Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Haji, Simbol Persatuan Sejati

Thursday, June 19, 2025 | Thursday, June 19, 2025 WIB




Oleh Jovilda Nurzahrani Thufailah

(Pegiat Dakwah)


Bulan ini umat Islam sedunia baru saja menyelesaikan semua rangkaian ibadah haji di tahun ini. Ibadah haji memiliki makna esensial yang jauh melampaui sekadar pelaksanaan ritual tahunan. Haji merupakan titah Allah Swt. bagi mereka yang memiliki kemampuan. Haji juga menjadi bentuk tertinggi ibadah yang mencerminkan kepatuhan total seorang muslim kepada Tuhannya. Lebih dari itu, Haji menjadi lambang persatuan global umat Islam. Jutaan manusia dari berbagai bangsa dan ras mengenakan ihram yang sama, melakukan ritual serupa, serta berbagi tujuan yaitu mendekatkan diri kepada Allah Swt. 


Pada tahun 2025, Arab Saudi kembali menetapkan kuota resmi untuk negara-negara pengirim jemaah, termasuk Indonesia yang secara konsisten menjadi negara dengan kuota jemaah haji terbanyak di dunia sebanyak 221.000 jemaah. Tak hanya Indonesia, sejumlah negara lain dengan populasi muslim yang besar juga mendapatkan alokasi kuota signifikan. Pakistan menyusul di posisi kedua dengan 180.000 jemaah, disusul India dengan kuota 175.000 jemaah.


Ketiga negara tersebut secara konsisten menjadi pengirim jemaah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Penetapan kuota dilakukan berdasarkan jumlah populasi muslim di setiap negara dan mempertimbangkan kapasitas layanan ibadah di Tanah Suci. Pemerintah Arab Saudi terus mengupayakan pengelolaan haji yang tertib dan aman dengan memastikan distribusi kuota yang proporsional.  (cnbcindonesia.com, 02-06-2025).


Ibadah haji memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah saw. bersabda: 


الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ


"Haji yang mabrur itu tidak ada balasan (bagi pelaku)-nya selain surga." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Sayangnya, semangat kebersamaan yang begitu kuat saat berhaji sering kali tidak bertahan lama. Ketika para jemaah kembali ke tanah air masing-masing, rasa persaudaraan itu perlahan memudar, tergantikan oleh realitas perpecahan yang disebabkan oleh sekat-sekat negara dan semangat nasionalisme yang sempit. Kebersamaan yang tercipta di tanah suci hanya berlangsung singkat, lalu lenyap karena dominasi sistem buatan manusia yang justru memecah belah umat. 


Sudah semestinya ibadah haji dijadikan sebagai titik awal kebangkitan kesadaran ideologis umat Islam. Dalam hal ini terutama pada saat menghadapi tantangan global seperti penjajahan dan penindasan sistemis terhadap saudara-saudara muslim di Palestina.


Untuk membangun kesatuan yang kakiki, umat pada kenyataannya tidak cukup hanya dengan memunculkan perasaan emosional semata. Namun harus memiliki landasan sistemis melalui tegaknya institusi politik yang mempersatukan umat yaitu Khilafah Islamiah.


Haji Sebagai Wujud Solidaritas Antar Sesama Umat Islam


Haji bukan hanya lambang kesatuan, tetapi juga kesempatan untuk menumbuhkan solidaritas terhadap penderitaan sesama muslim. Rasulullah saw. pernah menggambarkan bahwa umat Islam ibarat satu tubuh, saat satu bagian tersakiti, seluruh tubuh ikut merasakan derita itu.


Rasulullah saw. bersabda: 


وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى


"Perumpamaan kaum mukmin dalam hal kasih sayang, saling mencintai, dan saling membantu adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Muslim)


Dengan demikian, penderitaan rakyat Palestina seharusnya menyentuh hati seluruh umat Islam. Ironisnya, keprihatinan ini tidak tercermin dalam kebijakan banyak pemimpin muslim termasuk Arab Saudi dan negara-negara teluk lainnya.


Paradoks Pengurus Dua Kota Suci


Arab Saudi yang menyandang gelar "pelayan dua tanah suci" justru memperlihatkan kedekatan yang erat dengan Amerika Serikat yaitu negara yang terang-terangan mendukung penjajahan atas Palestina oleh entitas zionis. Di tengah derita rakyat Palestina yang dibom dan kelaparan, Saudi justru menjalin kesepakatan pembelian senjata senilai ratusan miliar dolar dari AS dan berkomitmen pada investasi besar di negeri penjajah tersebut. Tindakan ini mencerminkan penghianatan terhadap kepentingan umat.


Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa membela kaum muslim yang tertindas melalui jihad lebih utama dari pada sekadar melayani jemaah haji atau memperluas Masjidil Haram. Bahkan, mereka yang enggan berjihad diancam dengan siksa yang  pedih. Jihad dalam konteks ini adalah pembelaan aktif terhadap nyawa dan kehormatan umat Islam, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. saat menghadapi  Yahudi Bani Qainuqa demi membela satu muslimah.


Khatimah


Karena itu, pesan utama dari semuanya adalah bahwa ibadah haji tidak boleh berhenti pada aspek ritual, tetapi harus menjadi awal dari perjuangan mewujudkan persatuan umat yang sejati. Persatuan ini hanya bisa lahir melalui keberadaan Khilafah Islamiah, yang akan menjadi pelindung umat, penjaga darah mereka, serta pemersatu yang mengangkat martabat Islam di mata dunia. Tanpa Khilafah, umat akan terus menjadi korban penindasan dan perpecahan meski setiap tahun mereka berhimpun bersama di Arafah.


Haji adalah seruan untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah, mempererat ikatan antar muslim dan menunjukkan kepedulian global] terhadap umat. Namun, semua itu tak akan bermakna tanpa terwujudnya kesadaran ideologis yang melahirkan langkahnya. Solusi sejati tidak hanya terletak pada individu, melainkan pada sistem yang menaungi umat secara menyeluruh yaitu Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah.


Wallahu a'lam bi ash-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update