Oleh Oktiana
Guru dan Aktivis Dakwah
Perundungan berujung tragis nampaknya bukan kali pertama terjadi di negeri ini. Seperti kasus yang tengah menjadi sorotan dimana seorang siswa SMP di bandung yang mengalami perundungan oleh teman sebayanya. Yang bikin miris lagi, kekerasan ini dipicu karena korban menolak untuk menenggak minuman keras yang jelas berbahaya dan tidak diperbolehkan dalam Islam. Korban lalu dipukuli dan diceburkan ke sumur yang mengakibatkan korban mengalami trauma berat. (CNNIndinosia.com, 26/06/2025)
Kejadian seperti ini membuktikan bahwa betapa perundungan di kalangan perlajar sudah sampai ke tahap yang mengkhawatirkan. Tidak hanya itu, ada juga kasus serupa di daerah bandung, jawa barat tepatnya di desa cicendo. Korban dipukuli dan ditendang secara bergiliran oleh para pelaku. Bahkan,salah satu korban sempat mengancam dengan obeng dan akan membunuh korban.
Kapolres Bandung, kombes Budi Santoso membenarkan kejadian tersebut yang dilakukan di kawasan Cicendo, Bandung.
Mereka pelaku bullying adalah para remaja bahkan ada yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Sebenarnya, kasus bullying bukanlah kasus baru lebih tepatnya kasus ini Seperti fenomena gunung es yang akan semakin meningkat kasus-kasus serupa. Banyak sekali kasus perundungan di negeri ini, namun hanya sedikit yang yang tercatat dan terlihat itu semua karena tidak dilaporkan dengan alasan takut, malu,atau ketidak percayaan akan mekanisme penyelesaian yang ada.
Dalam kasus ini menunjukan bahwa generasi saat ini semakin hari semakin sadis, bersumbu pendek sehingga mudah terbawa emosi yang menghasilkan anak menjadi bengis. Mereka tidak berfikir apa efek dari perbuatan yang mereka lakukan.
Akibat Didikan Sistem Sekularisme Kapitalisme
Inilah akibat dari didikan sistem sekularisme kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan.
Agama hanya dipakai untuk mengatur Ibadah maghdah saja seperti shalat, puasa, zakat tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka enggan untuk mengambil aturan Islam untuk mengatur kehidupan mereka. Banyak faktor yang mempengaruhi tindakan bullying saat ini seperti minimnya rasa empati hal ini bisa datang dari keluarga, lingkungan sosial bahkan dari dirinya sendiri.
Adapun kurikulum pendidikan yang hari ini tegak diatas nilai-nilai sekulerisme. Kebanyakan pendidikan saat ini hanya mengedepankan nilai akademik saja. Sedangkan peran agama yang justru menjadi pondasi akhlak mereka supaya mempunyai karakter yang mulia tidak diutamakan. Alhasil generasi saat ini sangat minim akhlak bahkan menjadi liar tanpa memikirkan apakah perbuatan yang mereka lakukan Allah SWT Ridai atau tidak, halal dan haram juga tidak mereka pakai untuk aktivitas sehari-harinya.
Sistem sekulerisme juga memberikan kebebasan beperilaku sehingga kebebasan tersebut menjadikan generasi tidak mau terikat pada hukum syara yang menjadikan generasi mempunyai akhlak buruk,bengis dan sadis.
Kasus bullying yang marak terjadi saat ini salah satunya juga diperparah dengan adanya peran negara. Negara tidak bis memfilter informasi,tontonan yang masuk ketengah masyarakat. Seperti adegan kekerasan,saling mengejek,serta sikap angkuh yang muncul dimedia. Ini menjadi salah satu sebab yang menginspirasi anak untuk melakukan bullying.
Negara hanya mencari keuntungan yang besar dengan cara menayangkan tontonan-tontonan yang mengandung perundungan tanpa memikirkan imbas untuk para generasi. Lalu apa yang bisa menghentikan kasus Bullying saat ini?
Hanya Islam yang Mampu Menghentikan Kasus Bullying
Mungkin banyak yang berfikir dan bertanya-tanya tentang kasus bullying ini, bahkan membuat kita merasa takut saat melepas anak-anak untuk bergaul atau bersosialisasi bersama teman-temannya. Kondisi saat ini juga diperparah dengan hukuman yang tidak tegas untuk para pelaku. Bullying harusnya mendapatkan perhatian khusus dari semua pihak, supaya anak jauh dari tindakan kekerasan karena bagaimanapun anak-anak adalah generasi penerus untuk masa depan.
Dalam Islam, akidah merupakan pondasi yang paling dasar dalam pendidikan. Mereka tidak hanya menjadi generasi yang cerdas, tetapi juga menjadikan generasi mempunyai akhlak yang mulia dan menjunjung tinggi adab kepribadian Islam. BerIman kepada Allah merupakan benteng dari perilaku sadis dan bengis. Yang nantinya mereka sadar akan hubungannya dengan Allah, sadar bahwa mereka ada yang menciptakan yaitu Allah dan sadar mereka posisinya sebagai Makhluk Allah yang diciptakan untuk menaati perintah dan larangannya.
Suasana keimanan juga sangat dibutuhkan dalam keluarga, mengajarkan anak dengan hal-hal yang baik, karena anak membutuhkan keluarga harmonis untuk bisa menciptakan suasana yang taat dan beriman pada Allah SWT dan Rasullnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi,nasrani atau majusi." (HR.Imam Bukhari Muslim)
Islam memandang bahwa menjaga anak dan generasi bukanlah tanggung jawab orang tua saja akan tetapi ini merupakan tugas negara dan masyarakat.
Masyarakat dalam sistem Islam juga memiliki tanggung jawab untuk menasehati, mencegah perbuatan tercela dan mengajak pada kebaikan. Masyarakat tidak abai akan permasalahan yang sedang terjadi di sekitarnya.
Sedangkan negara dibutuhkan untuk menyaring tontonan yang ada di media sehingga generasi tidak sembarang dalam menonton sesuatu di media sosial. Dampaknya sangat baik ketika negara mau menyaring tontonan yang ada di media. Karena tontonan sangat berpengaruh terhadap pembentukan generasi.
Maka dari itu, sudah saatnya kita kembali pada Sistem Islam dimana Sistem ini berasal dari Allah SWT yang sudah pasti benar. Sudah terbukti saat Islam menguasai dunia selama 1.400 tahun, Islam mampu membangun generasi cerdas,berakhlak,berkualitas sehingga jauh dari kasus perundungan.
Wallahuallam bissawab. []
No comments:
Post a Comment