Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Komoditas Merica Melonjak, akibat Kapitalisme

Friday, July 11, 2025 | Friday, July 11, 2025 WIB
Harga Komoditas Merica Melonjak, akibat Kapitalisme

Penulis: Ummu Marsa

 (Pejuang Dakwah)


Komoditas rempah merica butiran di tingkat pedagang pasar Sumpiuh mengalami lonjakan harga yang signifikan sejak beberapa minggu ini. Hal ini menyebabkan salah satu lapak pedagang, tidak menyediakan merica butiran untuk sementara waktu karena harga sedang mahal (Minggu 4/5/2025 radar banyumas). 


Penyebab kenaikan harga merica ini,  tidak diketahui kepastiannya namun kemungkinkan karena terjadi kelangkaan. Sebagian konsumen akhirnya beralih ke merica bubuk, sehingga permintaan pasar terhadap merica butiran menurun.


Kejadian ini terjadi juga dibeberapa pasar lainnya, seperti pasar manis, purwokerto harga merica naik signifikan, bahkan Mencapai Rp. 200.000 per kilogram. Harga ini jauh lebih tinggi dari harga normal yang berkisar Antara Rp. 140.000 hingga Rp. 150.000 per kilogram.


Kenaikan harga yang terjadi lebih dari seminggu terakhir membuat banyak pedagang merasakan dampaknya, terutama dalam hal penurunan jumlah pembelian, bahkan banyak konsumen yang enggan membeli merica dalam jumlah besar, dan beralih ke merica bubuk kemasan, yang harganya lebih terjangkau. Beberapa konsumen juga memilih untuk menunggu harga kembali stabil sebelum membeli lebih banyak. 


Dinperindag, Retno Wulandari mengatakan meskipun harga merica saat ini lebih tinggi dari biasanya, merica memiliki banyak substitusi, seperti bahan bumbu lain yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Beliau juga mengatakan akan terus memonitor perkembangan dan pasokan merica serta menyarankan agar konsumen yang terpengaruh oleh kenaikan harga merica untuk mempertimbangkan alternative bahan bumbu lain yang lebih terjangkau, imbuhnya.


Sementara itu pedagang dan konsumen sama - sama berharap agar musim panen yang diperkirakan akan datang pada Agustus hingga September akan mengembalikan harga merica ke level yang lebih stabil. Maka berharap harga merica segera turun agar bisa menjual dengan volume lebih besar dan tidak mengalami rugi lebih lanjut. 


Ironi dinegeri yang kaya akan rempah-rempah, dijajah oleh orangnya sendiri, miris. Rempah-rempah dinegeri kita terkenal sejak abad ke-7 Masehi, terdapat bukti-bukti arkeologis dan sejarah yang menunjukkan bahwa rempah-rempah Indonesia diperdagangkan sejak abad ke-7 Masehi dan bahkan lebih awal. 

Bahkan sejarah mencatat, Indonesia menjadi pelayaran dan perdagangan dari Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Barat menuju Nusantara. 

Tetapi untuk spesifik rempah-rempah (Lada) dikenal sejak abad ke-15 di Indonesia, dan diperdagangkan sejak abad ke-16. Lada sudah dibudidayakan sejak Lama, dan mulai dikenal di Yunani pada abad ke-4 sebelum masehi.


Sejarah Lada di Indonesia, dalam buku Made Astawan menuliskan bahwa lada di Indonesia mulai berkembang sejak abad ke-16. Tanaman ini dibawa oleh bangsa Portugis yang saat itu menjajah Indonesia. Sementara, dalam buku"Per dagangan Lada Abad XVII" karya P. Swantoro terbitan kepustakaan populer Gramedia disebutkan bahwa Lada Nusantara mulai diberitakan pada abad ke-15 oleh penulis Tionghoa. Meskipun begitu, keramaian perdagangan lada di Nusantara meningkat pada abad ke-16. Sejak saat itu lada menjadi rempah yang banyak dicari. Bahkan pada abad ke-17, mulai banyak Negara yang menginginkan lada Indonesia. Tanaman lada dapat tumbuh baik didaerah tropis. Oleh karenanya wajar bila saat itu tanaman ini dibawa dan ditanam ditanah Indonesia. Indonesia merupakan negara penghasil lada terbesar ke-2 didunia setelah Vietnam. (Sumber food and Agriculture Organization (FAO), Badan pusat Statistik (BPS), dan jurnal ekonomi pertanian dan Agribisnis. 


Maka dalam sistem kapitalisme ini, semua cara digunakan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan rakyat, kususnya pedagang Kecil, sehingga rakyat banyak dirugikan, seperti yang terjadi saat ini bagi pedagang merica. 


Problem yang merusak pada sistem sekarang ini adalah, 

- Mekanisme yang tidak adil dan adanya penyimpangan. 

Inti dari perdagangan adalah pertemuan antara penawaran (supply) dan pihak pedagang dan permintaan dari pihak pembeli.


-Mekanisme perdagangan tidak ada masalah jika proses jual beli berlangsung secara adil. 

Fakta yang ada didalam mekanisme pasar bebas, proses perdagangan selalu mengalami problem yang besar yaitu terjadinya distorsi pasar. Sehingga muncul pihak-pihak yang terdholimi dan mendzolimi. 

Islam mengajarkan perdagangan secara adil, distorsi terjadi karena adanya nafsu serakah untuk memperoleh keuntungan yang besar dalam 

perdagangan, dari pihak pembeli atau penjual. Sedangkan dalam Islam, mengatur Dua pihak, yaitu pembeli dan penjual. Distorsi pasar terjadi jika pihak yang ingin menguasai pasar dan menutup peluang dari pelaku-pelaku pasar yang lain untuk masuk kedalamnya. Perilaku ini dikenal dengan istilah monopoli pasar (termasuk oligopoli), yaitu jika ada pihak tertentu yang ingin menguasai dan mengendalikan perdagangan yang ada dipasar.


Jika ditelusuri akar masalahnya, tentu akan bermuara pada satu unsur yaitu penipuan atau kecurangan. Dan bila didukung oleh modal besar, tentu hasil akan lebih membahayakan lagi, hal ini mengacu pada pemikiran kapitalisme. 

Perdagangan yang adil dapat terjadi apabila proses tawar menawar antara penjual dan pembeli dapat berlangsung secara sempurna, yaitu tidak adanya unsur penipuan, rekayasa dalam permintaan, penawaran, pasokan barang, tekanan dan keterpaksaan dan sebagainya dari ke-2 belah pihak. 


Untuk itu agar perdagangan dapat berjalan dengan adil, maka penataan yang perlu dilakukan adalah:


1.Peran negara. 

(Adanya larangan tas'ir, oprasi pasar, tidak boleh ada pungutan pajak, tidak ada Riba) 

2.Peran Qodhi Muhtasib. 

a. Mengontrol penjual dan pembeli. 

b. Mengontrol penjual

c. Mengontrol pembeli. 

Dengan adanya aturan Islam sesuai syari'at, pedagang akan sejahtera. 

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update