadi kekuatan budaya pun terkikis.

 Beginilah sistem sekuler kapitalisme yang mencengkeram negeri ini. Agama dipinggirkan dari kehidupan sehingga semua tindak kejahatan marak tanpa terkendali. Melenyapkan fitrah seorang ibu dalam kepengasuhan atau yang menjadi tanggung jawabnya.

 Demikianlah saat aturan Allah tidak dijalankan. Perbuatan ini dengan sangat jelas dilarang oleh Islam. Siapapun pelakunya akan ditindak tegas terlebih lagi jika ini merupakan sindikat. Islam menjadikan anak sebagai aset bangsa yang strategis karena merupakan generasi penerus untuk mewujudkan dan menjaga peradaban Islam yang mulia. Negara juga berperan dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya dengan terpenuhinya kebutuhan pokok. Dan mengatur sistem pendidikan yang berkualitas untuk anakbahkan membentuk karakter individu-individu di masyarakat, menjadi individu yang memahami bagaimana menjaga jiwa setiap manusia.

Maka tugas bersama dalam menjaga, membina, dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa. Sudah seharusnya semua pihak keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah bekerja sama untuk menciptakan generasi penerus yang unggul, tangguh, dan berdaya saing tinggi.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update