Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengakhiri Kelaparan di Gaza

Saturday, May 17, 2025 | May 17, 2025 WIB Last Updated 2025-05-17T05:06:36Z
Mengakhiri Kelaparan di Gaza

Oleh: Erik Sri Widayati, S.Si.



Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak blokade bantuan untuk warga Gaza yang dilakukan Israel segera dihentikan. Hal itu karena aksi blokade oleh Israel membuat sekitar 2,1 juta penduduk Gaza dalam bencana kelaparan, kekurangan gizi akut dan kematian. Lebih dari setengah penduduk Gaza berada dalam kekurangan pangan "Darurat" atau "Bencana", dua tingkat terburuk dari skala lima tingkat oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC) tentang kerawanan pangan dan kekurangan gizi.


Sejak blokade bantuan dimulai pada 2 Maret 2025, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 57 anak meninggal akibat kekurangan gizi. Jumlah ini kemungkinan merupakan perkiraan yang lebih rendah dan kemungkinan akan bertambah. Menurut IPC, jika situasi ini terus berlanjut, hampir 71.000 anak di bawah usia lima tahun diperkirakan akan mengalami kekurangan gizi akut selama sebelas bulan ke depan. (detikSumut, 14/05/25)


Sungguh miris melihat kondisi kaum muslimin di Gaza. Meski berbagai kecaman untuk kebengisan Zionis Israel dari seluruh penjuru dunia, tidak mengubah kondisi Gaza menjadi lebih baik. Berbagai macam bantuan kemanusiaan pun dipersulit menjangkau para pengungsi. Bahkan, tindakan Zionis makin membabi buta. Kekejaman dan kebiadaban Zionis sudah di luar batas, tetapi tidak satu pun negara di dunia mampu menghentikan. Bahkan, badan perdamaian dunia pun membiarkan penindasan dan penjajahan ini terus berjalan hingga kondisi rakyat Gaza makin memprihatinkan.


Maka satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan di Gaza adalah dengan jihad. Bahasa yang bisa dimengerti kaum zionis untuk menghentikan genosida ini adalah perang. Allah SWT berfirman, “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190).


Untuk melaksanakan perintah jihad, butuh kekuatan militer yang besar dan tangguh, serta sebuah institusi pemerintahan yang mampu menggerakkan kekuatan itu, yakni khilafah Islam. Hanya dengan tegaknya kembali khilafah, persoalan Palestina bisa terselesaikan. Khilafah akan mempersatukan seluruh kaum muslimin tanpa sekat-sekat negara bangsa. Khilafah akan mampu melindungi, menjaga tanah, dan kemuliaan kaum muslimin, termasuk di Palestina.


Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Al-imam (khalifah) itu junnah (perisai) yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaannya).” (HR. Muttafaqun Alaih).


Khilafah sebagai junnah dapat kita teladani sebagaimana sikap Salahudin Al-Ayyubi. Salahudin merebut kembali tanah Palestina dari Tentara Salib. Ia tidak bertemu dengan Paus untuk menetapkan solusi Baitul Maqdis, tetapi ia bertemu dengan Pasukan Salib di Perang Hittin, mengalahkan dan mencabut kerajaan Tentara Salib di semua negeri muslim.


Rasulullah saw. ketika menjadi kepala negara ketika menjadi kepala negara di Madinah. Beliau mengusir Bani Qainuqa’ karena telah melanggar perjanjian. Yahudi Bani Qainuqa’ membunuh seorang laki-laki muslim yang membela seorang muslimah yang diganggu oleh seorang Yahudi Bani Qainuqa’. Perbuatan Rasulullah ini mencerminkan posisi negara Islam, yaitu melindungi jiwa dan kehormatan warga negaranya. Rasulullah teladan sejati.


Demikianlah, ketika khilafah telah tegak, kelaparan di Gaza tidak akan terjadi dan mereka tidak akan merasakan penjajahan Zionis. Penjajahan Zionis pada Palestina akan ditumpas habis oleh khalifah. Dengan demikian, Palestina hanya bisa diselamatkan ketika Khilafah Islam tegak kembali, dengan dipimpin oleh seorang khalifah yang siap menyerukan jihad kepada seluruh kaum muslimin. Wallahu'alam.

×
Berita Terbaru Update