Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hubungan Sedarah dan Runtuhnya Sistem Keluarga dalam Cengkeraman Sekulerisme Kapitalistik

Sunday, May 25, 2025 | Sunday, May 25, 2025 WIB

Oleh  Rindang Ayu, S.Pd (Guru/Pendidik)

Fenomena hubungan sedarah (inses) yang mencuat ke permukaan publik melalui grup-grup fantasi menyimpang di media sosial bukan sekadar kasus kriminal. Ini adalah alarm keras atas rapuhnya fondasi moral masyarakat kita yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya Timur. Saat grup Facebook bernama “Fantasi Sedarah” terungkap, seolah tabir kebobrokan yang selama ini ditutupi dengan klaim “negara religius” terkuak lebar.

Bagaimana mungkin di negeri yang penduduknya mayoritas Muslim, dengan ribuan pesantren dan jutaan penceramah agama, bisa tumbuh subur komunitas digital yang menjadikan inses sebagai bahan fantasi dan hiburan? Ini bukan hanya masalah individu yang “sakit”, melainkan cerminan dari sistem kehidupan yang cacat dari akarnya.

Masyarakat hari ini hidup dalam ilusi kebebasan yang ditebar oleh sistem sekuler kapitalistik. Di mana agama disingkirkan ke pojok-pojok pribadi, dan kepuasan individu dijadikan standar tertinggi. Maka jangan heran bila nilai kemanusiaan tergilas oleh nafsu liar. Tanpa ikatan spiritual yang kuat, manusia dengan mudah terjerumus ke jurang yang bahkan binatang pun enggan memasukinya.

Sekulerisme tidak hanya menjauhkan manusia dari Tuhannya, tapi juga menghancurkan tatanan sosial terkecil, yaitu keluarga. Keluarga sebagai benteng pertama penjaga moral, hari ini dibiarkan tercerai-berai oleh sistem yang lebih sibuk menggenjot pertumbuhan ekonomi daripada membangun ketahanan sosial. Negara, alih-alih hadir sebagai pelindung nilai, namun justru kerap menjadi fasilitator kebebasan yang melampaui batas. Edukasi seks bebas dibalut program kesehatan reproduksi, tayangan vulgar dibiarkan dengan label "kebebasan berekspresi", dan pelaku penyimpangan seksual malah mendapat ruang legitimasi dengan dalih HAM.

Inilah wajah asli kapitalisme: sistem yang menjadikan segala sesuatu bisa dijual, termasuk tubuh dan nilai. Selama mendatangkan cuan, semua dianggap sah. Tak heran jika kemudian muncul komunitas-komunitas menyimpang yang merasa aman berkeliaran di ruang publik digital. Bahkan saat ini, kasus inses bukan lagi cerita kelam yang disembunyikan, tapi dipertontonkan dan dibagikan seperti konten hiburan.

Lalu di mana solusi? Apakah kita akan terus percaya bahwa sistem ini bisa diperbaiki dari dalam, padahal sejak awal pondasinya sudah rusak?

Islam memberikan jawaban tegas. Dalam pandangan Islam, keluarga bukan sekadar unit sosial, tapi institusi peradaban yang harus dijaga dengan aturan syariat. Islam secara eksplisit mengharamkan hubungan sedarah, dan menempatkan negara sebagai pelindung nilai melalui mekanisme pencegahan, pembinaan iman, serta sanksi yang menjerakan. Negara dalam sistem Islam tidak akan membiarkan media mempromosikan konten amoral, apalagi membiarkan komunitas menyimpang berkembang tanpa hambatan.

Lebih dari itu, Islam menjadikan amar makruf nahi munkar sebagai kewajiban kolektif. Masyarakat bukan hanya objek, tetapi subjek dalam menjaga kemuliaan bersama. Sistem Islam menanamkan rasa takut kepada Allah, bukan karena takut tertangkap kamera atau viral di media sosial, tapi karena memahami bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.

Saatnya kita jujur mengakui: sistem sekuler kapitalisme telah gagal menjaga akhlak dan kehormatan manusia. Tak cukup hanya mengutuk inses sebagai fenomena menyimpang, tanpa menyentuh akar masalahnya: yakni sistem yang menciptakan ruang bagi penyimpangan itu tumbuh. Jika kita sungguh ingin menyelamatkan generasi, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada sistem yang shahih, yakni Islam kaffah yang menjadikan syariat sebagai landasan hidup dan negara sebagai penjaga peradaban.

Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update