Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pengangguran Tinggi dan Kebangkrutan Sistem Kapitalisme

Thursday, May 15, 2025 | Thursday, May 15, 2025 WIB

 


Oleh: Ummu Aisyah

Baru-baru ini, Dana Moneter Internasional (IMF) merilis laporan yang menyebut Indonesia sebagai negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2024. Fakta ini menjadi alarm keras yang menyoroti kegagalan sistem yang diterapkan dalam mengelola ekonomi dan tenaga kerja di Indonesia. Ironisnya, banyak dari pengangguran ini justru berasal dari kalangan terdidik, yakni lulusan sarjana dan diploma yang semestinya menjadi tulang punggung pembangunan bangsa.


Fenomena ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa negara dengan sumber daya alam melimpah dan jumlah penduduk usia produktif yang besar justru mengalami krisis dalam menyediakan lapangan kerja? Di mana letak persoalan mendasarnya?


Salah satu akar persoalan yang paling nyata adalah penerapan sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, negara tidak bertindak sebagai pelaksana utama dalam penyediaan kesejahteraan rakyat, melainkan hanya sebagai regulator. Pemerintah lebih sibuk menciptakan iklim yang ramah investasi demi pertumbuhan ekonomi versi angka, ketimbang memastikan rakyatnya benar-benar hidup sejahtera. Lapangan kerja pun lebih banyak bergantung pada sektor swasta, baik nasional maupun asing. Negara seakan berlepas tangan, menyerahkan tanggung jawab menciptakan lapangan kerja kepada korporasi.


Celakanya, korporasi tentu berorientasi pada profit, bukan pada penyerapan tenaga kerja yang masif dan berkualitas. Mereka akan lebih memilih efisiensi tinggi dengan biaya rendah, alih-alih memberi ruang bagi para sarjana dengan ekspektasi gaji lebih besar. Akibatnya, kesenjangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan semakin menganga.


Tak hanya itu, pengelolaan sumber daya alam yang seharusnya menjadi sumber pemasukan negara dan pembuka lapangan kerja justru diserahkan kepada swasta, bahkan asing. Negara kehilangan kendali atas potensi kekayaan alamnya sendiri, yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara luas.


Di sisi lain, sistem Islam menawarkan pendekatan yang berbeda secara fundamental. Dalam Islam, negara diposisikan sebagai pengurus rakyat. Negara tidak boleh berlepas tangan dalam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, termasuk kebutuhan akan pekerjaan. Negara wajib menciptakan iklim yang memungkinkan setiap warga negara mendapatkan pekerjaan yang layak.


Melalui penerapan sistem Khilafah, negara akan mengelola sendiri sumber daya alam dan kekayaan publik. Pengelolaan ini dilakukan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk keuntungan segelintir korporasi. Dengan pengelolaan mandiri, negara memiliki sumber anggaran yang besar dan stabil, yang dapat digunakan untuk mengembangkan sektor industri, pertanian, dan jasa. Pengembangan sektor-sektor ini akan membuka lapangan kerja dalam jumlah besar dan tersebar merata di seluruh wilayah.


Negara juga akan memastikan bahwa pendidikan yang diberikan kepada masyarakat sejalan dengan kebutuhan lapangan kerja yang tersedia. Dengan kata lain, tidak ada jurang antara dunia pendidikan dan dunia kerja seperti yang terjadi dalam sistem kapitalis saat ini. Setiap individu akan diberdayakan sesuai dengan potensi dan keterampilannya, sehingga bisa berkontribusi bagi masyarakat dan negara.


Lebih dari sekadar pemenuhan ekonomi, pekerjaan dalam Islam juga merupakan bentuk ibadah dan kontribusi sosial. Oleh karena itu, negara dalam sistem Islam berkewajiban menciptakan kondisi di mana setiap individu bisa bekerja secara bermartabat dan mendapatkan hak-haknya secara adil.


Data IMF yang menempatkan Indonesia di urutan pertama dalam hal pengangguran di Asia Tenggara seharusnya menjadi cambuk untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap sistem yang diterapkan. Selama negara masih menggunakan sistem kapitalisme yang pro-korporasi dan minim tanggung jawab sosial, maka kesejahteraan dan keadilan akan tetap menjadi mimpi. Sudah saatnya umat mempertimbangkan penerapan sistem alternatif yang menyeluruh dan berpihak kepada rakyat, yaitu sistem Islam yang telah terbukti memberikan solusi nyata dalam sejarah peradaban.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update