Oleh. Tesya Ridal, S.T.
(Pemerhati Generasi)
Artificial Intelligence (AI) kini menjadi tren di berbagai kalangan. Kehadirannya perlu disikapi secara bijak. AI bukan diciptakan untuk menggantikan manusia yang memiliki akal, hati, dan tanggung jawab, melainkan sebagai alat bantu yang mempermudah berbagai aktivitas.
Karena itu, AI hanyalah alat, sedangkan manusialah yang mengarahkan penggunaannya. Bukan sebaliknya, manusia membiarkan cara berpikirnya dikendalikan oleh AI. Sikap seperti ini keliru, sebab AI hanyalah sistem yang mengolah data dan tidak memiliki akal maupun kesadaran.
Fenomena munculnya istilah "Ustaz AI" menunjukkan kemunduran cara berpikir apabila pembelajaran Islam, mulai dari persoalan keluarga, muamalah, hingga kehidupan bernegara beserta dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis, disandarkan sepenuhnya kepada AI. Padahal, Allah menganugerahkan manusia akal dan perasaan yang tidak dapat tergantikan oleh teknologi.
Dikutip dari Republika.co.id (2 Juli 2026), Muchlis menyatakan bahwa AI mampu menjawab kebutuhan masyarakat karena cepat, mudah diakses, dan tersedia kapan saja. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kecepatan memperoleh informasi di ruang digital sering kali mengalahkan kedalaman pemahaman. Oleh sebab itu, generasi muda perlu memiliki literasi digital agar mampu memilah informasi keagamaan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian generasi semakin jauh dari tradisi mempelajari Islam secara kontinu. Islam sering kali hanya diposisikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan beberapa jam di sekolah, bukan sebagai pedoman hidup yang dipelajari, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dalam Islam, penetapan hukum syariat dan pembahasan fikih ditempuh melalui proses ijtihad para ulama yang bersumber dari Al-Qur'an, hadis, ijmak, dan qiyas. Karena itu, platform digital yang tidak memiliki akal dan kesadaran tidak dapat menggantikan kedudukan ulama sebagai pemberi fatwa maupun rujukan dalam persoalan Islam.
Kondisi ini semakin menyadarkan kita bahwa keberadaan para mujtahid dalam sistem kapitalisme sangat minim. Hal ini terjadi karena sistem tersebut tidak berlandaskan syariat Islam. Akibatnya, hukum Islam sering dianggap tidak diperlukan, sedangkan ulama hanya dilibatkan dalam persoalan-persoalan tertentu, bukan sebagai rujukan utama dalam penetapan hukum kehidupan bernegara.
Allah Swt. berfirman:
«وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ ٤٣»
"Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."
(QS. An-Nahl [16]: 43)
AI dapat mengakses berbagai data dan opini dari berbagai laman atau situs web. Dalam hal ini, diperlukan peran negara untuk mengontrol informasi tersebut, apakah sesuai dengan syariat atau tidak. Sebab, informasi yang keliru akan memengaruhi cara berpikir masyarakat. Cara berpikir yang salah pada akhirnya dapat melahirkan tindakan yang menzalimi berbagai aspek kehidupan.
Kondisi ini tidak akan terpikirkan dalam negara yang menganut akidah sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Selain itu, mustahil rasanya hal tersebut mampu menggugah hati para pejabat dalam sistem kapitalisme yang orientasinya bukan menjalankan hukum-hukum Allah.
Hanya sistem Islam yang mampu memberikan solusi atas setiap permasalahan umat dan seluruh aspek kehidupan. Sebab, Islam lahir dari akidah Islam dan syariat yang bersumber dari Al-Qur'an. Dengan demikian, menjadi pemimpin bukanlah sarana untuk bertransaksi dengan rakyat, melainkan amanah untuk mengatur dan mengurus urusan umat sesuai dengan Al-Qur'an, hadis, ijmak, dan qiyas demi meraih rida Allah Swt.
Kembali kepada syariat Islam dalam bingkai Khilafah merupakan solusi bagi umat agar lahir para mujtahid yang mampu menempatkan AI bukan sebagai tempat bertanya tentang syariat, melainkan sebatas alat untuk mempermudah penyusunan kitab-kitab serta karya-karya yang bermanfaat bagi umat.
Wallāhu a'lam bi ash-shawāb.

No comments:
Post a Comment