Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Terbaik Lahir Dari Sistem Pendidikan Yang Terbaik

Monday, June 23, 2025 | Monday, June 23, 2025 WIB
Generasi Terbaik Lahir Dari Sistem Pendidikan Yang Terbaik


Oleh : Siti Rima Sarinah

 

Setelah menggulirkan kebijakan siswa masuk sekolah jam 06.00, kini Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menggulirkan larangan memberikan tugas sekolah (PR) kepada siswa untuk jenjang pendidikan SD dan SMP di Kota Bogor. Jika kebijakan masuk sekolah lebih awal menuai pro dan kontra di berbagai kalangan pendidik dan masyarakat. Larangan memberikan PR pun bisa dipastikan akan menuai reaksi yang sama.   


Dilansir Tempo.co, 04/06/2025, Dedi Mulyadi sudah memerintahkan Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk mengeluarkan surat edaran soal penghapusan pekerjaan rumah untuk siswa dan kebijakan ini diberlakukan untuk tahun ajaran baru.  Rencana penghapusan PR itu untuk menanggapi kekhawatiran sejumlah siswa yang merasa jam malam bisa menghambat aktivitas, termasuk menyelesaikan PR dan menjadi beban bagi siswa. Ia mengatakan anak-anak dirumah didorong untuk istirahat, membaca buku dan membantu orang tua.


Larangan memberikan PR pada siswa dipandang dapat mengoptimalkan pembelajaran mereka selama di sekolah. Sehingga ada atau tidak adanya PR tidak memberi mempengaruhi pokok masalah pendidikan. Padahal, pemberian PR bagi siswa untuk melatih dan mengasah kemampuan serta memastikan siswa memahami mata pelajaran yang belum dipahami. Sebab, kemampuan siswa itu berbeda-beda, sehingga pemberian PR diharapkan dan melejitkan kemampuan siswa dengan banyak latihan melalui PR yang diberikan guru kepada siswanya.


Memang benar, bahwa  PR tidak mempengaruhi pokok masalah pendidikan. Sebab, pokok persoalan pendidikan terkait dengan sistem yang menjadi landasan lahirnya kurikulum pendidikan dan output yang dihasilkan dari sistem pendidikan tersebut. Di negeri ini, sistem pendidikan kapitalismelah yang menjadi asas kurikulum yang diberlakukan. Dengan asas memisahkan agama dalam kehidupan (sekularisme), kurikulum sekolah dibuat. Yang menghasilkan munculnya berbagai macam persoalan pendidikan dan terjadinya degradasi moral siswa yang sangat parah.


Potret siswa hari ini adalah gemar tawuran, narkoba, pacaran, kecanduan gadget dan berbagai kerusakan lainnya. Walaupun berbagai upaya dan program sudah dilakukan pemerintah untuk mencegah, mengatasi dan mengantisipasi berbagai macam kenakalan siswa ini, namun belum memberikan hasil yang signifikan. Bahkan kenakalan mereka semakin menjadi-jadi dan banyak nyawa yang harus melayang akibat tawuran yang tengah menjadi tren dikalangan remaja.


Jika pemerintah serius untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi generasi bangsa, maka kebijakan yang keluarkan bukan terkait perkara masuk sekolah lebih awal atau larangan memberi PR kepada siswa. Sebab, hal tersebut adalah masalah teknis dan yang menjadi fokus perhatian kita adalah memikirkan sistem pendidikan seperti apa yang bisa melahirkan output beriman dan bertakwa seperti yang tercantum dalam undang-undang yang menjadi tujuan pendidikan nasional. 


Karena jelas, sistem pendidikan dengan asas sekular tidak mampu menghasilkan output demikian. Sistem pendidikan ini hanya menghasilkan peserta didik yang bersifat materialis, bersekolah demi mendapatkan nilai saja agar mudah dapat pekerjaan. Tanpa memperhatikan halal, haram bahkan norma dan adab dalam kehidupan. Apakah sistem pendidikan seperti ini yang akan dipertahankan dengan mempertaruhkan nasib generasi dan masa depan bangsa ini di masa yang akan datang? Dan mampukah target mewujudkan generasi emas 2045 bisa terealisasi dengan sistem pendidikan sekular?


Jangan pernah kita mempertaruhkan masa depan generasi dan bangsa ini pada sistem pendidikan yang salah. Sebab, pendidikan menjadi salah satu komponen utama dan penting untuk menghasilkan generasi yang kelak akan membangun negara dan bangsa ini serta memiliki bargaining posision dan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Dan hal ini takkan terwujud apabila sistem pendidikan kita masih bernaung dalam sistem kapitalis sekular.


Sebuah sistem pendidikan yang telah menorehkan tinta sejarah mercusuar ilmu bagi dunia. Sistem ini telah banyak melahirkan generasi emas yang terdiri dari ulama, ilmuwan, penakluk dan polymath. Keilmuan mereka sangat berjasa dan berkontribusi bagi peradaban dunia hingga hari ini. Mereka dihasilkan dari sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang melahirkan output generasi bersyakhsiyah Islam (kepribadian Islam). Mereka bukan hanya mumpuni di bidang agama, melainkan juga mereka menguasai sains dan teknologi. Al Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Haytham, Al Jazari, Muhammad Al fatih dan masih banyak lagi sederet mana generasi emas yang lahir dari sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan Islam telah berhasil mencetak generasi emas, cerdas dan berakhlak mulia. Keberhasilan sistem pendidikan Islam karena ditopang oleh landasan akidah dan setiap siswa memahami bahwa tujuan penciptaannya di dunia untuk beribadah. Dalam beribadah membutuh ilmu agar senantiasa menjadikan perintah dan larangan Allah sebagai standar dalam aktifitas kehidupannya.  


Oleh karena itu, sistem pendidikan Islamlah yang seharusnya hadir dan mendidik generasi bangsa ini. Agar negara ini bisa membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan dan menjadi negara yang independen tanpa ada intervensi dari negara mana pun yang ingin menguasai kekayaan negeri ini. Karena sesungguhnya sistem pendidikan Islam menjadikan generasi terbaik (khoiru ummah) dan generasi mulia yang mampu mengembalikan keizzahan negeri-negeri muslim yang telah lama dihinakan oleh negara-negara penjajah. Wallahua’lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update