Aisyah Abdullah (Pegiat Literasi)
Indonesia terkenal dengan julukan zamrud khatulistiwanya. Ini karena Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Dengan kekayaan alam yang dimilikinya menjadikan Indonesia sebagai salah satu kategori negara terkaya di dunia dalam hal sumber daya mineral dan energi. Dari emas, batu bara, minyak bumi hingga nikel yang tersebar di berbagai wilayah yang ada di Indonesia. Dan baru-baru ini yang tengah menjadi sorotan publik setelah mencuatnya kabar Menteri ESDM menghentikan sementara operasional tambang nikel yang ada di wilayah Raja Ampat.
Sebagaimana dilansir dari detikfinance, Yuliot Tanjung Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan informasi terbaru soal penghentian sementara operasional PT Gag Nikel di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Dan sebelumnya telah disampaikan terlebih dahulu terkait penghentian tersebut oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Kementerian ESDM terus melakukan evaluasi terhadap izin tersebut. Meskipun dengan perizinan yang sebelumnya sudah dipenuhi oleh PT Gag Nikel maka perusahaan tetap bisa melakukan kegiatan operasionalnya. Ungkap Wakil Menteri ESDM (13/06/25).
Jika kita melihat, proses hilirisasi (penambangan) bukan hanya terjadi di wilayah Raja Ampat melainkan proses penambangan juga terdapat di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa tambang terbesar dan terpenting di Indonesia meliputi tambang batu bara di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, tambang emas di Papua, tambang timah di Bangka Belitung dan Riau, serta tambang tembaga di Papua dan Sulawesi.
Namun mengapa seolah yang turut menjadi perhatian publik bahkan beberapa selebriti hanya menyoroti tambang nikel yang ada di wilayah Raja Ampat? Sementara kerusakan alam dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas tambang juga terjadi pada aktivitas pengerukan tambang lainnya. Padahal dampak yang ditimbulkannya juga sama-sama merusak alam dan lingkungan. Ini masih menjadi tanda tanya yang masih menjadi misteri. Tampaknya seolah terjadi pilih kasih.
Yah tanpa dipungkiri bahwa Raja Ampat merupakan salah satu aset terpenting dan terakhir bagi Indonesia. Kita tahu bersama bahwa Raja Ampat salah satu wilayah yang kaya akan sumber daya alamnya bak surga duniawi. Bahkan seluruh mata dunia tergila-gila melihat dan ingin menguasai kekayaan alam yang dimiliki oleh wilayah Raja Ampat. Dengan adanya penambangan ini menjadi ancaman bagi keberlangsungan keanekaragaman hayati dan ekosistem wilayah setempat. Hal ini tentu berimbas menjadi ancaman bagi generasi mendatang.
Akan tetapi, masyarakat tidak boleh lupa dan menutup mata dengan perusahaan-perusahaan tambang yang ada di beberapa wilayah di Indonesia. Dimana aktivitas penambangan tersebut telah banyak membawa dampak buruk bagi alam bahkan terutama bagi rakyat.
Sistem Ekonomi Kapitalisme Biang Keladi
Larangan aktivitas penambangan pun tertuang dalam Undang-Undang tahun 2024 tentang larangan aktivitas pertambangan di pulau-pulau kecil. Namun UU tersebut bagaikan angin lalu yang tidak berarti bagi para perusahaan tambang.
Dan hal itu menjadi hal yang wajar saja terjadi. Ini karena Undang-Undang tersebut tak diindahkan. Bahkan ditabrak demi kerakusan elit-elit oligarki. Kenapa ini bisa terjadi? Sebab undangan-undang tersebut lahir dari sistem ekonomi kapitalisme sekularisme yang diterapkan negara Indonesia saat ini. Sistem ekonomi kapitalisme dengan asas kebebasan, salah satunya asas kebebasan berkepemilikan menjadikan siapapun yang memiliki modal bisa menguasai apapun untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya sekalipun harus mengorbankan alam dan rakyat. Oleh sebab itu, pelestarian lingkungan hanya menjadi omong kosong belaka jika negara masih menerapkan sistem ekonomi kapitalisme.
Solusi Tuntas Kepemimpinan Ala Islam
Dalam Islam pemimpin bertugas sebagai raa'in dan junnah. Aturan Islam pun telah memberikan batasan yang jelas agar kekayaaan alam beserta biodiversitas di setiap daerah itu khususnya Raja Ampat tetap terjaga kelestariannya.
Secara hakiki ekosistem hutan memiliki fungsi hidrologis, untuk memproduksi oksigen, aggregator tanah dan pencegahan terjadinya erosi. Sementara ekosistem laut secara hakiki berfungsi sebagai tempat tinggal jutaan spesies laut, pengatur iklim global dan salah satu sumber makanan manusia.
Oleh karenanya, agar fungsi ekosistem tersebut tidak hilang, tentu harus ada langkah konservasi alam, baik itu ekosistem hutan maupun laut.
Dan Islam memiliki konsep konservasi yang dikenal sebagai "hima" dimana praktek hika dilakukan pada harta milik umum yang diproduksi oleh negara. Negara Islam akan melakukan aktivitas pengelolaan (hima) pada ekosistem alam maupun laut semata-mata untuk kemaslahatan rakyat.
Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, dari Sha'bi bin Jutsamah yang berkata" tidak ada hima (proteksi) kecuali (hal itu) merupakan hak Allah dan Rasulnya (HR. Bukhari).
Rasulullah SAW pada saat beliau sebagai kepala negara di Madinah pernah melakukan hima dan para khalifah (pemimpin) setelah beliau juga mempraktekan hal yang sama. Seperti misalnya khalifah Abu Bakar pernah menghima rumput untuk menggembala unta-unta zakat.
Dan dalam Islam tambang merupakan milik umum haram hukumnya untuk dikuasai oleh swasta (pribadi) Rasulullah bersabda "Kaum muslim berserikat dalam tiga hal yaitu padang rumput, air dan api. (HR. Abu Dawud dan Ahmad). Untuk menjaga kelestarian alam Islam mengatur wilayah untuk dihina. Dan negara Islam tidak akan pernah memberi izin kepada swasta untuk untuk mengelola tambang.
Untuk Itu umat harus sadar bahwa Raja Ampat adalah warisan bukan wahana investasi. Jangan tunggu Raja Ampat jadi kenangan di walpaper HP. Raja Ampat harta bagi Indonesia khususnya bagi rakyat Papua. Jangan biarkan segelintir orang gila harta menguasai kekayaan alam Raja Ampat jika satu negara tidak ingin cuman dapat air mata.
Wallahu' a'lam

No comments:
Post a Comment