Oleh. Nani Sumarni
Aktivis Dakwah
Belum lama ini, daerah Kabupaten Bandung merayakan hari jadi HUT ke-384 tahun. Pada momentum tersebut, Bupati menekankan pada fokus utamanya yaitu pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur. Beliau menilai bahwa SDM berkualitas merupakan fondasi utama di masa depan. Sedangkan pembangunan infrastruktur akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di suatu daera, khususnya Kabupaten Bandung.
Sebagaimana dikutip dari jabar.tribunnews pada 21 April 2025, Bupati Bandung menyadari dengan penguatan SDM akan memperbaiki aspek intelektual dan karakter manusia yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa. Jika bersinergi dengan pembangunan infrastruktur, maka mampu meningkatkan ketahanan pangan serta mewujudkan swasembada berkelanjutan.
Landasan Keimanan yang Benar
Pembangunan sumber daya manusia (SDM) memang sangat dibutuhkan oleh suatu negara apalagi untuk menuju Indonesia emas. Akan tetapi, jika pembangunan SDM tidak berlandaskan pada hal yang benar maka hasilnya dipastikan tidak akan benar. Seperti kondisi saat ini, maraknya kriminalitas, korupsi, pelecehan seksual, bahkan pelakunya bukan dari kalangan biasa melainkan dari kalangan intelektual.
Selain SDM harus berlandaskan keimanan yang benar, begitu pula dengan pembangun infrastruktur. Jika tidak dilandaskan pada keimanan yang lurus pasti akan menjadi sebuah bencana. Misalnya, pembangunan infrastruktur dengan mengesampingkan tata letak kota yang mengakibatkan banjir bandang, juga hutan yang beralih fungsi mengakibatkan rusaknya paru-paru dunia. Semua Ini seolah menjadi bukti bahwa negara telah gagal untuk membangun SDM dan infrastrukur sebagaimana yang diharapkan.
Pembangunan bangsa dan negara merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu panjang, karena melibatkan berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat. Dalam konteks ini, Islam memberikan solusi yang holistik dan komprehensif tentang bagaimana sebuah masyarakat harus dibangun dan dikelola. Aspek politik, aspek sosial, aspek ekonomi, hingga moralitas, Islam memberikan pedoman yang jelas bagi para pemimpin dan masyarakat dalam meraih kemajun yang berkelanjutan. Dalam pespektif Islam, pembangunan SDM bukan hanya sekadar urusan fisik semata, melainkan juga merupakan upaya untuk memperkokoh nilai-nilai spiritual dan sosial dalam masyarakat.
Dalam ajaran Islam, pembangunan sumber daya manusia adalah hal yang sangat diutamakan. Karena manusia, diberikan amanah oleh Allah swt. sebagai khalifah di muka bumi, yang memiliki tanggung jawab untuk mengelola alam semesta demi kesejahteraan manusia dan seluruh makhluk. Ini dapat difahami dalam Q.S. al-Baqarah ayat 30:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau...?"
Membangun SDM dalam pendidikan, pengetahuan, dan karakter adalah peran negara. Diharapkan negara mampu memprioritaskan pembangunan SDM dalam kebijakan dan program-programnya. Namun, ini tidak hanya tentang pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga tentang pembangunan karakter dan akhlak yang baik. Selain itu SDM unggul hanya tercapai jika landasannya akidah Islam yang akan menjadi fondasi baginya untuk berfikir dan caranya bertindak sesuai arahan syariat Islam.
Adapun pembangunan infrastruktur merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar yang harus diperhatikan dan menjadi prioritas sebuah negara. Karena sebagai penyedia layanan bagi masyarakat, kegiatan ekonomi, dan upaya perwujudan kesejahteraan. Tapi sayangnya dalam sistem pemerintahan berbasis ideologi kapitalisme hari ini, pemerintah perannya bukan sebagai pengurus segala urusan rakyat, melainkan sebagai regulator dan fasilitator antara para kapitalis dengan rakyat. Terlebih lagi sistem kapitalisme meniscayakan tolok ukur semua aktivitas berdasarkan hitungan untung-rugi.
SDM dan Infrastruktur dalam Bingkai Islam
SDM yang berkualitas selalu ada pada zaman Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Pernah seorang sahabat bernama Abu Dzar pernah mendatangi Rasulullah untuk menanyakan mengapa ia tidak diberi mandat sementara sahabat lain telah diangkat menjadi gubernur (Mu'adz bin Jabal), bendahara negara (Umar bin Khathab), panglima perang (Khalid bin Walid), dan seterusnya. Rasul menjawab, karena Abu Dzar lemah (dalam memegang jabatan), padahal jabatan adalah amanah. Ini menunjukan bahwa penerapan sistem Islam mampu mencetak pemimpin dan pengurus negara yang bertanggung jawab, serta dipastikan bahwa yang memegang amanah adalah orang yang mampu mengembannya.
Begitu juga dengan pembangunan infrastruktur, masa penerapan sistem Islam telah memberikan contoh terbaik sepanjang sejarah. Selama 13 abad menorehkan kecemerlangan di semua bidang. Pada masa akhir kekhilafahan Utsmani, ada upaya dunia Islam dipersatukan dengan jalur kereta api Hijaz. Tahun 1900 masehi Sultan Abdul Hamid II memerintahkan dibangunnya jalur kereta api Hijaz untuk memudahkan jemaah haji saat menuju Makkah. Sebelumnya, para jemaah melakukan perjalanan dengan menunggangi unta selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Hal ini, menyadarkan kita tentang pentingnya negara mengelola urusannya dengan syariat Islam dalam bingkai sistem Khilafah. Dalam sistem Islam, negara benar-benar hadir (bertanggung jawab penuh) melayani seluruh urusan rakyat, termasuk pendidikan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan menyediakan infrastruktur terbaik.
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment