Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pornagrafi Semakin Bebas, Buah Sistem Rusak

Tuesday, May 13, 2025 | May 13, 2025 WIB Last Updated 2025-05-13T09:08:11Z
Pornagrafi Semakin Bebas, Buah Sistem Rusak

Oleh : Siti Zaitun


Sungguh menyayat hati hari ini kita dihadapkan pada kenyataan yang sangat mengkhawatirkan. Anak-anak SD, bahkan yang lebih muda, kini dengan mudah untuk mengakses dan mengoleksi konten pornagrafi melalui Handphone mereka. 

Kemajuan teknologi yang seharusnya menjadi sarana pembelajaran dan inovasi, justru berubah menjadi jalan pintas menuju kehancuran moral. Ini adalah fenomena yang sangat mengkhawatirkan. Akses bebas yang tidak terkontol terhadap konten pornagrafi semakin merajalela, terutama dikalangan anak muda. 


Situs-situs porno merajalela tanpa batas. Bahkan, kini muncul platform streaming yang menyiarkan aktivitas zina secara langsung demi mendapatkan "gift" dari penonton. Aplikasi novel online juga ramai mempromosikan cerita- cerita erotis yang menarik jutaan pembaca. Ironisnya lagi, semua ini terjadi disaat upaya pemerintah untuk memblokir ribuan situs porno. 


Tetapi, tetap terbuka lebar akibat kemudahan akses VPN yang memungkinkan pengguna untuk melanjutkan pencarian mereka tanpa hambatan. Kondisi ini menunjukkan betapa tantangan yang dihadapi pemerintah dalam mengatasi penyebaran konten pornagrafi semakin besar. 


Yang lebih berbahaya adalah dampak dari algoritma yang digunakan oleh peramban dan platform media sosial. Sekali saja pengguna mencari atau mengakses konten pornagrafi, peramban atau platform media sosial akan terus merekomendasikan konten serupa. 


Ini menyebabkan paparan pornagrafi menjadi berulang, membentuk kecanduan, dan memperdalam kerusakan moral tanpa disadari oleh pengguna, terutama anak- anak dan remaja yang belum memiliki filter kuat. 


Sejumlah studi mengungkapkan bahwa algoritma dibalik mesin pencarian dan platform media sosial dirancang untuk mendorong interaksi lebih lanjut dengan konten tertentu, termasuk konten pornagrafi. Menurut penelitian yang diterbitkan oleh The Journal of Adolesent Health, algoritma dapat secara otomatis menyarankan konten yang semakin eksplisit setelah pengguna mengakses konten pornagrafi pertama kali. ( The Journal of Adolesent Health, 2018).


Kenyataan ini menggambarkan bagaimana teknologi yang seharusnya bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup, justru dipergunakan untuk merusak moralitas masyarakat, terutama generasi muda. 


Sebagian besar pengguna internet tidak menyadari betapa kuatnya pengaruh algoritma dalam membentuk kebiasaan mereka terbiasa dengan prilaku yang sebelumnya dianggap tidak wajar dan menormalisasi ekploitasi seksual. 


Lebih parahnya lagi, dalih kebebasan individu dan hak asasi manusia ( HAM) sering digunakan untuk melegalkan akses terhadap konten berbahaya ini, seolah melupakan dampak sosial yang menghancurkan. Paparan pornagrafi terbukti mendorong peningkatan kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, bahkan pembunuhan, akibat syahwat yang tak terkendali. 


Keberadaan konten pornagrafi dengan mudah dapat mengubah pola pikir seseorang, khususnya anak-anak dan remaja. Mengenai hubungan seksual, misalnya, yang seharusnya penuh kasih sayang dan tanggung jawab, menjadi suatu hal yang sekedar alat pemuas nafsu tanpa memperhatikan dampaknya pada hubungan sosial yang lebih luas. 


Data dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mencatat, dalam empat tahun terakhir 5,5 juta anak Indonesia menjadi korban paparan pornagrafi ( kpi.go.id). Berdasarkan data yang dirilis oleh KPI, angka ini mencakup anak-anak dari jenjang PAUD hingga SMA. 


Selain itu, polri mengungkapkan 47 kasus penyebaran konten pornagrafi anak dalam kurun waktu enam bulan pada tahun 2024, serta memblokir lebih dari 15.000 situs terlarang. Ini menunjukkan bahwa upaya parsial belum cukup untuk menghentikan tsunami pornagrafi yang semakin sulit dikendalikan. 


Paparan pornagrafi bukan hanya merusak perkembangan otak anak-anak dan remaja, tetapi juga membentuk persepsi yang keliru  tentang seksualitas, hubungan antarmanusia, dan nilai diri. 

Pornagrafi menormalisasi ekploitasi seksual dan mendorong perilaku berisiko. 


Menganggap pornagrafi sebagai bagian dari kebebasan individu adalah pandangan yang sempit dan berbahaya. Kebebasan yang merusak masyarakat seharusnya dibatasi, sebagaimana pembatasan narkoba dan aturan lalu lintas demi keselamatan bersama. 


Akar dari persoalan ini adalah sistem yang diterapkan saat ini. Sistem yang rusak lagi merusak. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam paradigma ini, kebebasan tanpa batas diagungkan, termasuk kebebasan mengakses dan mendistribusikan pornagrafi. Seksualitas dijadikan komoditas untuk meraup keuntungan. Sementara teknologi diarahkan hanya untuk mengejar klik dan keuntungan tanpa mempertimbangkan dampak moral dan sosial. 


Sistem ini mendorong munculnya industri pornagrafi yang memanfaatkan kecenderungan manusia untuk memperoleh keuntungan besar dari eksploitasi seksual tanpa memedulikan dampaknya terhadap individu dan masyarakat. 


Ditambah lagi kurangnya literasi digital dan pendidikan agama yang komprehensif membuat anak-anak dan remaja sangat rentan terhadap pengaruh negatif ini. Dalam banyak kasus, anak-anak tidak dilatih dengan pemahaman yang kuat tentang nilai- nilai agama yang bisa membantu mereka memfilter apa yang baik dan buruk serta cara menggunakan teknologi secara bijak. 


Islam memberikan solusi menyeluruh seperti:


Pendidikan yang membangun akidah, moral, dan kesadaran menjaga pandangan sejak dini

 Sistem sosial yang melarang campur baur bebas dan menjaga interaksi terhormat. 


Pemerintah yang bertanggung jawab menutup seluruh jalur distribusi pornagrafi dan menindak tegas pelaku. 


Ekonomi Islam yang melarang eksploitasi seksual untuk keuntungan. 


Lingkungan sosial yang membudayakan amar makruf nahi mungkar dan menciptakan atmosfer ketaatan. 

Semua ini hanya bisa terwujud dalam penerapan syariat Islam secara kaffah bukan setengah- setengah. 


Sistem islam tidak hanya melarang pornagrafi, tetapi juga mengedepankan sistem pendidikan yang mendidik anak-anak untuk memiliki moral dan etika yang tinggi, mengajarkan mereka tentang tanggung jawab, dan bagaimana menjaga pandangan mereka dari konten- konten yang merusak. 


Pornagrafi dapat menghancurkan generasi penerus bangsa. Ini bukan sekedar permasalahan individu, melainkan ancaman nyata terhadap masa depan masyarakat. Solusi sejati tidak cukup hanya dengan sensor internet atau seminar sesaat, melainkan perubahan menyeluruh berbasiskan penerapan aturan Islam yang menjaga akal, jiwa, keturunan, dan kehormatan manusia. 


Terlebih dahulu mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kita, sembari mendukung perjuangan penerapan Islam secara kaffah. Karena hanya dengan itu generasi kita akan terselamatkan dari kehancuran moral yang kini mengintai didepan mata. Tetap semangat dan istiqomah dalam memperjuangkan Islam secara kaffah. Wallahua'lam bishowab.

×
Berita Terbaru Update