Oleh Fina Fadilah Siregar
(Aktivis Muslimah)
Pejabat senior Hamas, Basem Naim mengaku mendapatkan janji langsung dari utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff bahwa dua hari setelah sandera Edan Alexander dilepas, AS akan mewajibkan Israel untuk membuka blokade bantuan kemanusiaan masuk Gaza. Witkoff, menurut Basem, juga menjanjikan, bahwa Presiden Donald Trump juga akan membuat pernyataan resmi terkait gencatan senjata segera di Gaza dan negosiasi demi tercapainya sebuah gencatan senjata permanen.
"Itu sudah disepakati," ujar Basem Naim kepda Drop Site dalam laporannya, Jumat (16/5/2025). (Republika, 17/5/2025). Menurut Basem, janji itu diutarakan oleh Witkoff sendiri.
Dalam wawancara dengan Drop Site, Basem Naim mengatakan bahwa perjanjiannya adalah, Jika kami melepas (Edan Alexander), Trump akan berterima kasih kepada Hamas atas sikapnya, mewajibkan Israel pada hari kedua membuka blokade dan membiarkan bantuan masuk ke Gaza, dan (Trump akan) menyerukan gencatan senjata segera dan dijalankannya proses negosiasi demi mengakhiri perang.
"Dia tidak melakukan apapun soal ini," kata Naim. "Mereka melanggar kesepakatan. Mereka melempar kesepakatan itu ke tong sampah." (Republika, 17/5/2025).
Pada Jumat, saat mengakhiri kunjungan kenegaraannya di Timur Tengah, Trump secara singkat mengomentari perang Gaza dan kondisi kemanusiaan yang sangat buruk akibat dari bolkade penuh Israel. Untuk 76 hari, Israel telah mencegah semua makanan, obat, air bersih, dan bahan bakar masuk Gaza. Blokade itu telah mengakibatkan mayoritas warga Gaza dalam kondisi kelaparan.
"Kami akan melihat Gaza, dan kami harus mengurusnya." ujar Trump dalam sebuah acara di Uni Emirat Arab. Banyak orang kelaparan. Banyak orang. Di sana banyak hal buruk terjadi." (Republika, 17/5/2025).
Sejak 2 Maret, Israel telah memblokade seluruh pasokan makanan, air, dan obat-obatan untuk memasuki Gaza, menciptakan krisis buatan manusia. Organisasi kemanusiaan mengatakan bahwa penduduk berisiko mengalami kelaparan massal.
Zionis terus melakukan genosida dengan cara yang tidak berperikemanusiaan. Selain itu, mereka dengan sengaja memblokade masuknya bantuan makanan dan membiarkan kaum muslim di Gaza dalam keadaan kelaparan yang parah. Blokade ini sudah berlangsung lebih dari dua bulan. Sungguh cara perang yang sangat keji dan tidak ksatria.
Mirisnya, dalam kondisi demikian, penguasa negeri muslim belum juga melakukan pembelaan secara nyata dengan mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah yang keji ini. Seruan jihad yang bergema di seluruh penjuru dunia tak mampu membuka hati para pemimpin muslim. Inilah bukti nyata kepemimpinan sistem sekuler kapitalisme yang berdiri saat ini. Pemimpin negeri muslim tak berdaya melawan penjajah yang nyata-nyata memusuhi Islam. Kelaparan yang dijadikan alat genosida adalah bukti bahwa zionis lemah dan pengecut.
Kondisi mengenaskan ini tak mungkin terjadi jika umat Islam memiliki pelindung berupa negara Khilafah. Negara khilafah akan menjalankan perannya sebagai rain dan junnah untuk melindungi umat Islam dari penjajahan dalam bentuk apapun. sebagaimana yang dilakukan oleh Khalifah Mu'tasim Billah. Sayangnya hari ini Khilafah belum ada, sehingga Palestina tidak ada yang membela.
Oleh karena itu, harus ada perjuangan untuk menegakkannya kembali. Perjuangan ini sudah diawali oleh partai Islam ideologis. Umat harus terus dibangun kesadarannya agar siap berjuang bersama partai ini karena hanya partai inilah yang konsisten memperjuangkan tegaknya aturan Allah secara kafah dalam wadah Khilafah Islamiyyah. Kesadaran umat akan dapat terwujud dengan upaya tak kenal lelah dari para pengemban dakwah partai Islam ideologis sehingga umat Islam akan bersatu untuk melawan Zionis demi memenangkan Palestina.
Wallahu a'lam bishshowaab.

No comments:
Post a Comment