Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fantasi Sedarah, Bentuk Rusaknya tatanan Masyarakat

Thursday, June 12, 2025 | Thursday, June 12, 2025 WIB


Oleh: Rhany (Pemerhati Remaja Andoolo) 


" _Harta yang paling berharga adalah keluarga, Istana yang paling indah adalah keluarga, Puisi yang paling bermakna adalah keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga_ " 


Lirik lagu ini mungkin sudah familiar di telinga kita bersama, hampir dinyanyikan semua kalangan yang merindukan sosok hadirnya keluarga. 


Liriknya yang penuh makna seolah-olah menghanyutkan di setiap bait liriknya, membuat yang mendengar teringat harta yang paling berharga memang keluarga, di mana di dalamnya mengalir canda tawa, sedih, marah, dibungkus menjadi satu naungan yang disebut dengan keluarga cemara. 


Namun apa jadinya jika keluarga yang harusnya menjadi tempat berlindung dari gangguan, justru bak monster yang mengerikan, bukan lagi rasa aman yang didapat tapi sumber malapetaka. Naudzubillah. 


Dikutip oleh TEMPO.CO, Belakangan ini warganet tengah dibuat geram akibat viralnya sebuah grup Facebook bernama Fantasi Sedarah yang berisi konten pornografi inses atau hubungan seksual dengan sesama anggota keluarga sedarah dengan anggota yang mencapai puluhan ribu. Penyidik juga mengamankan ratusan foto dan video yang mengandung unsur pornografi anak dari masing-masing ponsel dan perangkat milik tersangka. Himawan menjelaskan bahwa para tersangka memiliki motif dan peran berbeda-beda.  


Dari ponsel milik MR, penyidik menemukan 402 gambar dan tujuh video yang bermuatan pornografi. MR, kata dia, merupakan admin atau kreator grup Fantasi Sedarah dengan nama akun Facebook Nanda Chrysia. “Tersangka MR membuat grup Facebook Fantasi Sedarah sejak bulan Agustus tahun 2024,” katanya. (24/5/2025). 


Kasus di atas adalah hal tergila yang selama ini kita saksikan, bagaimana mungkin sesama anggota keluarga berani melakukan hubungan seksual dan grup tersebut sudah memiliki banyak anggota yang di dalamnya. Info terakhir sekitar 33.000 ribu anggota. Kesel, marah dan sedih adalah hal lumrah atas respon publik yang mendengar berita tersebut, tidak pernah terbayangkan manusia pada umumnya. 


Manusia hari ini sudah berperilaku layaknya binatang yang liar, hewan saja makhluk yang tidak memiliki akal, hanya memiliki naluri tidak akan terpikir untuk berbuat hal semacam itu. Sungguh ironi melihat potret perilaku masyarakat hari ini, yang sudah melakukan di luar batas koridor fitrahnya sebagai manusia. 


Selain itu, konten pornografi yang mudah diakses di berbagai platform media membuat hasrat seksual kian membanjiri dopamin dalam otak, seperti yang sudah kita ketahui bersama sebelumnya dampak negatif pornografi pada otak sangat berbahaya bahkan lebih merusak daripada narkotika itu sendiri. Jika sudah seperti itu, lalu apa bedanya dengan binatang? 


Dalam aturan Islam pun, aurat terhadap mahrom mempunyai batasan, tidak lantas bebas diperlihatkan begitu saja walaupun di rumah, yang terjadi hari ini banyak kaum muslimin tidak memahami perkara ini. Dengan alasan saudara, kakak, adik tidak mengapa memperlihatkan, justru pemahaman seperti inilah yang keliru. 


Kasus inses ini buah dari pemahaman Islam yang lemah, tidak mengetahui perkara halal dan haram, mana yang boleh dan tidak boleh sehingga memunculkan individu yang lemah iman, dan tentu memudahkan juga melakukan berbagai aktivitas kemaksiatan. Bagian ini tentu dari pendidikan sekuler, di mana agama tidak memiliki porsir yang besar dalam kehidupan masyarakat. 


Islam hanya sebagai warisan KTP yang dipakai saat mau menikah, ngurus administrasi kerja, padahal aturan Islam sangatlah sempurna. Pemisahan agama dari kehidupan juga sumber kejahatan yang harus kita saksikan hari ini. Sungguh miris bukan? 


Keluarga memang fondasi dasar pembentukan karakter, perilaku dasar yang diwariskan oleh anggota keluarga, di mana suasana terbentuk dari pendidikan yang dijalankan oleh peran ayah dan ibu. Tapi pada kenyataannya tugas tersebut sangat jauh dari perannya. 


Dalam Islam, pencegahan inses sudah diatur sedemikian rupa mulai dari individu sampai tahap negara.


Bahkan dalam hadits Rasulullah tertuang, "Perintahlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka (jika tidak melaksanakan salat) saat mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur di antara mereka." (HR Abu Daud).


Berdasarkan hadits di atas layaknya anak yang sudah beranjak 10 tahun harus dipisahkan kamar tidur dari orang tua dan saudaranya, sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pendidikan tersebut mana ada di sistem hari ini yang diadopsi. 


Pendidikan sistem Islam basisnya adalah akidah, membentuk kepribadian Islam yang diukur tentu pola pikir dan pola sikap, dan bermuara pada standar syariat Islam. Negara hadir mengatur pergaulan dan Interaksi antar lawan jenis, mewajibkan menutup aurat, menahan pandangan. 


Sungguh aturan Islam bukan mengekang, justru memberi solusi terhadap permasalahan umat manusia yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan hawa nafsu tapi wahyu yang diturunkan Allah SWT. Wallahu a'lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update