Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Penghinaan terhadap Nabi: Bukti Kebencian Sistematis terhadap Islam Oleh : Ummu Hamizan

Saturday, July 12, 2025 | Saturday, July 12, 2025 WIB


 
Baru-baru ini dunia Islam kembali dikejutkan dengan tindakan biadab yang menyakiti perasaan umat Muslim. Majalah satire asal Prancis, LeMan, menerbitkan sebuah karikatur yang menghina sosok Nabi Muhammad ﷺ. Meski pihak media membantah adanya unsur penghinaan dan aparat telah memerintahkan penangkapan terhadap pelaku, amarah umat tak terbendung. 

Khususnya di Turki, dilansir dari cnnindonesia.com gelombang protes masyarakat tetap terjadi karena mereka merasa kehormatan Nabi tidak bisa ditawar dan tidak layak untuk dijadikan bahan olok-olok.

Fenomena seperti ini bukan yang pertama, dan sayangnya bukan pula yang terakhir. Kebebasan berekspresi yang diagung-agungkan oleh sistem demokrasi Barat, berulang kali digunakan sebagai tameng untuk menyerang Islam. Ironisnya, ekspresi kebebasan tersebut lebih banyak diarahkan untuk menyebarkan kebencian terhadap ajaran Islam dan tokoh-tokoh sucinya. Dalam kerangka demokrasi, penghinaan terhadap agama justru dijustifikasi, selama diklaim sebagai "kebebasan berpikir".

Tindakan penghinaan ini bukan sekadar persoalan media atau ekspresi individu. Ini adalah refleksi dari kebencian yang terstruktur dan sistematis terhadap Islam dan umatnya. Banyak pihak di Barat yang merasa terganggu oleh kebangkitan Islam dan semangat keislaman yang mulai tumbuh di tengah umat. Oleh sebab itu, segala cara dilakukan untuk merusak citra Islam dan merendahkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Dalam menghadapi kondisi seperti ini, penting untuk menyadari bahwa peradaban Islam dibangun bukan di atas asas kebebasan mutlak, melainkan atas dasar akidah yang lurus, yaitu akidah Islam. Peradaban Islam menolak segala bentuk penghinaan atas dasar apapun, termasuk dengan alasan kebebasan berekspresi. Tujuan utama dari peradaban Islam bukanlah keuntungan materi, apalagi pemuasan nafsu manusia semata, melainkan kemuliaan manusia di bawah aturan Allah SWT.

Sejarah Islam menunjukkan bagaimana negara secara tegas melindungi kehormatan Islam dan Rasul-Nya. Bukan hanya secara moral, tetapi juga melalui sistem pemerintahan yang menerapkan hukum Islam secara menyeluruh. Dalam naungan Islam, tidak ada ruang bagi musuh-musuh nya untuk merendahkan Rasulullah tanpa mendapatkan balasan setimpal dari negara.

Sistem Islam memiliki seperangkat aturan sanksi yang jelas dan tegas untuk menghadapi tindakan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Syariat Islam telah mengatur secara rinci bagaimana negara harus bertindak terhadap pelaku penghinaan, baik secara verbal, tulisan, ataupun simbolik. Tidak peduli apakah pelakunya adalah seorang Muslim, kafir dzimmi (non-Muslim yang hidup di bawah perlindungan negara Islam), atau kafir harbi (non-Muslim yang memerangi Islam), semuanya memiliki konsekuensi hukum tersendiri.

Sanksi tersebut bukanlah bentuk balas dendam emosional, melainkan manifestasi dari tanggung jawab negara dalam menjaga kemuliaan Islam. Ini adalah bagian dari sistem hukum Islam yang bersifat preventif dan korektif. Dalam sejarah, penerapan sanksi ini terbukti mampu menekan tindakan penghinaan, karena adanya efek jera yang sangat kuat.

Berbeda dengan sistem sekuler yang melindungi para penghina agama dengan dalih HAM, Islam justru mengatur dengan sangat serius bagaimana kemuliaan agama dijaga oleh negara. Maka tidak heran jika dalam sejarah peradaban Islam yang panjang, kasus penghinaan terhadap Nabi SAW sangat minim terjadi, dan jika pun ada, negara hadir untuk menyelesaikannya secara adil dan tegas.

Apa yang terjadi hari ini hanyalah satu dari sekian banyak bukti bahwa sistem demokrasi sekuler tidak pernah berpihak kepada Islam. Sistem ini memberikan kebebasan tanpa batas bagi orang-orang yang ingin menghancurkan kehormatan agama. Oleh karena itu, solusi atas persoalan ini tidak cukup hanya dengan aksi protes sesaat atau boikot produk, tetapi harus ada upaya serius untuk menegakkan kembali sistem Islam dalam bentuk Khilafah yang akan menjaga agama dan kehormatan umat.

Kini saatnya umat Islam bangkit dengan penuh kesadaran. Kita tidak hanya butuh marah, tetapi juga butuh solusi sistemik. Dan Islam telah menyediakan solusi itu dalam bentuk pemerintahan yang berdasarkan wahyu, bukan nafsu manusia. Dengan Negara Islam, penghinaan terhadap Rasulullah SAW tidak akan lagi dibiarkan, tetapi dihadapi dengan kekuatan dan keadilan sejati. Wallahu’alam bii shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update