Oom Rohmawati
Pegiat Literas
Banyak anak sekolah yang terlibat tawuran, dan menjadi kriminal, membuat sebagian orang tua memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren, dengan harapan agar anak berakhlak mulia. Sementara pihak pemerintah daerah memberikan Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, yang dihadiri langsung oleh Nisya Ahmad selaku anggota DPRD. Acara diselenggarakan di Yayasan Addzimat yang ada di kota Bandung. Dalam pidatonya Nisya menyampaikan kalau pendidikan adalah hak semua warga, termasuk para santri. Ia menekankan bahwa santri harus menjadi garda terdepan untuk menjaga moral bangsa. (TribunJabat,17/05/2025)
Pesantren. sejatinya adalah lembaga pendidikan Islam yang fokus untuk mencetak para santrinya menjadi manusia yang fakih fiddin sebagai pewaris Nabi. Membangun karakter yang memiliki Akhlakul karimah serta siap menjadi kader-kader dakwah yang kepribadian dan memahami Islam secara keseluruhan. Menyampaikan kebenaran kepada umat dengan akidah dan syariat yang utuh, dan menyeluruh sampai ke seluruh pelosok negeri hingga ke penjuru dunia.
Di negara yang mayoritas penduduknya muslim terbesar di dunia, membentuk siswa/siswi yang berakhlak mulia harus menjadi target bagi setiap lembaga pendidikan, tidak hanya di pondok-pondok pesantren saja. Bahkan tidak hanya di sekolah, tapi lingkungan masyarakat pun mampu membentuk karakter syakhshiyyah Islamiyah (berkepribadian Islam) pada umat. Yaitu membentuk al'aqliyah (pola pikir) dan an-Nafsiyyah (pola sikap) yang islami).
Namun faktanya masyarakat termasuk anak-anak usia sekolah menunjukkan sikap sebaliknya, mereka memiliki akhlak mazmumah (buruk/tercela). Mental dan moral mereka rusak hingga melakukan berbagai kemaksiatan seperti, pergaulan bebas, tawuran, miras, narkoba, perzinahan sampai pembunuhan dilakukan oleh anak yang masih di bangku sekolah. Mirisnya lagi tidak sedikit anak didik yang melakukan kriminalisasi gurunya, gara-gara diberi teguran atau sanksi. Seperti yang menimpa Supriyani, salah satunya guru honorer di kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara. Ia sempat menjadi terdakwa dengan tuduhan melakukan pemukulan terhadap siswa, meski akhirnya divonis bebas oleh Majelis Hakim. (kompas.com25/11/2024)
Fenomena di atas menunjukkan potret buram dunia pendidikan. Banyaknya siswa/siswi yang kehilangan jati dirinya sebagai pelajar, mereka tidak mampu memahami apa tujuan hidupnya. Hal itu tidak lepas dari peran sistem yang diterapkan saat ini yaitu sekuler kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan menilai kebahagiaan dengan capaian materi.
Padahal pendidikan merupakan persoalan vital dan strategis bagi negara. Dengan rusaknya pendidikan, maka rusak pula suatu negara. Faktanya pendidikan hari ini bukan ditujukan untuk membangun manusia-manusia yang beriman, bertakwa, dan berkepribadian Islam, tapi diciptakan untuk mengejar kebahagiaan dan kepuasan jasadiah atau materi semata. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nisya Ahmad bahwa santri harus menjadi garda terdepan, yang dalam pandangan kapiltalis tentu bisa berkontribusi dibidang ekonomi. Salah satu contohnya, pemerintah pernah meresmikan program Akselerasi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pesantren. Pengembangan ekonomi pesantren melalui penguatan kewirausahaan, lembaga keuangan mikro syariah, sektor riil, dan upaya ketahanan pangan bermuara pada kesejahteraan masyarakat pesantren. Sepintas tampak bagus, tetapi justru akan mencetak para santri sebagai buruh kapitalisme.
Jika demikian, apakah cita-cita mencetak para ulama bisa terwujud? Tentu tidak selama aturannya bukan dari sistem Islam. Pendidikan di dalam Islam, Rasulullah saw. sendiri telah mencontohkan. Bagaimana Beliau mengajarkan hukum-hukum Islam kepada kaum muslimin, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Beliau tidak membedakan antara laki-laki maupun perempuan dalam memberikan pendidikan dengan pedoman hidup yaitu aturannya dari Al-Qur'an dan as-Sunnah hingga mampu membentuk karakter syakhshiyyah(kepribadian), al'aqliyah(pola pikir) dan an-Nafsiyyah (pola sikap) al-Islamiyyahnya (yang islami) pada umat. Begitupun dengan ilmu pengetahuan umum (sains) Rasulullah saw. ajarkan. Salah satunya Beliau pernah mengirim dua orang sahabat Beliau yang dikirim ke Yaman untuk mempelajari tehnik membuat senjata, seperti dababah. Juga mendorong kaum muslimin untuk belajar membuat busur panah, tombak, berenang dan lainnya.
Begitupun dikalangan para ulama, sejarah telah mencatat para ilmuwan muslim yang ilmunya populer sampai sekarang. Di antaranya ada Ibnu Sina: yang dikenal sebagai bapak Kedokteran Modern., ada Al-Razi: Perintis Kimia dan Farmasi., Al-Farabi: Filsuf dan Ilmuwan Serba Bisa, Ibnu Haytham: Bapak Optik Modern, dan masih banyak lagi lainnya yang jadi bukti keberhasilan pendidikan ketika disandarkan pada Islam. Dengan mengenal para ilmuwan tadi tidak hanya memberi inspirasi tetapi juga menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama Islam berjalan beriringan.
Jadi negara dalam sistem pemerintahan Islam mampu membentuk iklim yang kondusif dalam proses pendidikan, baik di pondok pesantren maupun di luar pondok. Mampu melahirkan individu-individu yang berkepribadian Islam, bukan hanya santri. Maka sudah seharusnya negara melayani pengembangan pendidikan Islam dan menjamin generasi muslim untuk mempelajari Islam secara keseluruhan. Siap meperjuangan penegakkan Khilafah dengan optimal, karena Khilafah merupakan kebutuhan manusia yang dengannya Islam bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu 'alam bish-shawwab.
No comments:
Post a Comment