Penulis: Prastika
Guru Madrasah
Tak terasa tahun telah berganti, sekarang sudah memasuki tahun 1447 H, tepatnya pertengahan di bulan pertama hijriah yaitu Muharam. Namun sangat disayangkan, tidak sedikit kaum muslim yang menyambutnya hanya dengan mensyukuri saja. Padahal tentunya ada hal lain yang juga penting dilakukan, yakni muhasabah.
Setiap muslim tentu butuh dan harus senantiasa melakukan evaluasi. Di mana tentunya bukan hanya pada diri sendiri saja, melainkan juga terhadap kondisi umat. Jika ditafakuri umat tampak semakin terpuruk.Tentu sangat penting untuk mencari jalan kebangkitan yang hakiki agar menjadi umat terbaik sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah
Ali Imran ayat 110.
Hukum bermuhasabah adalah wajib bagi setiap muslim. Allah telah berfirman pada surah Al-Hasyr ayat 18:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang akan diperbuat untuk bekal akhirat. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui apa yang dikerjakan".
Sudahkah Menjadi Umat Terbaik?
Tahun 2000 Bank Dunia melaporkan bahwa banyak negara muslim yang pendapatannya rendah atau tergolong miskin. Padahal sebagian besar negeri muslim kaya akan sumber daya alamnya.
Indonesia adalah salah satu contoh negeri muslim yang kaya dengan tambang mineral seperti nikel dan emas. Namun sangat ironis, berdasarkan laporan Bank Dunia bahwa 60,3% penduduknya miskin. data ini dikutip dari laporan Bank Dunia berjudul Macro Poverty Outlook edisi April 2025, Selasa (29/4/2025). Seperti di Papua yang memiliki ribuan ton emas yang justru dikeruk oleh PT Freeport semenjak tahun 1967. Namun, sangat bertolak belakang, betapa Papua justru menjadi provinsi yang terbilang miskin.
Kondisi di luar negeri, muslim pun berada pada kondisi terpuruk dan terzalimi, Palestina di antaranya. Kaum zionis di Gaza telah memblokade dan melakukan genosida yang jahat, sehingga 55 ribu jiwa meninggal dan ratusan ribu anak-anak cacat, juga mengalami kelaparan. Dengan mudahnya kaum zionis menumpahkan darah umat muslim dengan teramat brutalnya.
Tidak hanya di Gaza yang mengalami penderitaan, tetapi juga dialami muslim India, Myanmar, Xinjiang, dan Yaman. Negeri-negeri muslim inilah yang mendapat temenan dan penderitaan dari para penguasa. Tidak ada tempat berteduh, terpisah dari keluarga. Mereka teraniaya, bahkan mereka mengalami pembunuhan yang teramat keji.
Ironisnya, sesama negeri muslim tidak membela saudaranya sendiri. Hal ini sangat menyedihkan. Padahal sangat jelas bahwa sesama muslim itu ibarat satu tubuh.
Di sisi lain, banyak para penguasa di negeri muslim yang berkhianat. Bukannya bersatu melawan para zionis, tetapi sebaliknya, para penguasa negeri muslim malah bersekutu degan zionis dan AS untuk melawan Palestina.
Amerika serikat bahkan sangat membela dan menjadi pelindung bagi zionis ketika mereka melakukan penyerangan membabi buta ke arah Palestina. Bahkan, tak sampai di situ, Amerika Serikat juga melakukan pemboman terhadap Iran dengan dalih telah melakukan kekacauan di Timur Tengah.
Kaum muslim yang jumlahnya sangat banyak, lebih dari dua miliar, sama sekali tidak melakukan upaya perlindungan dan pembelaan satu dengan lainnya. Sangat ironi, justru di saat negeri muslim memiliki militer dengan jumlah yang banyak di mana ini merupakan kekuatan, tetapi tidak bisa membela saudara seimannya sendiri.
Nestapa yang terjadi di dunia Islam kini tentu membutuhkan solusi tuntas dan shahih. Di mana tiada solusi yang shahih kecuali dengan meneladani apa yang dikerjakan sosok qudwah terbaik dan utama seorang mukmin, yakni Rasulullah saw.
Selama 13 tahun kala itu kaum muslimin yang tinggal di Mekah mengalami kehancuran, tertindas, teraniaya, hingga akhirnya Rasullullah hijrah ke Madinah dan membentuk masyarakat yang islami juga menegakkan sebuah negara yang masyarakatnya menjadi kuat, disegani, dan mulia. Beliau saw. beserta para sahabat masuk menuju wilayah yang menerapkan hukum Islam menyeluruh dan keluar dari wilayah kufur. Di mana inilah yang dinamakan hijrah yang hakiki.
Hijrahnya Nabi beserta para sahabatnya bukanlah lari dari masalah, melainkan mencari solusi dalam permasalahan umat. Sebagaimana doa yang Rasulullah panjatkan di saat meminta kepada Allah agar dimasukkan dengan cara masuk yang benar, begitu pula keluar dengan benar. Rasul pun memohon kepada Allah supaya diberi kekuasaan yang menolong.
Sepeninggal Rasulullah saw. kaum muslim pun tetap bersatu di bawah kepemimpinan khulafaurasyidin dan khalifah-khalifah berikutnya.
Kembali pada saat ini, betapa begitu banyaknya musibah dan penderitaan yang dialami umat karena ketiadaan pemimpin Islam yang menolong umat dan bisa mengajak kepada kebenaran, dari yang bathil kepada yang hak.
Penjelasan dalam Al-Qur'an surah Thaha ayat 124 berbunyi: "Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh akan merasakan penghidupan yang sempit ...."
Maka dari itu, kini saatnya kita mengikuti apa yang telah dicontoh Rasulullah, yaitu menerapkan syariat secara Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah yang mengikuti manhaj nabi saw. Dengannya, kaum muslimin akan merasa aman, tenteram, dan sejahtera. Sebagaimana janji Allah dalam surah Al-A'raf ayat 96. Dalam ayat ini Allah Swt. menjelaskan bahwa jika penduduk negeri beriman dan bertakwa, maka akan diberkahi dari langit dan bumi. Namun apabila mereka mendustakan ayat-ayat Allah, mereka akan tersiksa akibat perbuatan mereka sendiri.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
No comments:
Post a Comment