Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Persatuan Umat dalam Bayang –Bayang Nasionalisme

Monday, June 23, 2025 | Monday, June 23, 2025 WIB



Oleh : Seni Rosdiana

(Kontributor Pena Cemerlang)


Setiap tahun jutaan umat muslim dari seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia berkumpul di Tanah Suci. Mereka datang dengan berbagai macam ras, budaya, suku, bangsa bahkan mahzab, namun mereka mengenakan pakaian yang sama yaitu kain ihram dan mereka menjalankan ritual ibadah yang sama dengan tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di Padang Arafah dan Masjidil Haram kita menyaksikan salah satu simbol persatuan umat islam yang paling nyata. Tahun ini di Indonesia tidak ada perbedaan idul adha seperti tahun-tahun sebelumnya,  idul adha tahun ini khusunya di Indonesia dirayakan serempak pada 6 Juni 2025 tapi untuk dibelahan negara lain faktanya masih terdapat perbedaan untuk merayakan hari raya idul adha. 


MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura) yang telah berdiri sejak 1988 bertujuan untuk menyatukan penentuan awal bulan hijriah, khususnya Idul fitri dan Idul adha, guna untuk memperkuat solidaritas umat Islam di Asia Tenggara. Namun, perbedaan penetapan idul adha 1446 H antara Indonesia dan Malaysia mengalami perbedaan, Indonesia menetapkan 6 Juni dan Malaysia pada 7 Juni. Hal ini menunjukan kelemahan organisasi ini. (https://www.suaramuhammadiyah.id) 


Sejatinya persatuan umat islam disatukan oleh akidah Islam bukan dilihat dari kesamaan etnis dan budaya serta menghapus segala perbedaan duniawi. Moment idul adha semestinya dijadikan sebagai momentum persatuan umat karena pada saat idul adha adalah moment berkumpulnya umat islam dari seluruh penjuru dunia jangan hanya terikat oleh sekat nasionalisme yang menyebabkan perpecahan umat islam. 


Perpecahan antara Identitas Nasionalisme.


Nasionalisme mengedepankan identitas nasional (misalnya Indonesia, Arab, Turki, Mesir) nasionalisme sering memperkuat konflik antar negara muslim. Alih-alih bersatu sebagai umat islam global, namun masing-masing negara lebih mementingkan kepentingan nasionalnya. Termasuk dalam perbedaan penentuan Hari Raya, perbedaan ini tidak hanya bersumber dari metode rukyat atau hisab, tetapi dipengaruhi oleh sekat nasionalisme antar Negara. Karena setiap negara memiliki otoritas keagamaan sendiri untuk menentukan awal bulan hijriyah, seperti Indonesia otoritas keagamaan nya Kementrian Agama melalui sidang isbat, Arab Saudi otoritas kegamaannya Mahkamah Agung Saudi dan Malaysia ada Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) sebagai otoritas keagamaannya. Maka dari itu hari raya ditentukan berdasarkan batas negara, bukan dari keputusan umat islam global.  Hal yang paling mencolok dari dampak sekat nasionalisme terjadi pada penentuan Idul Adha, yang seharusnya merujuk pada waktu wukuf di Arafah di Arab Saudi  (9 Dzulhijjah) tetapi beberapa negara secara sadar memilih tidak mengikuti keputusan Arab Saudi meskipun Arab Saudi memiliki posisi geografis penting karena disanaterletk lokasi Ka’bah. Karena masing-masing negara menetapkan tanggal Dzulhijjah secara lokal maka Idul adha bisa berbeda di dunia Islam 1-2 hari. Konsekuensi dari adanya sekat nasionalisme ini menimbulkan kebingungan dan perpecahan dikalangan umat islam serta menurunnya rasa kebersamaan umat Islam secara global. Allah SWT berfirman “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan,lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali –Imran : 103)


Islam, Agama yang Universal.


Islam hadir sebagai agama yang universal, tidak terikat oleh batas negara, Itu artinya umat islam seharusnya bisa merayakan hari raya secara serentak tanpa adanya batas geografis atau batas negara karena Islam mengajarkan Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan sesama Muslim) yang melampaui batas-batas geografis. Persatuan sejati hanya dapat terwujud dalam institusi politik Islam global, yang menyatukan  tujuan yang sama. Walaupun masih menjadi pertanyaan apakah persatuan umat hanya sekedar simbol ritual semata atau adakah sistem yang pernah menyatukan umat dalam sejarah islam dan mampu menjadi solusi untuk permasalahan saat ini? Jawabannya sudah tentu ada yaitu Islam kaffah. Islam Kaffah dalam Islam adalah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari ekonomi, budaya, sosial, pendidikan termasuk didalam mengatur sistem politik yang mampu menjadi pemersatu umat diberbagai wilayah, bangsa dan suku dalam satu entitas politik, hukum dan peradaban islam. Dalam sejarah Islam dibawah naungan khilafah umat islam Andalusia hingga Asia Tengah hidup dalam hukum islam, dari mulai Ilmu, ekonomi, dakwah Islam berkembang karena stabilitas dan kesatuan politik. Maka dari itu Khilafah hadir sebagai institusi persatuan umat, yang menyatukan umat dalam satu kepemimpinan global berbasis syariah, serta menjadi penyambung lidah dan pelindung umat. Khilafah menelesaikan permaslahan umat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.

Moment Idul adha mengajarkan kita pada ketaatan yang mutlak hanya kepada Allah SWT dan seharusnya dengan moment ini mendorong umat muslim untuk patuh pada syariat islam, bukan hanya pada aspek ritul semata tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sehingga persatuan umat dapat terwujud secara hakiki.


Wallahu a’lam bish-shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update