Oleh Rahmawati Ayu Kartini
Pemerhati Sosial
Amerika kembali menerapkan perang dagang yang mengguncang dunia dengan memberlakukan kebijakan tarif impor baru bertajuk "Resiprocal Tariff" pada 2 April 2025. Kebijakan ini menetapkan tarif minimum sebesar 10% - 32% untuk seluruh produk impor ke AS.
Kebijakan ini diambil dengan alasan untuk memperkuat ekonomi AS dan melindungi pekerja domestik, membuka lapangan kerja serta menghilangkan hambatan perdagangan.
Dikutip dari laman resmi Whitehouse.gov, Kamis (3/4/2025), alasan Trump mengenakan tarif impor yang tinggi pada negara-negara lain, karena Trump sedang berupaya menciptakan persaingan yang adil bagi bisnis dan pekerja di negaranya setelah melihat neraca ekonominya defisit secara signifikan.
Ekonomi AS Makin Melemah
Tarif resiprokal atau tarif timbal-balik adalah pembatasan perdagangan yang diberlakukan satu negara terhadap negara lain sebagai respon terhadap tindakan serupa yang sudah dilakukan oleh negara yang dihadapi. Kebijakan perang dagang dengan tujuan fair trade adalah sesuatu yang wajar bahkan seharusnya dilakukan oleh suatu negara yang berdaulat. Tujuannya untuk melindungi perekonomian dalam negeri dan memperbaiki hubungan perdagangan dengan negara lain.
Justru aneh jika suatu negara membiarkan perdagangan luar negerinya dihambat oleh negara lain dengan tarif yang tidak sepadan. Negara berkewajiban pula memajukan industri domestik agar bisa bersaing dengan produk asing.
Kenyataannya, saat ini ekonomi AS makin lemah. AS makin tersaingi oleh Cina. Pertumbuhan pesat negara-negara Asia khususnya Cina, ditambah perlambatan pertumbuhan ekonomi AS, menyebabkan kekuatan ekonomi negara Paman Sam ini terkikis di pentas global.
Saat ini AS dihadapkan pada situasi ekonomi internal yang cukup pelik. Salah satunya adalah kesenjangan ekonomi yang meningkat tajam. Jurang antara si kaya dan si miskin makin signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Pada tahun 2022, menurut World Inequality Report, 10% penduduk terkaya di AS menguasai 70,7% kekayaan negara itu. Sementara 1% penduduk menguasai 34,9% kekayaan. Penduduk miskin AS juga relatif tinggi dibandingkan negara-negara kaya lainnya yang tergabung dalam OECD.
Publik AS saat ini juga menghadapi masalah mahalnya pemenuhan kebutuhan dasar, seperti kesehatan dan perumahan. Penduduk AS mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar untuk layanan kesehatan dibandingkan negara-negara lain. Namun tidak memiliki hasil layanan kesehatan yang lebih baik. Naiknya harga rumah dan biaya sewa membuat banyak orang kesulitan untuk mendapatkan perumahan yang layak.
Daya saing SDM di AS juga terus menurun. Ini disebabkan karena kurangnya investasi AS dalam modal manusia. Skor ujian siswa AS masih di bawah rata-rata global. Berdasarkan data PISA, kemampuan siswa AS untuk bidang studi matematika terus menurun dari peringkat 15 pada tahun 2000 menjadi peringkat 38 pada tahun 2018.
Ini menjadi indikasi sulitnya warga AS bersaing pada industri yang berbasis sains dan teknologi. Namun, menurunnya kualitas SDM AS ini terbantu oleh kebijakan imigrasi AS yang mempermudah masuknya penduduk asing dengan pendidikan dan keterampilan yang mumpuni. (Al Waie, edisi Desember 2023 hal 21)
Kegagalan Kapitalisme?
Tarif Trump telah membongkar kebobrokan sistem kapitalisme. Tarif Trump sendiri bertolak belakang dengan prinsip liberalisasi ekonomi AS sebagai gembong kapitalisme. AS sendiri yang menyerukan pasar bebas tidak dibatasi oleh tarif. Namun apakah karena prinsip kapitalisme ini berbalik merugikan negaranya sendiri, mereka kemudian merubah haluan? Kini AS sendiri menentukan tarif barang-barang impor yang masuk ke negaranya. Inilah yang disebut 'senjata makan tuan.' Inilah buktinya kapitalisme tak mampu menjadi solusi hakiki perekonomian suatu negara.
Walau bagaimanapun, saat ini tarif Trump tak bisa dihindari karena muncul dari sebuah negara adidaya yang menghegemoni dunia. AS tentu akan melakukan apapun untuk merealisasikan kebijakannya dan akan terus berupaya tetap mengendalikan ekonomi global.
Tarif Trump memicu reaksi global. Ada yang secara terbuka menolak dan melakukan perlawanan seperti Cina. Ada pula yang memilih jalur merayu atau meredakan, seperti yang dilakukan pemerintah Indonesia. Presiden Prabowo yang awalnya menolak seruan AS untuk evakuasi warga Gaza, kini berbalik menerima kebijakan itu dengan alasan kemanusiaan. Kabarnya upaya itu dilakukan sebagai peredam agar tarif Trump bisa dinegosiasikan.
Sistem ekonomi Islam satu-satunya pilihan
Telah terbukti, kapitalisme tak mampu menjadi solusi ekonomi suatu negara. Kapitalisme akan terus menjadi sumber bencana, jika tidak segera dihentikan.
Pada titik inilah, negeri-negeri muslim semestinya menyadari bahwa sistem kapitalis global telah terbukti merusak dan melumpuhkan ekonomi umat.
Tidak ada pilihan lain selain menerapkan sistem ekonomi Islam. Karena sistem ini berasal dari Allah SWT Sang Maha Pencipta, yang paling tahu apa yang terbaik untuk manusia. Sementara sistem kapitalis adalah buatan manusia, yang lemah dan tidak tahu apa yang terbaik untuk dirinya.
Paling tidak ada dua keunggulan komparatif sistem ekonomi Islam. Pertama: Sistem moneter Islam sangat jelas, yaitu emas dan perak sebagai mata uang, yang riil nilai intrinsiknya. Inilah yang sering disebut dinar dan dirham. Mengapa emas dan perak? Sebabnya: (1) nilainya stabil dan tidak mudah mengalami guncangan; (2) tidak bisa dicetak seenaknya; (3) anti manipulasi; (4) yang paling penting, ini adalah perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.
Kedua: Dalam Islam, transaksi perdagangan berfokus pada sektor riil. Sektor non-riil seperti saat ini tidak boleh ada. Tidak boleh juga ada riba, pajak dan spekulasi.
Dalam Islam, sumberdaya alam yang berlimpah-ruah dijadikan sebagai milik bersama (milik umum) yang wajib dikelola oleh negara untuk kepentingan bersama. Tidak boleh dikuasai oleh pihak swasta apalagi pihak asing.
Dengan dua keunggulan ini saja, negara Islam akan menjadi negara yang mandiri secara ekonomi. Saat memiliki kemandirian, maka dalam perdagangan internasional, negara tak akan mudah dikalahkan dalam perang tarif yang dilancarkan oleh negara-negara lain.
Karena itu jika negeri-negeri muslim bersatu-padu membangun kedaulatan ekonomi dengan segala potensinya, maka Dunia Islam akan menjelma menjadi adidaya ekonomi dunia yang lebih baik dan berkah. Tidak merusak dan menghancurkan seperti sistem Kapitalisme saat ini.
Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment