Oleh : Verry Verani
Pernyataan mengejutkan kembali datang dari panggung politik Amerika Serikat. Randy Fine, anggota Kongres dari Partai Republik, terang-terangan menyarankan penggunaan bom nuklir terhadap Jalur Gaza dalam sebuah wawancara di Fox News (23/5/2025). Ia bahkan membandingkan Gaza dengan Hiroshima dan Nagasaki, dua kota di Jepang yang luluh lantak akibat bom atom pada Perang Dunia II. Pernyataan ini sontak memicu kecaman luas, termasuk dari Hamas, yang menyebutnya sebagai seruan genosida yang mengerikan.
Hamas, dalam pernyataan resminya, mengecam keras seruan tersebut sebagai bentuk kejahatan besar, melanggar hukum internasional dan Konvensi Jenewa.
Lebih dari dua juta jiwa tinggal di Gaza, mayoritas adalah warga sipil, termasuk anak-anak dan para perempuan.
Atasnama apa mereka menyarankan penggunaan senjata pemusnah massal terhadap wilayah Gaza ? Hal ini, bukti nyata kegilaan dan rasisme sistemic telah mengakar di kalangan elit pendukung Zionis.
Lebih tragis lagi, pernyataan ini datang dari seorang pejabat negara yang mewakili bangsa yang selama ini mengklaim sebagai penjaga hak asasi manusia.
Apa yang akan dinyatakan, ketika dunia telah kehilangan akal sehat dan nurani kemanusiaannya ?. Seruan pembunuhan massal dinormalisasi atas nama “keamanan” dan “perlawanan terhadap terorisme ?” sementara haraga nyawa manusia lebih murah dari ambisi politik.
Namun yang tak kalah memilukan adalah bungkamnya para pemimpin negeri-negeri kaum Muslimin. Meski penghinaan terhadap umat Islam telah melampaui batas, mereka tetap bergeming. Mereka lebih sibuk menjaga legitimasi kekuasaan daripada membela kehormatan umat.
Kerusakan dan kekejaman yang berlangsung hari ini di Gaza adalah potret gelap dari kerusakan sistem hidup sekular global. Sistem rusak nerusak serta tidak menjunjung tinggi kemuliaan manusia sebagai makhluk terbaik ciptaan Allah.
Sistem hari ini merekomendasikan perbuatan kerusakan di mukabumi, menyarankan genosida, mendukung dan membela penjajahan global pembantaian terus-menerus. Sistem gagal, penjaga dominasi zhalim atas umat manusia.
Islam, dengan syari'atnya yang sempurna, menjunjung tinggi nyawa manusia. Bahkan dalam peperangan sekalipun, Islam melarang membunuh anak-anak, para perempuan, para orang tua, serta tetap menjaga keutuhan fasilitas umum.
Islam mengajarkan keadilan, kasih sayang, dan perlindungan bagi semua, bukan hanya untuk umat Islam saja.
Sehingga tak terbantahkan lagi, hanya Islam yang pantas memimpin dunia dan mengatur kehidupan.
Sudah saatnya umat Islam bangkit dan menyadari bahwa tak ada jalan keselamatan, kemuliaan, dan kemenangan kecuali dengan kembali kepada aturan Islam secara kaffah.
Perjuangan ini tak cukup dengan langkah-langkah individu atau gerakan sporadis. Umat membutuhkan persatuan sejati di bawah kepemimpinan jama'ah dakwah yang tulus, yang menapaki di atas jalan kenabian.
Dan hanya dengan Islam, kehormatan umat akan kembali. Tak akan tegak sempurna Islam tanpa syari'ah, tanpa institusi Agung Khilafah Rasyidah 'ala minhajin-Nubuwah.
Wallahu'alam. []

No comments:
Post a Comment