Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ramadan Tanpa Maksiat, Akan Sulit Tanpa Syariat

Monday, April 21, 2025 | Monday, April 21, 2025 WIB

 



Oleh Tati Ristianti

Komunitas Ibu Peduli Generasi dan Member AMK


Pemerhati meneliti dengan teliti, terkait pengaturan jam operasional usaha pariwisata di Jakarta saat bulan Ramadan. Dinas pariwisata dan ekonomi kreatif DKI Jakarta Nomor e-0001 Tahun 2025, mengumumkan. Bahwa adanya pembatasan jam buka, dibeberapa jenis usaha pariwisata. 

Adapun jenis usaha pariwisata tersebut adalah seperti klub malam, diskotek, mandi uap, rumah pijat, dan arena permainan ketangkasan manual. Hal ini diatur demi menghormati adanya bulan suci Ramadan. Pengaturan tersebut menunjukkan adanya kebolehan untuk tetap melakukan kemaksiatan, asalkan sesuai dengan kebijakan yang pemerintah berikan seperti buka hanya di jam malam (metronews.com, 28/02/2025) disebutkan tentang fasilitasnya, dibarengi dengan hotel bintang empat dan bintang lima (news.republika, 02/03/2025). 

Inilah gambaran bahwa siapapun para pemerhati kita, hasil rumusannya tidak serius dalam menjaga masyarakat dari kemaksiatan. Sebab, banyaknya aktivitas perbuatan justru memiliki potensi yang berujung pada maksiat dan dosa. Siang hari puasa, di malam harinya maksiat. Sungguh kebijakan yang dangkal.

Pengaturan jam operasional yang ketat, sejatinya tidak efektif dalam mencegah kemaksiatan selama Ramadan. Justru atas dasar toleransi, dapat memperburuk keadaan, karena hanya membatasi bukan menghilangkan kemaksiatan. Kesucian Ramadan menjadi rusak, akibat dari salah kebijakan di bawah asuhan kapitalis.

Kapitalisme Bentuk Toleransi Terhadap Maksiat

Suburnya kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat, berawal dari norma hidup yang dipakai saat ini tidak lagi berasaskan Islam. Tetapi, hawa nafsunya yang melekat dengan hati manusia, yakni nilai manfaat. 

Jika ada manfaat, semua masalah akan dicari pembenarannya. Larangan adanya perjudian selama masih ada manfaat, dipelajari mencari pembenaran. Begitu juga dengan tempat-tempat maksiat siang tutup malam harinya buka. Minuman keras (miras) gampang di beli, tempat hiburan diskotek dipelihara, dan lain sebagainya. 

Semua ini, wujud nyata dari pandangan penguasa, pengusaha, dan masyarakat terikat dengan asas kebermanfaatan. Prioritas pemerintah yang hanya memikirkan pendapatan negara, membuat tempat-tempat hiburan tetap buka selama Ramadan. Ini berarti kemaksiatan yang terjadi sengaja ditolerir.

Pengaruh dari sistem kapitalis, nampak pada generasi muda. Mereka hanya berpuasa semata-mata hanya fokus untuk memperbanyak amal pahala di bulan Ramadan. Tetapi hanya sebatas berpuasa dari subuh hingga maghrib, aktivis setelahnya pada pemuasan hawa nafsu, dan maksiat tetap jalan.

Urgensi Syariat Islam Diterapkan dalam Kehidupan

Islam mampu memberi solusi konkrit, dibandingkan sistem kapitalis yang makin menyuburkan kerusakan ditengah-tengah masyarakat. Karena Islam, mengatur berlandaskan akidah bukan asas manfaat. Islam, bisa menjadikan seorang muslim bertingkah laku dengan sudut pandang akidah islam. Yakni berdasarkan baik buruk yang telah distandarkan oleh Syariat Islam. Sedangkan baik dan buruk itu relevan dengan perolehan hasil perbuatan yang dilakukan, yaitu berpahala atau berdosa.

Sehingga, manusia pun menyikapi sesuatu bukan karena adanya manfaat atau tidak, melainkan apakah Allah rida terhadap sikap dan aktivitasnya. Alhasil, ketaqwaan muncul tidak hanya individu tetapi masyarakat. Sehingga suasana ketaatan pun terjaga, baik itu di bulan Ramadhan maupun setelahnya. Kuatnya ketaqwaan dalam diri masyarakat hanya dapat diperoleh dari konsep pendidikan dalam Islam.

Konsep pendidikan islam berfokus pada membentuk syakhshiyah (kepribadian) Islam. Terbentuknya Syakhshiyah, terdiri dari sisi pola pikir dan pola sikap yang lahir dari Islam. Pembentukan pola pikirnya yang khas, yakni pemahaman yang dimiliki itu berstandar pada hukum Syariat Islam, baik dari segi perbuatan maupun benda. Pola pikir yang khas tersebut melahirkan pola sikap yang khas pula, yaitu terlihat pada perilakunya yang sesuai dengan syariat Islam, di seluruh aspek kehidupan.

Sehingga, mewujudkan kepribadian yang memiliki kesadaran bahwa dirinya akan senantiasa terikat pada  Sang Pencipta. Hingga akhirnya selalu berakhlaqul karimah. Sesuai dengan apa yang Allah ridai serta Rasulullah contohkan. Jika kesadaran tersebut terus ada dan kuat, akan berbuah ketaatan dan terhindar dari kemaksiatan. Yang memang senantiasa lekat dengan kerusakan. Dengan kata lain, Islam hadir menjadi junnah (perisai) untuk kehidupan dan pasti akan mewujudkan kesejahteraan, karena sesuai dengan yang Sang Pencipta aturkan.

Kesesuaian tersebut hanya akan ada, jika umat tidak menjadikan Islam sebagai agama musiman, sikap religius hanya pada saat Ramadan saja dan bahkan tetap ada kemaksiatan didalamnya. Namun, menjadi pribadi yang memiliki syakhshiyah Islam, dengan menghadirkan Islam kapanpun dan dimanapun dia berada. Yakni, sebagai ideologi. Ideologi ini pun tidak akan mampu menjadikan masyarakat sejahtera, jika tidak diterapkan dalam ranah institusi bernegara.

Support sistem yang menerapkan syariat Islam secara kafah, maka tidak akan ada fasilitas umum yang berpotensi menyuburkan kemaksiatan. Bahkan menurunkan tingkat kejahatan secara signifikan. Diskotek ditutup, minuman keras dilarang, awal dari miras adalah induk segala perbuatan keji. Situs porno dan judi online pun ditutup. Dengan syariat Islam, insyaAllah akan menciptakan pribadi yang bertakwa dan terpelihara ketakwaannya oleh negara.

Suasana Ramadan pun, akan menjadi bulan kemuliaan yang dinanti kehadirannya. Karena menjadi ladang amal saleh. Karena mereka tahu, bulan Ramadan merupakan bulan diturunkannya petunjuk dari Allah SWT. Yakni Al-Qur’an, yang dapat menuntun seorang penguasa menjadi amanah dan membentuk masyarakat yang bertakwa.

Sudah saatnya negara menerapkan syariat Islam. Tiada lain demi kesejahteraan rakyat akan terwujud dan Islam hadir sebagai junnah (pelindung) rakyatnya dari segala kerusakan, sesuai dengan firman Allah SWT. yang artinya. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Sehingga, Ramadan kali ini sebagai momentum perubahan hakiki. Yang menjadikan Islam tidak hanya agama ritual saja, tapi satu-satunya jalan solusi kehidupan. Yakinlah, bahwa perubahan dan baiknya sikap masyarakat, hanya bisa dicapai dengan penerapan Islam oleh negara. Selain itu, mampu melahirkan generasi emas yang berkepribadian Islam, dan mewujudkan peradaban mulia dan sejahtera.

Wallahu'alam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update