Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyongsong Kemenangan Palestina dengan Kekuatan Jihad dan Persatuan Umat Oleh: Rika Kamila, S. Ag

Sunday, June 15, 2025 | Sunday, June 15, 2025 WIB


 


Zionis Isr*el, apakah masih pantas disebut manusia? 

Isr*el adalah penjajah paling bengis yang pernah ada dalam sejarah. Misi utama untuk membumi hanguskan tanah Palestina terus dilakukan dengan naiknya eskalasi serangan waktu demi waktu. Tak hanya membun*h dengan senjata, ia pun membunuh dengan cara-cara tak manusiawi lainnya. Seperti, memblokade bantuan-bantuan kemanusiaan yang disalurkan oleh masyarakat Dunia demi menciptakan kelaparan di Gaza, Palestina. Bahkan yang memaksa mendekat posko bantuan, Isr*el menembak tanpa belas kasihan, menambah panjang deretan syahid-syahidah warga Gaza, Palestina. 

Seperti yang dilansir dalam beberapa berita yang bersumber dari kantor media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sejak 27 Mei lalu, serangan-serangan Israel di sekitar pusat distribusi yang dikelola GHF dan didukung oleh Israel dan Amerika Serikat telah menyebabkan 102 kematian dan mencederai 490 warga lainnya.

Sabtu (7/6/2025) dini hari waktu setempat, bertepatan dengan hari kedua perayaan Iduladha kemarin, sedikitnya 17 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia pada  imbas serangan udara dan tembakan militer Israel di wilayah selatan Jalur Gaza,  di daerah Khan Younis dan Rafah.

Pada akhirnya, tak ada waktu, tempat, dan suasana yang aman bagi rakyat Gaza, Palestina. 

Jalur perjuangan yang dirasa 'tepat' oleh masyarakat dunia adalah PBB, sudah tepatkah?

Terbaru, Dewan Keamanan PBB dianggap telah kehilangan kesempatan untuk menciptakan perdamaian di Jalur Gaza. Pasalnya, mereka tidak mengadopsi rancangan terbaru tentang gencatan senjata permanen di daerah Palestina tersebut. 

Draf resolusi tersebut telah diajukan oleh 10 anggota terpilih Dewan Keamanan PBB, didukung oleh 14 dari 15 anggota dewan. Sayangnya, Amerika Serikat (AS) yang memiliki hak veto, menolak draf resolusi tersebut.

Sikap Negara-Negara Muslim terhadap Palestina, Tak Berdaya?

Jumlah negara mayoritas muslim cukup besar dan memiliki kekuatan yang memumpuni. Namun, nyatanya potensi dukungan ini malah menambah kepedihan ketika tak satupun yang berani mengambil langkah nyata dan solutif bagi rakyat Gaza, Palestina. Negara-negara muslim hanya memiliki suara yang  sumbang, boikot yang tak maksimal, bantuan yang tak tembus. 

Dukungan masyarakat dunia dalam “Pawai Global ke Gaza” digaungkan, pawai damai menuju perlintasan Rafah yang dikuasai Israel di perbatasan Gaza dengan Mesir, mirisnya otoritas Mesir justru menahan dan mendeportasi puluhan demonstran. Lebih dari 200 orang telah diinterogasi dan ditahan di hotel atau bandara, sementara puluhan orang telah dideportasi, menurut laporan media lokal. 

Jelas, sikap negara muslim menjadi tanda bahwa pudarnya persuadaraan muslim yang seyogyanya memiliki ikatan yang kuat atas dasar aqidah Islam.

Para pemimpin muslim sudah seharusnya mengerahkan pasukan militer mereka, bukan sekadar melontarkan kecaman atau pernyataan prihatin atas krisis di sana. Hari demi hari rakyat Palestina mengalami situasi peperangan yang tidak jelas kapan usainya. Satu-satunya yang bisa menghentikan arogansi Yahudi hanyalah jihad fii sabilillah yang diinisiasi oleh negeri-negeri muslim secara global. Inilah yang akan menggentarkan musuh. Jelas, pengiriman pasukan militer sesungguhnya urgen dan sangat dibutuhkan oleh Palestina.

Perkara mendasar kaum muslim yang saat ini belum bergerak mengerahkan militernya untuk membebaskan Palestina adalah karena adanya perbedaan kepentingan dan ketakadaan visi yang sama. Demikian pula sikap politis negeri-negeri muslim—termasuk Indonesia—yang cenderung mengikuti narasi “perdamaian” dan “peperangan” sesuai perspektif Barat.

Prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif dan tidak memihak justru menunjukkan sikap yang tidak tegas atas genosida yang dilakukan entitas Yahudi. Apalagi, dalam pidato pelantikannya Prabowo menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia mengedepankan perdamaian dan keadilan sebagai refleksi atas prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif.

Indonesia harusnya memahami bahwa konsep perdamaian yang Barat tawarkan setelah Perang Dunia II bersifat elastis dan harus mengikuti standar damai ala Barat. Damai dalam perspektif Barat dimaknai tatkala umat Islam rida wilayah mereka dibagi dengan entitas Yahudi. Sebaliknya, konsep jihad yang seharusnya digelorakan negeri-negeri muslim dalam rangka membebaskan Palestina malah dimaknai sebagai tindakan teror yang jauh dari perdamaian.

Indonesia maupun negeri muslim lainnya pada hakikatnya sama. Sama-sama terjajah oleh narasi Barat dalam mencari solusi atas Palestina, yakni menjadikan perdamaian dunia sebagai jargonnya. Menjaga perdamaian dunia menurut paradigma Barat inilah yang wajib dianut oleh setiap negara yang tergabung dalam PBB yang dikendalikan AS. Sedangkan deklarasi perdamaian dunia adalah yang nyata-nyata memasung negeri-negeri muslim untuk menolong saudara seakidah mereka di Palestina.

Sudah selayaknya tindakan nyata untuk Palestina diiringi dengan kesadaran politis ideologis para petinggi kaum muslimin. Tanpa pengiriman pasukan, pembelaan hanyalah sekadar retorika. Apalagi Indonesia mendukung solusi dua negara yang berarti menyetujui tanah Palestina dirampok oleh entitas Yahudi. Dengan mendukung solusi dua negara, Palestina tetap tidak akan pernah merdeka sepenuhnya.

Solusi Tuntas: Persatuan Umat dan Jihad fii Sabilillah

Jihad yang dimaknai sebagai tindakan teror sesungguhnya adalah solusi untuk Palestina saat ini. Permasalahannya, kaum muslim hari ini enggan berada pada visi yang sama. Kondisi ini makin buruk karena mereka terpenjara dalam ego nasionalisme mereka. Sedangkan sudah seharusnya negeri-negeri muslim bersatu dan menanggalkan kepentingan mereka masing-masing.

Jika kita telusuri sejarah, negeri-negeri muslim sejatinya adalah satu kesatuan wilayah dalam naungan Khilafah Islamiah. Penjajah kafir yang sangat berhasrat untuk meruntuhkan peradaban Islam saat itu berupaya untuk melemahkan kaum muslim secara internal. Mereka menghembuskan ide nasionalisme, melakukan politik belah bambu di antara umat Islam melalui isu Pan-Islamisme dan Pan-Arabisme, hingga umat lupa dengan persatuan akidah.

Walhasil, setelah negeri-negeri muslim mengadopsi ide nasionalisme dalam kerangka “kemerdekaan semu” dari penjajah, pada saat yang sama Khilafah diruntuhkan oleh antek-antek Yahudi. Selanjutnya, kaum muslim pun hidup dalam perasaan emosional geografis mereka masing-masing. Momen inilah yang memberi ruang bagi entitas Yahudi laknatullah untuk merangsek masuk menguasai Palestina, bahkan bebas melakukan genosida pada rakyat Palestina hingga hari ini.

Ini menunjukkan bahwa jihad dan persatuan umat Islam dalam kesatuan negara Islam (Khilafah) adalah solusi urgen bagi Palestina. Inilah yang harus dipahami umat Islam, termasuk para pemimpin negeri muslim. Jihad dan Khilafah adalah agenda utama umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan Palestina juga negeri-negeri muslim dari hegemoni kapitalisme.


Wallahu alam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update