Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Budaya Konsumerisme Ancaman Bagi Lingkungan

Friday, July 11, 2025 | Friday, July 11, 2025 WIB
Budaya Konsumerisme Ancaman Bagi Lingkungan

Oleh: Riya Septi Habibah, S.M


Sampah adalah problem dunia yang menjadi sorotan. Jika kita melihat ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) maka akan nampak gunung-gunung sampah yang menjulang. Begitupun di Indonesia, masalah sampah seperti tak ada habisnya, tak ada jalan keluarnya, dan tak ada solusi tuntasnya. Terkhusus di Kalimantan Timur, ibu kotanya, Samarinda menjadi sorotan tatkala proses pengelolaan sampah yang terbilang buruk.


Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim membenarkan hal tersebut. Tak hanya Samarinda, ternyata terdapat beberapa kabupaten di Kaltim yang sistem pengelolaan sampahnya belum memenuhi standar nasional. Diantaranya, yaitu Kutai Kartanegara, Berau, Kutai Timur, dan Kutai Barat.


Kota-kota tersebut masih menggunakan cara yang sebenarnya telah lama dilarang oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yaitu metode _open dumping_ atau pembuangan secara terbuka. Walau saat ini Samarinda telah berusaha melakukan perbaikan dengan mengganti sistem _sanitary landfill_ yang dilakukan di kawasan Sambutan, namun progres itu dinilai belum memadai dan perlu adanya kekonsistenan serta pengawasan.


DLH Kaltim juga memaparkan terkait adanya penilaian kategori zona hitam, ini adalah penilaian terburuk. Yang mana jika suatu daerah mendapat nilai tersebut berarti sinyal bahwa daerah tersebut tidak dapat dibina, tidak mendapatkan insentif, pun tidak mendapat penghargaan. Daerah yang masuk pada kategori zona hitam dianggap gagal total dalam pengelolaan lingkungan. Mengingat target nasional menuju  _net zero emission_ dan transisi energi bersih, penghargaan adipura yang telah didapatkan di beberapa daerah bukan tolak ukur bahwa daerah itu ramah lingkungan. Maka penilaian ini cara pandangnya diubah pada penekanan keberlanjutan, bukan sekedar tampilan (24/06/2025, jawapos.com).


*Budaya Konsumerisme dan Hedonisme*

Konsumerisme merupakan budaya dari ekonomi yang mendorong perolehan barang dan jasa dalam jumlah tertentu yang kegiatannya terus meningkat. Landasan yang menggerakkan manusia untuk terus membeli dan memiliki sesuatu adalah keinginan. Hal itu pula yang menjadikan semakin banyak yang dibeli maka semakin banyak pula yang akan dibuang. Adapun kegiatan tersebut mengakibatkan tempat pembuangan sampah yang meluap, lautan tercemar, dan membebani sumber daya di bumi (04/03/2025, pollution.sustainability-directory.com).


Hedonisme adalah pandangan yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan hidup yang utama. Bagi penganut paham ini kesenangan dan pesta pora perlu dilakukan karena mereka beranggapan hidup hanya sekali maka bergembiralah, puaskan nafsu, karena esok engkau akan mati. Begitu pandangan Epikurus sejak zaman Yunani Kuno.


Hedonisme menjadi suatu budaya yang meletakkan dimensi kepuasan materi sebagai suatu tujuan utama memicu dan memacu pemanfaatan alam dan atau melakukan aktivitas hidup yang jauh dari dimensi spiritual. Tujuan hidup yang kesadaran dari nilai etika serta moralitas yang rendah akan berdampak pada kepuasan sesaat dan hal negatif yang berjangka panjang (Jennyya, dkk. 2021)


Adam Smith selaku ekonom kapitalis menyatakan bahwa sifat konsumerisme manusia memiliki sisi positif yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan pendapatan rakyat. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat kapitalis yang menganut budaya konsumerisme dan hedonisme selalu akan memenuhi gaya hidupnya demi kesenangan tanpa memperhatikan mana keinginan dan kebutuhan karena harus dipenuhi saat itu juga.


Pun para korporasi dengan senang hati akan terus memproduksi barang dan memasarkannya kepada para konsumen tanpa memperhatikan dampak lingkungan akibat proses pembuatan maupun limbah yang dihasilkan. Karena bagi para korporasi keuntungan menjadi tujuan utamanya.


Aktivis lingkungan yang memiliki niat baik untuk menjaga dan memperbaiki kondisi bumi tentunya hanya mengalami jalan buntu. Maka persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggungjawab individu ataupun komunitas, tapi menjadi tanggungjawab yang harus diselesaikan masalahnya dari hulu sampai ke hilirnya. Butuh solusi berupa kebijakan yang menuntaskan masalah hingga ke akarnya.


*Sudut Pandang Islam*

Secara jelas Allah Swt. berfirman, _“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya…”_ (QS. Al-A’araf:56). Dan sabda nabi Saw. _“Kebersihan sebagian dari Iman”_ (HR. Tirmidzi)


Dari kedua dalil tersebut kita dapat mempelajari bahwa Islam mengajarkan pentingnya menjaga alam dan senantiasa menjaga kebersihan. Perilaku yang berpotensi merusak lingkungan harus dijauhi. 


Dalam aspek individu penting untuk tidak boros melakukan pembelian jika bukan karena kebutuhan, meminimalis sampah dari kegiatan konsumerisme dan hedonisme. Tiap individu perlu mempelajari dan mengamalkan proses pemilahan sampah organik dan anorganik, mengurangi pemakaian plastik, serta tidak mengakhirkan sampah dengan membakar karena menyebabkan emisi gas rumah kaca.


Sedangkan pihak pemerintah menggalakkan edukasi mengenai pola hidup hemat kepada masyarakat, membuat aturan kepada para produsen untuk mengubah desain kemasan dari sekali pakai menjadi isi ulang, kemasan yang didaur ulang tidak berbahaya. Pemerintah juga perlu menghapus teknologi pembakaran sampah dan melakukan langkah untuk pengomposan sampah domestik.


Islam tidak melarang seseorang memiliki barang tertentu, tetapi Islam juga memiliki kacamata bagaimana seharusnya manusia bertindak, bagaimana manusia memperhatikan keadaan liangkungan dengan landasan iman yang teguh. _Wallahu’alam bissawab._

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update