Oleh Ana Ummu Rayfa
Aktivis Muslimah
Komite Khusus PBB untuk menyelidiki praktik-praktik Israel di wilayah pendudukan Palestina dan Arab memperingatkan bahwa dunia saat ini sedang menyaksikan kemungkinan terjadinya “Nakba kedua”, akibat eskalasi kekerasan, blokade kemanusiaan, dan kebijakan pendudukan yang dijalankan Israel. Istilah “Nakba” berasal dari bahasa Arab yang berarti “malapetaka”, merujuk pada peristiwa pengusiran sekitar 750.000 warga Palestina dari tanah mereka pada 1948 dalam rangka pembentukan negara Israel. Peristiwa ini disertai penghancuran lebih dari 500 desa Arab, pembantaian, serta pembersihan etnis dan hingga kini menjadi simbol luka kolektif dan perlawanan dalam identitas nasional Palestina.
“Israel terus menyebabkan penderitaan yang tak terbayangkan bagi rakyat yang hidup di bawah pendudukannya, sambil memperluas perampasan tanah sebagai bagian dari aspirasi kolonial yang lebih luas. Apa yang kita saksikan bisa jadi adalah Nakba lainnya,” ujar Komite Khusus PBB, mengutip pernyataan penutup misi lapangan mereka di Amman, Jumat, 9 Mei 2025. (media online metrotvnews.com)
Kengerian genosida belum beranjak dari jalur Gaza. Kematian, luka dan mereka yang terbaring sekarat telah menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, kenestapaan itu kini makin bertambah bukan karena ledakan atau teriakan yang paling keras terdengar, melainkan keluhan sunyi dari perut-perut kosong yang menjerit dalam diam kelaparan di Gaza bukan sekadar tidak ada makanan tapi lebih menjelma menjadi senjata mematikan yg membunuh pelan tanpa suara.
Sejak dimulainya blokade bantuan pada 2 Maret, Otoritas kesehatan Gaza melaporkan bahwa 57 anak meninggal akibat dampak dari kekurangan gizi. Apabila situasi ini berlanjut diperkirakan hampir 71.000 anak di bawah usia 5 tahun akan mengalami kekurangan gizi akut dalam 11 bulan kedepan. Dalam pengarahan kepada para jurnalis di Genewa perwakilan organisasi kesehatan di dunia atau WHO untuk wilayah pendudukan palestina Rick Pipercom mengungkapkan bahwa embargo total bantuan oleh zionis telah menyebabkan WHO hanya memiliki persediaan yg cukup untuk merawat sekitar 5000 anak dengan kondisi kekurangan gizi akut. Jumlah ini menurutnya hanya sebagian kecil dan kebutuhan yang sangat mendesak, dia memperingatkan bahwa warga Gaza kini tertangkap dalam siklus mematikan, dimana kurangnya keragaman makanan menyebabkan kekurangan gizi dan penyakit saling memperparah satu sama lain. Pernyataan PPERCOM muncul bersama dengan dirilisnya analisis terbaru Intergrated Food Security Pass Classification (IPC). Skala peringatan ketahanan pangan pada Senin 12 Mei dalam laporan tersebut terungkap bahwa 1 dari 5 warga Gaza atau sekitar 500.000 orang, berada di ambang kelaparan. Sementara itu seluruh populasi Gaza yang berjumlah 2,1 juta orang kini menghadapi kekurangan pangan berkepanjangan.
Hanya entitas zionis yang menggunakan kelaparan sebagai senjata dalam perang. Ini adalah bentuk kelemahan dan kepengecutan terbesar di dunia pasalnya serangan fisik zionis yg bertubi-tubi ke Gaza tidak membuat warga Gaza getar sedikitpun. Tank, senjata, bom, rudal milik zionis memang membuat warga Gaza berlumuran darah kehilangan ruang hidup bahkan ditinggalkan oleh orang terkasih. Namun, warga Gaza tetap berdiri kokoh dan sabar menjaga tanah suci Palestina. Mereka bersabar dalam penderitaan, mereka ikhlas terhadap takdir yg didapatkan, mereka terus berjihad hingga titik darah terakhir melawan zionis meskipun pemimpin Islam mengabaikan urusan Palestina.
Kekuatan keimanan warga Gaza tidak bisa dikalahkan dengan senjata fisik zionis. Kini zionis menyerang kebutuhan jasmani. Zionis menjadikan kelaparan sebagai senjata mereka memblokade bantuan untuk Gaza, mengebom dapur umum, menjatuhkan rudal di tengah-tengah orang yang mengantri makanan dan mengambil bantuan. Krisis kelaparan yang diciptakan zionis telah menunjukan kelemahan mereka, betapa pengecutnya mereka menghadapi kaum muslimin. Maka sebenarnya menghadapi orang lemah dan pengecut itu sangat mudah. Bukan dengan mengirim donasi bantuan untuk warga Gaza, melainkan mengirim tentara untuk membebaskan Palestina, dengan begitu tidak akan ada lagi penjajahan dan tidak akan lagi ada krisis pangan di Gaza.
Panglima Shalahudin al Ayubi membebaskan Al-Quds dari kekuasaan kotor tentara salib. Namun, pembelaan itu menjadi berat dilakukan karena penguasa muslim hari ini menjadi pengkhianat umat. Mereka justru bekerja sama dengan AS, memperbaiki hubungan dengan AS, tunduk dibawah arahan AS, bahkan menormalisasi hubungan dengan zionis. Para pengkhianat itu lebih takut kehilangan kekuasaannya dibanding harus memenuhi kewajiban menolong saudara sesama muslim.
Oleh karena itu, tidak ada harapan menyelamatkan Gaza dari kelaparan akibat penjajahan kecuali jihad fi Sabilillah. Kekuatan militer harus dikerahkan untuk membebaskan umat Islam Gaza dan mengusir zionis dari Palestina, sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah saw yang mengusir Yahudi Bani Qainuqa dari Madinah karena mereka melanggar perjanjian dan membunuh seorang muslim. Al-Qur’an juga memerintahkan jihad defensif atas invasi musuh yang ditujukan kepada negeri-negeri muslim.
Firman Allah dalam QS. Al Baqarah ayat194 menjelaskan bahwa jihad adalah fardu ‘ain. Fardu’ain ini tidak hanya berlaku untuk warga Gaza. Kewajiban ini tidak hanya mengikat seluruh kaum muslimin di sekitar wilayah Palestina, tapi seluruh kaum Muslimin hingga penjajah zionis dapat dikalahkan. Disinilah kebutuhan adanya satu komando dari seorang khalifah. Kebutuhan ini jelas menuntut persatuan umat Islam di seluruh dunia dalam sebuah institusi negara yakni khilafah, karena hanya khilafah yang mampu menjadi pelindung umat Islam. Akan tetapi, institusi pemersatu umat Islam saat ini tidak ada, karena dihancurkan oleh Barat. Kondisi ini menuntut umat Islam memperjuangkan nya kembali. Karena hanya dengan persatuan umat dibawah naungan khilafah, umat Islam akan kembali menjadi umat terbaik dan dapat mengusir Zionis dari tanah Palestina.
Wallahua'lam bissawab.

No comments:
Post a Comment