Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

*Raja Ampat Butuh Perlindungan, Bukan Tambang* oleh : Ummu Hamizan

Sunday, June 15, 2025 | Sunday, June 15, 2025 WIB Last Updated 2025-06-15T11:17:16Z


 

Raja Ampat kembali menjadi perbincangan publik, bukan karena keindahan surgawi bawah lautnya, melainkan karena luka ekologis yang menganga akibat tambang nikel. dilansir dari detik.com Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara operasional tambang tersebut. Keputusan ini diambil setelah gelombang kritik datang dari berbagai kalangan, baik dalam negeri maupun dunia internasional, yang menilai aktivitas tambang tersebut telah merusak lingkungan secara serius.


Raja Ampat bukan sekadar wilayah geografis biasa. Ia adalah rumah bagi ribuan spesies laut yang langka dan dilindungi, serta menjadi pusat keanekaragaman hayati dunia. Penambangan nikel yang dilakukan di wilayah ini bukan hanya mengancam keberlangsungan ekosistem lokal, tetapi juga mengabaikan undang-undang pelestarian lingkungan hidup yang berlaku. Mirisnya, hukum yang ada pun bisa ditabrak jika berhadapan dengan kekuatan modal.


Fakta ini menunjukkan betapa dominannya kepentingan pemilik modal dalam sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, keuntungan finansial menjadi panglima, sementara keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan rakyat berada di urutan paling akhir. Bahkan, undang-undang yang dibuat negara sendiri bisa dengan mudah diabaikan jika bertentangan dengan kepentingan para pengusaha besar.


Islam hadir dengan paradigma yang berbeda. Dalam pandangan Islam, sumber daya alam,seperti tambang nikel, emas, minyak, dan lainnya adalah milik umum. Negara tidak berhak menyerahkannya kepada swasta, apalagi asing, karena hasilnya adalah hak rakyat. Negara bertindak sebagai pengelola, bukan pemilik. Pengelolaan pun harus dilakukan dengan penuh amanah dan berorientasi pada kemaslahatan umat, bukan keuntungan semata.


Selain itu, Islam menetapkan bahwa menjaga lingkungan dan keseimbangan ekosistem adalah kewajiban. Dalam Al-Qur'an, kerusakan di daratan dan lautan dikaitkan langsung dengan ulah tangan manusia. Maka tidak heran jika Islam memberi perhatian besar pada pelestarian lingkungan. Kerusakan ekologis seperti yang terjadi di Raja Ampat bukan hanya masalah kebijakan, tapi juga pelanggaran terhadap amanah ilahi.


Dalam sistem Islam, terdapat konsep "hima", yaitu wilayah yang dilindungi dari eksploitasi berlebihan untuk menjaga keberlangsungan ekosistem. Hima bisa berupa kawasan hutan, padang rumput, atau wilayah perairan yang dilarang dimanfaatkan sembarangan. Ini adalah bentuk proteksi yang sangat relevan dengan kondisi saat ini, saat eksplorasi sumber daya alam tak terkendali membawa bencana ekologis.


Konsep hima membuktikan bahwa Islam tidak sekadar hadir dengan nilai-nilai spiritual, tetapi juga menawarkan kebijakan konkret dalam menjaga kelestarian alam. Dalam Sistem Islam, pemimpin tidak bisa sembarangan memberikan izin eksplorasi kepada siapa pun. Setiap kebijakan harus tunduk pada syariat, termasuk dalam hal pengelolaan sumber daya alam.


Pemimpin dalam sistem Islam adalah raain, yakni pengurus urusan umat. Ia tidak berhak menjadikan alam sebagai komoditas untuk memenuhi kepentingan investor, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga. Pengelolaan tambang dan sumber daya alam lainnya akan dilakukan secara terpusat oleh negara, dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan publik yang merata.


Dengan model kepemimpinan seperti ini, tidak akan ada lagi kasus seperti di Raja Ampat, di mana kepentingan bisnis mengorbankan keberlangsungan lingkungan dan mengkhianati kepentingan masyarakat lokal. Negara Islam akan berdiri di depan untuk melindungi alam, karena ia memahami bahwa rusaknya lingkungan berarti rusaknya kehidupan manusia itu sendiri.


Islam tidak menolak pemanfaatan sumber daya alam. Namun, Islam memastikan bahwa pemanfaatan itu tidak merusak. Ada batasan, ada etika, dan yang paling penting, ada pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Karena bumi ini adalah titipan, bukan milik pribadi yang bisa dieksploitasi sesuka hati.


Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa sistem yang lahir bukan dari aturan Allah swt. tidak akan pernah membawa keberkahan bagi manusia maupun alam. Solusi sejati hanya akan lahir dari penerapan syariat Islam secara universal dan menyeleuruh, yang akan menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Hanya dengan sistem Islamlah, alam akan diperlakukan sebagaimana mestinya yaitu sebagai amanah, bukan objek eksploitasi. Wallahu'alam bii shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update