Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina dan Matinya Rasa Kemanusiaan

Friday, June 13, 2025 | Friday, June 13, 2025 WIB Last Updated 2025-06-13T03:33:54Z
#opini,#nusantaranews,#opininusantaranews


Oleh Ratna Sari Dewi


Otoritas militer Israel mengeluarkan larangan bagi warga Palestina di Jalur Gaza untuk mendekati pusat-pusat distribusi bantuan.


Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, dalam pernyataan di platform X, menyampaikan bahwa penutupan pusat distribusi dilakukan untuk keperluan renovasi, reorganisasi, dan peningkatan efisiensi. Demikian dilansir dari Antara.


Kejahatan Perang

Adraee juga mengimbau masyarakat Gaza agar mengikuti informasi resmi dari Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), penyelenggara program distribusi bahan makanan pokok di wilayah tersebut. Menurutnya, GHF telah mengumumkan bahwa pusat-pusat bantuan akan ditutup pada hari Rabu.


Ia menambahkan bahwa semua aktivitas menuju pusat distribusi maupun upaya memasuki area tersebut sangat dilarang karena dianggap berada di zona konflik.


Penutupan ini terjadi sehari setelah militer Israel dilaporkan menyerang sekelompok warga Palestina yang tengah menunggu bantuan di bundaran Al-Alam, Rafah, selatan Gaza. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 27 orang.


Lebih jauh, kantor media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sejak 27 Mei lalu, serangan-serangan Israel di sekitar pusat distribusi yang dikelola GHF dan didukung oleh Israel dan Amerika Serikat telah menyebabkan 102 kematian dan mencederai 490 warga lainnya.


Hingga hari ini Palestina masih menjadi sasaran genosida penjajah Zionis Yahudi, bahkan bayi=bayi yang masih merah yang tak memiliki dosa.  Bagi Zionis, dosa mereka adalah karena mereka bayi Muslim keturunan Palestina.  Zionis juga menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk membunuh  secara pelan-pelan generasi Palestina.  Bahkan di hari raya serangan pun tak berkurang

Mirisnya, negara-negara besar dunia diam.  Bahkan Penguasa muslim juga hanya sibuk retorika tanpa tindakan nyata dnegan mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah. Mereka diam meski rasa kemanusiaan terkoyak. Padahal rasa itu adalah rasa fitrah bagi manusia, untuki menolong sesamanya, apalagi bayi yang lemah tak berdaya

Matinya rasa kemanusiaan sesungguhnya menunjukkan matinya sifat dasar manusia.  Dan ini adalah buah kapitalisme yang mengagungkan nilai materi dan rasa superior disertai dengan kebencian atas manusia lainnya.


Kekejaman yang begitu rupa tak mengusik Nurani para pemimpin muslim.  Nasionalisme yang lahir dari Barat pun menghalangi untuk bersikap adil pada muslim palestina. Tak ada seorang penguasa negeri muslim pun yang membebaskannya dengan kekuatan senjata, meski umat sudah menyerukan jihad. 


Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Syamsu Rizal mengecam keras tindakan militer Israel yang menangkap dan menahan sejumlah aktivis kemanusiaan internasional yang berada di atas kapal Madleen, saat hendak menyalurkan bantuan ke Gaza, Palestina.


“Tindakan Israel tersebut sangat brutal, tidak berperikemanusiaan, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. Ini bukan hanya penahanan biasa ini adalah upaya sistematis untuk membungkam solidaritas kemanusiaan global terhadap penderitaan rakyat Gaza,” tegas Deng Ical, sapaan akrab Syamsu Rizal dalam keterangan resminya, Selasa (10/6/2025).


Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk mengatakan bahwa krisis kelaparan di Gaza pada dasarnya adalah konsekuensi dari keputusan yang dibuat oleh otoritas Israel. Sejak Juni 2007, Zion*s Yahudi melakukan blokade darat, laut, dan udara, yang menyebabkan Jalur Gaza menjadi penjara terbuka terbesar di dunia. Setelah Hamas melakukan Operasi Badai Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023, Zion*s Yahudi melanjutkan serangan brutal di Gaza, tempat sekitar 2,3 juta orang tinggal di salah satu wilayah terpadat di dunia. Zion*s Yahudi terus menggempur Gaza, sehingga mengakibatkan lebih dari 43.317 orang tewas, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, serta lebih dari 99.100 terluka, dan hampir seluruh penduduk Jalur Gaza mengungsi.


Zion*s Yahudi juga melakukan blokade total sejak 2 Maret dengan menutup penyeberangan Gaza, melarang masuknya makanan, air, listrik, dan bahan bakar. Tidak ada pasokan kemanusiaan maupun barang komersial yang dapat memasuki Gaza selama beberapa bulan. Ini adalah blokade terlama bagi bantuan untuk memasuki Gaza sejak dimulainya perang sehingga warga Gaza menghadapi masalah kesehatan dan ancaman kelaparan yang meluas.


Komisaris Tinggi HAM PBB menambahkan dan memperingatkan bahwa membuat warga sipil kelaparan sebagai cara peperangan adalah kejahatan perang. Israel menghadapi gugatan kasus genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di Gaza. Sebuah laporan keamanan pangan yang didukung PBB, yakni IPC (The Integrated Food Security Phase Classification), pada Kamis (17-10-2024) memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk Jalur Gaza akan menghadapi tingkat kelaparan darurat dalam beberapa bulan ke depan. Laporan terbaru dari ketentuan Tahap Ketahanan Pangan Terpadu memperkirakan 345.000 warga Palestina akan menghadapi bencana kelaparan tingkat bencana atau Tahap 5. Sebanyak 876.000 orang lainnya, atau 41% dari penduduk akan tertinggal satu langkah di belakang dalam Fase 4, yaitu Tingkat Darurat.


WFP pada Jumat (25-4-2025) mengumumkan stok makanan di Jalur Gaza telah habis karena Israel menutup pintu perbatasan untuk masuknya bantuan ke wilayah tersebut. WFP telah meminta kepada komunitas internasional untuk memberikan tekanan kepada Israel untuk mengangkat blokade.


WFP mengatakan bahwa bantuan penyelamat jiwa telah tersedia dan amat sangat dibutuhkan, tetapi truk-truk tidak bisa menuju Gaza. Lebih dari 116.000 ton metrik bantuan makanan, yang cukup untuk memberi makan 1 juta orang selama 4 bulan, sudah diposisikan untuk pengiriman segera setelah perbatasan dibuka kembali. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, hambatan birokrasi harus dilenyapkan dan hukum serta ketertiban harus dipulihkan agar badan-badan PBB dapat menyalurkan bantuan.


Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut situasi di Gaza saat ini sebagai “tidak manusiawi” yang mana hampir seluruh penduduk di Jalur Gaza mengalami kelaparan. WHO menyerukan akses segera untuk semua bantuan kemanusiaan, dimulai dengan makanan dan obat-obatan bagi anak-anak yang sangat kekurangan gizi yang memerlukan penanganan darurat. WHO memandang bahwa obat terbaik bagi masalah Gaza adalah perdamaian dan mereka terus menyerukan gencatan senjata.


Berbagai kecaman dan ancaman dari dunia internasional tersebut, ternyata tidak menyebabkan Zion*s Yahudi meredakan kebrutalan dan blokadenya, bahkan mereka makin sombong. Hal ini terjadi karena Zion*s Yahudi didukung habis-habisan oleh sang adidaya, Amerika Serikat dan sekutunya. Solusi-solusi yang ditawarkan, seperti evakuasi penduduk Gaza yang kelaparan, menggalang solidaritas internasional untuk menciptakan perdamaian dunia, hakikatnya adalah solusi yang makin mempertahankan penjajahan.


 

Solusi strategis ini berupa jihad, yaitu berperang dalam kerangka meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Jihad hakikatnya adalah menghilangkan penghalang fisik, berupa kekuatan negara dan militer, yang menghalangi manusia kenal dengan Allah sebagai Pencipta alam semesta beserta manusia dan kehidupannya, dan menghalangi manusia menerapkan aturan dari Allah Swt.. Zion*s Yahudi yang didukung oleh super power hari ini adalah kekuatan fisik yang menghalangi manusia mengenal Tuhannya dan tunduk patuh kepada Tuhannya.


Kekuatan politik yang hanya bersandar pada kekuatan akal manusia (sekuler) ini secara nyata sudah menimbulkan problem akut dunia, di berbagai tempat, dan di berbagai bidang kehidupan, sepanjang masa kekuasaan mereka. Jihad inilah yang akan mampu menghentikan kebiadaban, kebrutalan dan kesombongan kekuatan sekuler dan mewujudkan kehidupan yang manusiawi dengan tunduk patuh hanya kepada Al-Khalik, Allah Taala.


Hanya saja, jihad ini tidak bisa dilakukan secara individual maupun kelompok individu. Jihad yang efektif harus di bawah komando pemimpin negara super power baru, yaitu Khilafah Islamiah. Khilafah Islamiah merupakan kepemimpinan umum kaum muslim sedunia untuk menerapkan hukum Islam secara menyeluruh. Dengan hukum Islam inilah, khalifah sebagai pemimpin politik umat Islam, mengelola seluruh sumber daya yang dimiliki oleh umat Islam, baik sumber daya alam (dari teritorial) maupun sumber daya manusia (dari sisi penduduk), sehingga menjadi kekuatan yang tidak tertandingi. Umat Islam akan menjadi “khairu ummah”, sebaik-baik umat yang memimpin dunia menuju rahmatan lil alamin.

#opini,#nusantaranews,#opininusantaranews

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update