Oleh Fina Fadilah Siregar
(Aktivis Muslimah)
Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM), Prof Lilik Sutiarso, mendukung langkah cepat Satgas Pangan Mabes Polri yang turun langsung melakukan pengecekan anomali distribusi beras SPHP di sejumlah pasar induk besar seperti Cipinang, Jakarta Timur.
"Apresiasi terhadap langkah cepat Satgas Pangan dalam menginvestigasi anomali harga beras yang naik di saat stok beras yang melimpah mencapai 4,2 juta ton. Tentunya perlu langkah-langkah untuk validasi di lapangan,” ujar Prof Lilik, Kamis, (19/6/2025). (Berita Satu, 19/6/2025).
Menurut Prof Lilik, kenaikan harga beras sangat tidak masuk akal mengingat tahun ini produksi beras nasional dalam kondisi memuaskan, di mana stok cadangan beras pemerintah atau CBP tahun ini adalah yang tertinggi sepanjang sejarah.
"Anomali semacam ini tidak boleh dibiarkan karena merugikan masyarakat dan juga para petani. Bagaimana mungkin beras kita 4,2 juta tapi harga di sejumlah pasar naik,” katanya. (Berita Satu, 19/6/2025).
Berdasarkan analisanya, Prof Lilik menjelaskan anomali distribusi disebabkan karena kondisi ketidaknormalan dalam proses distribusi beras sehingga menyebabkan harga naik di pasar, meskipun stok beras cukup. Berikutnya, kata Prof Lilik, spekulasi harga pedagang atau pelaku pasar yang melakukan spekulasi sehingga harga beras naik meskipun stok melimpah. Lalu ada juga biaya logistik untuk biaya transportasi dan penyimpanan yang juga dapat mempengaruhi harga jual beras di pasar.
Menurut Prof Lilik, kenaikan harga beras di tengah melimpahnya stok cadangan beras pemerintah (CBP) berpotensi menimbulkan masalah besar.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap harga beras terus mengalami kenaikan di beberapa kabupaten/kota pada minggu kedua Juni 2025. Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengatakan beras menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga dibandingkan minggu sebelumnya.
Data BPS menunjukkan beras terus mengalami kenaikan harga di 133 kabupaten/kota pada minggu kedua Juni 2025. Padahal, pada minggu pertama Juni 2025, terdapat 119 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras.
Meskipun stok beras diklaim melimpah, lebih dari 130 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga beras pada pekan kedua Juni. Harga beras melampaui HET (Harga Ecera Tertinggi) yang memberatkan rakyat kecil.
Kebijakan yang mewajibkan Bulog menyerap gabah petani dalam jumlah besar justru menciptakan penumpukan stok di gudang. Akibatnya, suplai beras ke pasar terganggu dan harga naik. Inilah ciri pengelolaan pangan dalam sistem kapitalisme. Kebijakan yang tidak pro-rakyat, tetapi tunduk pada mekanisme pasar dan kepentingan elit.
Dalam kapitalisme, pangan bukan hak dasar rakyat yang wajib dijamin negara, melainkan komoditas yang bisa diperdagangkan demi keuntungan. Negara hanya bertindak sebagai regulator, bukan pelindung atau penjamin distribusi yang adil. Alhasil, rakyat miskin menjadi korban fluktuasi harga. Ditengah stok beras yang melimpah akan tetapi harganya mahal, rakyat menjadi susah.
Inilah ciri khas sistem kapitalisme yang menjerat rakyat dengan berbagai kebijakan. Membuat hidup rakyat menderita tak berkesudahan.
Berbeda halnya dengan Sistem Pemerintahan Islam (Khilafah). Dalam Khilafah, negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat, termasuk pangan. Negara akan mengelola produksi, distribusi dan cadangan pangan secar langsung, tanpa menjadikannya komoditas dagang. Khilafah akan memberi subsidi bibit, bubuk, maupun memberikan saprotan kepada petani secara cuma-cuma untuk menjamin kualitas beras yang dihasilkan.
Khilafah juga melarang penimbunan dan memastikan distribusi merata, sehingga harga stabil dan rakyat terjamin kebutuhan pokoknya.
Khilafah akan memastikan harga barang-barang yang tersedia di masyarakat mengikuti mekanisme pasar, bukan dengan mematok harga. Pemastian ini pun merupakan ketundukan pada syariat Islam yang melarang ada intervensi harga. Maka, solusi hakiki bukan tambal sulam regulasi, tapi perubahan sistem. Sistem kapitalisme dirubah menjadi sistem Islam yang menerapkan syariat Islam secara kaffah yang mendatangkan kehidupan yang menyejahterakan seluruh rakyat.
Wallahu a'lam bishshowaab.

No comments:
Post a Comment