Oleh : Siti Saadah (Ibu Rumah Tangga)
Di tengah duka yang belum kunjung berakhir di Gaza, dimana anak-anak syahid, rumah-rumah di hujani rudal, dan para ayah menggendong jenazah dengan tangis yang tertahan, dan sebuah pernyataan dari pemimpin negeri mayoritas muslim ini sungguh membuat hati rakyat Palestina tercabik-cabik.
Dalam media online https/:www.cnnindonesia.com - Presiden Prabowo Subianto membuat pernyataan mengejutkan saat melakukan Konferensi Pers bersama Presiden Prancis Emmanuel Marcon di istana Merdeka, Rabu (28/5/2025).
Prabowo menyampaikan Indonesia siap menjalin hubungan diplomatik dengan Israel begitu negara Palestina diakui oleh Negeri Zionis.
Ucapan Prabowo menjadi sorotan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebab, selama ini Indonesia menolak mentah-mentah isu menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Presiden sebelumnya bahkan dengan lantang menolak untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel sesuai amanah konstitusi dan konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955.
Presiden pertama RI, Soekarno, bahkan terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina di berbagai misi perdamaian. Soakarno menentang keras kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan Israel terhadap Palestina.
"Indonesia siap mengakui Israel sebagai negara yang berdaulat, asalkan Israel juga mengakui Palestina."
Sebuah kalimat yang terdengar seperti diplomasi, namun sejatinya adalah pengkhianatan. Seolah membela Palestina, padahal dengan terang-terangan menusukkan belati ke punggung saudaranya sendiri.
Pernyataan ini menyakitkan bukan hanya bagi rakyat Gaza, tapi bagi seluruh umat Islam yang masih memiliki iman dan rasa peduli terhadap tanah yang diberkahi. Tanah Palestina bukan sekedar konflik geopolitik. Ia adalah tanah wakaf umat Islam. Sejengkal pun tak boleh diserahkan kepada kafir penjajah, apalagi dilegalkan dengan pengakuan kenegaraan.
Beginilah penguasa dalam sekuler nasionalis. Mereka memandang konflik Palestina dengan kacamata politik semata, tanpa ruh keimanan tanpa pandangan historis kaum muslim. Mereka lupa bahwa Palestina adalah amanah bukan isu diplomatik.
Berbeda dengan para pemimpin Islam terdahulu. Seperti Shalahuddin al-ayyubi. Ia tidak sibuk mencari titik tengah atau solusi dua negara. Ia justru berjuang seumur hidupnya untuk membebaskan Yerusalem pada 1187 M, ia tidak membalas dengan kebiadaban. Ia menghormati hak-hak non-muslim, namun tidak pernah ia izinkan penjajah menginjakkan kaki sebagai pemilik tanah itu.
Begitu pula Sultan Abdul Hamid II, khalifah terakhir yang memiliki kekuasaan penuh atas Palestina. Ketika Theodor Herzl datang menawarkan emas berton-ton untuk membeli tanah Palestina, sang khalifah menjawab dengan tegas:
"Aku tidak akan menjual satu inci pun dari tanah ini, karena ia bukan milikku melainkan milik umat Islam. "
Itulah kalimat seorang pemimpin sejati. Ia tak butuh validasi negara lain, apalagi pengakuan dunia Barat. Ia tahu bahwa tanah Palestina adalah bagian dari Islam, dan penjagaannya adalah bagian dari keimanan.
Saat dunia Islam hari ini berada dalam kondisi terpecah, dan umat disuguhi ilusi perdamaian melalui kompromi busuk. Kita harus terus menyeruakan : Tidak ada pengakuan terhadap penjajah! Tidak ada Palestina berdampingan dengan Israel, karena Israel tidak pernah punya hak atas tanah itu!
Kita tidak boleh diam, kita harus menolak dengan keras segala bentuk normalisasi dan pengkhianatan terhadap Palestina. Dan kita menanti dengan keyakinan penuh akan datangnya kembali kepemimpinan Islam sejati, yang akan menyatukan barisan kaum muslim dan membebaskan Palestina dengan Izzah dan kekuatan. Sesungguhnya tanah itu menunggu pembebasan, bukan perundingan.
Wallahu'alam bish-shawwab

No comments:
Post a Comment