Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Idul Adha dan Makna Ketaatan Hakiki

Thursday, June 19, 2025 | Thursday, June 19, 2025 WIB







Oleh. Rifa Syifa

Mahasiswi


Momen Iduladha bukan sekedar menyembelih hewan kurban dan menikmati daging bersama keluarga. Lebih dari itu, Iduladha adalah momen yang penting untuk mengingat kembali arti sesungguhnya dari ketaatan dan pengorbanan. 


Kisah Nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as bukanlah kisah biasa. Di dalamnya terkandung pelajaran tentang apa itu arti ketaatan yang sesungguhnya. Beliau rela meninggalkan keluarganya di tempat yang tandus dan bahkan siap mengorbankan anaknya demi ketaatan kepada Allah. Keteguhan hati dan keimanannya begitu luar biasa, sebagaimana tergambar dalam firman Allah:


"Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'" (QS. Ash-Shaffat: 99)

"'Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang saleh.'" (QS. Ash-Shaffat: 100)

"Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).” (QS. Ash-Shaffat: 101)

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimanakah pendapatmu?' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyā Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat: 102)


Ini bukanlah kisah biasa. Ini adalah contoh nyata dari seorang hamba yang sepenuhnya taat dalam menjalankan perintah Allah, tanpa banyak tanya, dan tanpa memperhitungkan untung dan rugi.


Kalau kita lihat diri sendiri, seberapa besar sebenarnya ketaatan kita kepada Allah? Apakah selama ini kita sudah benar-benar menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh, atau justru hanya fokus pada ibadah-ibadah tertentu seperti salat dan puasa? Seringkali kita merasa sudah cukup taat hanya karena tidak meninggalkan rutinitas ibadah, padahal nilai-nilai Islam juga harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam dalam cara kita bekerja, bersikap jujur, memperlakukan orang lain dengan adil, hingga dalam mengambil keputusan dalam urusan ekonomi dan sosial. Ketaatan bukan hanya tentang ibadah yang langsung ditujukan kepada Allah, tetapi juga tentang bagaimana kita menerapkan nilai-nilai Islam dalam interaksi kita dengan sesama manusia dan dalam setiap peran yang kita jalani di kehidupan sehari-hari.


Banyak dari kita yang masih menjalankan ajaran Islam secara pilih-pilih. Kita cenderung lebih suka menjalankan yang terasa ringan dan sesuai dengan kenyamanan pribadi, tetapi mengabaikan yang dirasa berat atau menuntut pengorbanan. Padahal ajaran Islam diturunkan sebagai panduan hidup yang utuh dan menyeluruh, mencakup seluruh aspek, baik hubungan kita dengan Allah maupun hubungan kita dengan sesama manusia. Tidak seharusnya kita memisah-misahkan mana yang kita anggap penting dan mana yang bisa diabaikan, karena setiap perintah Allah memiliki hikmah dan peran penting dalam membentuk pribadi muslim yang sejati.


Saat ini, umat Islam di berbagai belahan dunia, seperti di Gaza, terus mengalami penderitaan. Namun sayangnya, belum ada kekuatan besar yang benar-benar bergerak untuk membela mereka secara nyata. Karena itu, dibutukan sosok pemimpin umat yang memiliki kepedulian tulus dan siap berkorban demi tegaknya ajaran Islam dan kesejahteraan umat, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as.


Iduladha adalah waktu yang tepat untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri, sejauh mana kita telah berkorban demi agama ini? Apakah kita benar-benar telah memberikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam, atau justru selama ini kita terlalu sibuk mengejar ambisi duniawi hingga melupakan tanggung jawab sebagai umat yang seharusnya ikut andil dalam menegakkan kebenaran dan keadilan yang diajarkan Islam?


Mari kita gunakan momen Iduladha ini sebagai langkah awal untuk benar-benar memperbaiki diri tidak hanya dari dalam hal ibadah pribadi seperti salat dan puasa, tetapi juga dalam hal akhlak, cara kita bersikap kepada sesama, serta sejauh mana kita peduli terhadap kondisi umat. Ini saat yang tepat untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah, tidak hanya secara lahiriah tapi juga batiniah, dengan menjalani ajaran Islam secara utuh dan Kaffah (menyeluruh). Kita perlu menanamkan semangat berjuang demi kebaikan, bukan cuma untuk diri sendiri, tetapi juga untuk lingkungan sekitar, masyarakat, bahkan umat secara lebih luas. Karena ajaran Islam tidak hanya terbatas pada rutinitas ibadah, tetapi harus tercermin dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update