Oleh: Dhini Sri Widia Mulyani
(Pegiat Literasi)
Tahun Baru Islam 1447 Hijriah kembali hadir menyapa umat Muslim di seluruh dunia di tengah situasi global yang masih diliputi penderitaan dan nestapa. Krisis kemanusiaan yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina pun belum juga menemukan titik akhir.Kekejaman, penjajahan, dan ketidakadilan masih terus berlangsung, bahkan disiarkan ke seluruh penjuru dunia. Tragisnya, penguasa di negeri-negeri Muslim justru banyak yang diam, acuh, bahkan terlibat dalam kompromi politik yang menyakitkan hati umat.
Kondisi ini menyadarkan bahwa umat Islam sedang mengalami keterpurukan yang dalam. Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar seremoni saja melainkan momentum kita untuk muhasabah, mengevaluasi perjalanan hidup kita sebagai individu dan sebagai bagian dari umat. Sebagaimana dalam materi khutbah Jumat yang relevan disampaikan sepekan sebelum tahun baru Islam, atau Jumat 20 Juni 2025 ini disadur dari laman Pesantren Lirboyo, Kediri:
“Penghujung tahun Hijriah merupakan saat yang tepat bagi kita untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah), merefleksikan amal perbuatan selama satu tahun yang telah berlalu. Sudahkah kita menjalani hidup sesuai ajaran Islam?” (Liputan6.com, 20/06/25)
Hijrah: Titik Awal Kebangkitan Umat
Peristiwa Hijrah Rasulullah Saw. dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa yang menjadi titik awal kebangkitan peradaban Islam. Di Madinah, Rasulullah tidak hanya membangun masjid atau mengajarkan shalat, tetapi juga mendirikan sistem kehidupan Islam yang menyeluruh. Di bawah kepemimpinannya, hukum Allah ditegakkan, keadilan ditebar, dan umat Islam hidup dalam satu naungan politik yang kokoh di bawah Daulah Islamiyah.
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah atau perubahan keadaaan dari lemah menuju kuat, dari tertindas menuju merdeka, dari jahiliyah menuju peradaban yang berpijak pada wahyu. Inilah makna hijrah yang hakiki yang merupakan transformasi menuju ketaatan sepenuhnya kepada Allah Swt.
Namun hari ini, makna hijrah seringkali direduksi menjadi sekadar perubahan gaya hidup personal, tanpa menyentuh aspek struktural umat. Padahal, umat ini sedang sakit tercerai-berai, terjajah secara politik, tergantung secara ekonomi, secara pemikiran, dan lemah secara ideologi. Allah Swt. telah mengingatkan dengan tegas dalam QS. Thaha ayat 124:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124)
Ayat ini menunjukkan bahwa akar persoalan umat adalah jauhnya mereka dari aturan Allah. Mereka lebih memilih hukum buatan manusia daripada syariat-Nya. Hal ini mengakibatkan kehidupan menjadi sempit, penuh ketidakadilan, dan jauh dari keberkahan.
Hijrah Zaman Ini Kembali Pada Islam Kafah
Hijrah Rasulullah dulu membuka jalan bagi tegaknya sistem Islam. Maka, hijrah umat Islam hari ini harus berarti kembali kepada Islam secara kafah (menyeluruh), dalam seluruh aspek kehidupan: spiritual, sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, dan politik. Tidak cukup hanya memperbaiki diri secara individu. Kita harus memperjuangkan agar Islam kembali hadir dalam wujud nyata yang melindungi umat, menegakkan keadilan, dan menyatukan potensi umat dalam satu institusi global, yaitu Khilafah Islamiyah.
Sebagian mungkin menganggap ide ini jauh dari kenyataan. Namun sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam pernah memimpin dunia selama lebih dari 13 abad. Hal ini bukan sekadar ide, tapi pernah diterapkan. Dan kenyataan itu bisa kembali terwujud jika umat ini sadar, bersatu, dan bergerak. Kesadaran ini tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Ia harus ditanamkan melalui dakwah yang istiqamah dan sabar. Para pegiat dakwah, para intelektual, para ulama, dan siapa pun yang peduli terhadap nasib umat, harus terus menyuarakan pentingnya kembali kepada Islam sebagai solusi. Bukan solusi tambal sulam, tetapi solusi mendasar yang mengakar.
Muharram Bulan Perubahan dan Kesungguhan
Bulan Muharram tidak hanya dikenal sebagai bulan pembuka dalam kalender Hijriah, tetapi juga termasuk salah satu dari empat bulan suci yang ditinggikan kedudukannya oleh Allah. Pada bulan ini terdapat kesempatan besar untuk mendekatkan diri kepada-Nya, terutama melalui puasa tasu’a dan asyura. Sebagaimana diberitakan oleh Antara News:
“Awal Muharram bisa dijadikan momen untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, termasuk menjalankan puasa sunnah Tasu’a dan Asyura yang memiliki keutamaan besar.” (AntaraNews.com, 28/06/25)
Puasa asyura yang jatuh pada 10 Muharram (7 Juli 2025), dijanjikan pengampunan dosa setahun yang lalu (HR. Muslim). Ini mengindikasikan bahwa aspek spiritual dan upaya perjuangan harus berjalan seiring dan saling melengkapi. Hijrah Rasulullah pun dimulai dari keimanan yang kokoh dan diiringi dengan tindakan nyata. Artinya, hijrah spiritual harus melahirkan perubahan sosial. Ibadah tidak boleh berhenti di masjid, tetapi harus menjalar dalam sikap, pilihan hidup, dan perjuangan umat.
Muharram, Titik Balik Kesadaran
Saat ini, umat Islam berada di persimpangan jalan, tetap tenggelam dalam keterpurukan, atau bangkit dengan hijrah menuju kemuliaan. Untuk bangkit, kita perlu menyatukan visi dan perjuangan, meninggalkan sekat-sekat buatan kolonial, dan menatap kembali warisan besar Islam yang pernah menjadikan umat ini sebagai “khoiru ummah”.
Hijrah menuju kemuliaan adalah hijrah menuju Islam sebagai sistem hidup, bukan sekadar agama privat. Umat Islam tidak ditakdirkan menjadi umat yang tertindas, melainkan umat yang memimpin, memberi solusi, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Marilah kita menjadikan momentum Tahun Baru Islam ini sebagai titik tolak untuk melakukan perubahan yang lebih baik dan bermakna. Bukan sekadar pergantian tahun, tetapi permulaan kesadaran baru. Kesadaran bahwa Islam bukan hanya identitas, tapi jalan hidup. Kesadaran bahwa hanya dengan kembali kepada syariat secara menyeluruh, umat ini bisa bangkit. Sudah saat nya kita hijrah dari sistem rusak menuju sistem Islam, dari keterpurukan menuju kemuliaan, dari pasif menjadi pejuang. Hijrah bukan sekadar sejarah. Ia adalah panggilan perubahan. Maka, saatnya umat bangkit!
Wallahu a'lam bi ash-shawab.
No comments:
Post a Comment