Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina dan Matinya Rasa Kemanusiaan

Sunday, June 15, 2025 | Sunday, June 15, 2025 WIB

 Oleh: Ummu Zhia 

Hari raya Iduladha 1446 H seharusnya menjadi momen pengingat akan pengorbanan dan kasih sayang. Namun di Gaza, yang terdengar hanyalah dentuman bom, jeritan ibu kehilangan anak, dan tangis bayi yang sekarat tanpa makanan. Di hari suci itu, setidaknya 17 warga sipil Palestina gugur akibat serangan Israel. Bahkan, akses ke pusat distribusi bantuan pun ditutup secara sepihak, menjadikan kelaparan sebagai senjata pemusnah massal paling senyap.

Ini bukan lagi konflik. Ini genosida terbuka, yang menargetkan anak-anak, perempuan, dan warga sipil tanpa ampun. Di mata Zionis Yahudi, satu-satunya "kesalahan" mereka adalah karena mereka Muslim, dan karena mereka lahir sebagai warga Palestina.

Namun yang lebih menyakitkan dari dentuman bom adalah diamnya dunia. Negara-negara besar tak lebih dari komentator pasif, membiarkan genosida berlangsung di hadapan kamera dan media. Penguasa negeri-negeri Muslim pun tak jauh berbeda. Mereka sibuk dengan retorika dan pernyataan diplomatik yang sudah basi, tetapi tak satu pun menggerakkan pasukan untuk mengusir penjajah dan membebaskan tanah suci itu.

Kita sedang menyaksikan matinya rasa kemanusiaan secara global. Sebuah ironi di tengah peradaban yang mengaku modern dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Tapi, sesungguhnya inilah wajah asli sistem kapitalisme global: sistem yang menjadikan materi sebagai nilai tertinggi, dan mengukur segalanya dengan kepentingan politik dan ekonomi.

Kapitalisme tidak memiliki tempat bagi empati, apalagi keadilan. Nasionalisme pun menjadikan umat Islam terpecah, sehingga penguasa negeri-negeri Muslim lebih loyal pada batas geopolitik warisan kolonial ketimbang pada penderitaan saudara seimannya di Gaza. Padahal setiap tetes darah anak Palestina seharusnya mengoyak nurani dan membangkitkan seruan jihad.

Namun, jihad tak akan pernah lahir dari sistem negara bangsa hari ini. Sebab para penguasanya justru bersekutu dengan penjajah Yahudi, menjalin perjanjian dagang, keamanan, dan teknologi. Mereka lebih takut kehilangan legitimasi dari Barat daripada kehilangan kehormatan di hadapan Allah.

Dalam sejarah Islam, jihad membebaskan Palestina hanya mungkin terjadi saat kekuasaan Islam—Khilafah—berdiri tegak. Hanya dalam naungan Khilafah, jihad bukan tindakan sporadis, tapi kebijakan negara yang sah, terukur, dan didukung penuh oleh kekuatan umat.

Maka solusi hakiki atas tragedi ini bukan sebatas kecaman atau bantuan kemanusiaan, melainkan penegakan kembali kepemimpinan Islam global, Khilafah, yang akan memobilisasi kekuatan umat, mempersatukan negeri-negeri Muslim, dan membebaskan tanah suci Palestina hingga ke Masjidil Aqsha.

Tegaknya Khilafah tak akan lahir dari mimpi atau harapan kosong. Ia hanya mungkin terwujud jika ada jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan perubahan, membangun kesadaran politik umat, dan mengarahkan perjuangan pada jalan kenabian. Jamaah ini harus bersih dari kompromi, teguh dalam ideologinya, dan tak lelah membimbing umat menjemput Nashrullah.

Hari ini, seruan itu telah sampai. Tinggal kita, umat Islam, mau menjawabnya atau tetap diam, sementara bayi-bayi Gaza mati di pelukan ibunya

 “Dan sekiranya mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan.”(QS. Al-Anfal: 72)

Wallahua'lambishowwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update