Kekejaman yang dilakukan oleh rezim Zionis Yahudi terhadap rakyat Palestina semakin hari kian menunjukkan wajah aslinya yang penuh kebiadaban. Serangan demi serangan, pembunuhan terhadap anak-anak dan perempuan, serta penghancuran fasilitas umum menjadi bukti nyata bahwa penjajahan ini telah melampaui batas kemanusiaan.
dilansir dari tempo.co menurut Kementrian Kesehatan Palestina, sudah 56.647 warga Palestina meninggal dunia akibat perang genosida Zionis di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.Dunia menyaksikan penderitaan rakyat Palestina, namun sebagian besar tetap memilih bungkam, seakan keadilan hanya berlaku bagi pihak yang kuat dan berkuasa.
Meski masyarakat di berbagai penjuru dunia telah menyuarakan kepedulian dan solidaritasnya, namun suara mereka seolah tak berarti di hadapan diamnya para pemimpin dunia. Ironisnya, banyak pemimpin negeri-negeri Muslim justru terus menjalin kerja sama diplomatik dan ekonomi dengan entitas penjajah Zionis. Mereka tidak hanya lalai, tetapi juga mengkhianati prinsip persaudaraan seiman yang mestinya menjadi pengikat utama di antara umat Islam.
Ketidakpedulian para pemimpin negeri-negeri Muslim terhadap penderitaan saudara-saudara mereka di Palestina tidak bisa dilepaskan dari dua hal utama: ketidaktahuan mereka terhadap akar permasalahan dan kecintaan yang berlebihan terhadap kekuasaan. Mereka tidak melihat isu Palestina sebagai persoalan keimanan, tetapi sekadar urusan politik luar negeri biasa. Akibatnya, hati mereka menjadi keras dan mata mereka tertutup dari realitas penindasan yang terus berlangsung.
Dalam kondisi seperti ini, tugas mulia untuk membangkitkan kesadaran umat menjadi tanggung jawab kaum Muslimin yang telah menyadari pentingnya perjuangan ini. Terutama para pengemban dakwah, mereka harus tampil di barisan terdepan, menguatkan narasi perjuangan, dan menyuarakan kebenaran dengan lantang. Dakwah yang konsisten akan menggerakkan umat untuk menuntut pemimpinnya agar kembali kepada jalan Islam dalam menyikapi tragedi Palestina.
Upaya penyadaran umat tidak boleh berhenti pada retorika dan empati semata. Perlu ditanamkan kesadaran ideologis bahwa Palestina hanya bisa merdeka melalui perjuangan Islam yang sejati: jihad fi sabilillah di bawah kepemimpinan yang sah, yaitu Negara yang menerapkan sistem Islam. Hanya dengan sistem ini, seluruh kekuatan umat dapat bersatu dalam satu komando, menolong saudara-saudara kita yang dizalimi dan mengusir penjajah dari bumi Palestina.
Para dai dan pengemban dakwah juga memiliki peran penting dalam membentuk opini umum yang menyadari bahwa penyelesaian hakiki bagi Palestina bukanlah konferensi damai atau normalisasi hubungan, tetapi penegakan hukum Allah secara kaffah. Mereka harus mampu memimpin umat meneladani jalan dakwah Rasulullah SAW yaitu menegakkan kembali sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Dalam proses panjang perjuangan ini, keistiqamahan para pengemban dakwah menjadi kunci utama. Mereka harus terus menjaga kemurnian langkah dakwahnya sesuai dengan metode yang diwariskan oleh Nabi ﷺ. Dakwah yang dilakukan dengan sabar, cerdas, dan ikhlas akan menanamkan pengaruh besar di tengah masyarakat, memperkuat gelombang kesadaran yang sudah mulai tumbuh di berbagai penjuru dunia Islam.
Selain itu, peningkatan kualitas diri menjadi hal yang tak kalah penting. Para pengemban dakwah harus terus belajar, memperluas wawasan, dan membina umat dengan metode yang bijak. Mereka juga harus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT, memohon pertolongan-Nya agar perjuangan ini mendapatkan dukungan ilahi yang tak terbendung.
Ketika umat sudah memahami persoalan Palestina secara ideologis dan sadar akan peran sistem Islam sebagai solusi, maka mereka tidak akan mudah terombang-ambing oleh opini Barat atau tipu daya normalisasi. Kesadaran ini akan mendorong lahirnya gerakan yang lebih besar dan lebih terarah, yang akan terus menekan penguasa agar mencampakkan sistem sekuler dan menggantinya dengan sistem yang diturunkan oleh Allah SWT.
Kini saatnya umat Islam mengambil posisi tegas dan bersatu dalam satu barisan perjuangan. Palestina bukan sekadar isu geopolitik, melainkan panggilan keimanan. Hanya dengan kembali pada Islam secara kaffah dan menegakkan Negara Islam-lah, kemerdekaan sejati Palestina bisa diwujudkan. Dan inilah jalan yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Wallahu’alam bii shawwab

No comments:
Post a Comment