Oleh: Rifdah Reza Ramadan, S.Sos.
Di Indonesia mudik lebaran sudah menjadi tradisi tahunan yang tentunya dinantikan. Namun, permasalahan transportasi masih saja muncul. Mulai dari kemacetan, harga tiket yang melambung naik, bahkan kenyaman saat di perjalanan pun masih menjadi permasalahan. Lantas apakah ini adalah sesederhana masalah teknis, atau justru merupakan cerminan bahwa ada persoalan yang mengakar?
Untuk menghadapi arus mudik lebaran. Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk membantu masyarakat, mulai dari pemberian THR, diskon harga tiket transportasi, hingga mudik gratis. Terdapat 7 kebijakan pemerintah saat Ramadan 2025:
1. THR bagi pekerja swasta, BUMN, dan BUMD diberikan paling lambat tujuh hari sebelum Hari Raya Idulfitri.
2. Pada tahun ini, pemerintah juga menaruh perhatian khusus terhadap para pengemudi dan kurir online, yang untuk pertama kalinya akan menerima bonus hari raya.
3. Pemberian THR dan Gaji ke-13 bagi 9,4 juta Aparatur Negara.
4. Penurunan harga tiket pesawat dalam negeri yang mencapai 13-14 persen. Ini berlaku untuk periode penerbangan tanggal 24 Maret 2025 sampai 7 April 2025.
5. Menurunkan tarif jalan tol sebesar 20 persen di berbagai ruas jalur mudik selama dua minggu.
6. Penurunan harga tiket kereta api sebesar 25 persen sesuai tanggal yang ditentukan.
7. Program mudik gratis dari beberapa kementerian/lembaga, dan diskon tarif paket internet hingga 50%, berkat kerjasama pemerintah bersama penyelenggara layanan telekomunikasi seluler. (SINDOnews.com, 22/03/2025)
Menguak Akar Masalah Transportasi di Indonesia
Walau pemerintah sudah memberikan kebijakan saat Ramadan 2025 terkait mudik lebaran, namun perlu diperhatikan pula bahwa pengelolaan transportasi berbasis kapitalisme hari ini memberikan efek yang tidak bisa disepelekan. Transportasi ala kapitalisme menyebabkan layanan transportasi lebih berorientasi pada profit dibandingkan kepentingan rakyat.
Pemerintah cenderung memberikan keleluasaan pada sektor swasta untuk mengendalikan transportasi. Dengan demikian, kepentingan bisnis lebih diutamakan daripada pelayanan transportasi untuk publik di bawah naungan pengurusan negara.
Urbanisasi yang cenderung tinggi juga memberikan dampak yang tidak bisa diremehkan. Daerah pedesaan makin tertinggal dalam pembangunan dan memaksa masyarakat untuk merantau mencari nafkah ke kota dan inilah yang menciptakan banyaknya pemudik tiap tahunnya.
Solusi Islam: Transportasi Hak Publik
Di dalam Islam, transportasi adalah fasilitas umum yang wajib dikelola negara dan sama sekali tidak diperbolehkan untuk diberikan kepada pihak swasta untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Justru negaralah yang harus menyediakan infrastruktur dan juga layanan transportasi bagi masyarakat yang tentunya aman, nyaman, dan terjangkau bagi rakyat. Jangan sampai rakyat dibuat sulit atau terhambat segala kebutuhan dan aktivitasnya.
Di dalam Islam pun pembangunan tidaklah hanya terpusat pada kota-kota besar saja, tetapi juga dibuat merata ke seluruh wilayah negara. Dengan inilah akan mengurangi arus mudik seperti saat ini yang selalu membludak dan berlebihan.
Maka, transportasi hendaknya dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat, bukan malah dijadikan sebagai komoditas ekonomi. Negara hendaknya pula mengambil peran utama untuk menyediakan layanan transportasi yang berkualitas dan merata untuk seluruh rakyat.
Dengan penerapan Islam yang baik dan benar, Islam telah membuktikan bahwa penerapannya mampu membuat pengelolaan dapat berjalan dengan lancar tanpa membebani rakyat. Hanya dengan Islam kafah negara mempunyai sistem keuangan yang memadai dan sistem keamanan transportasi yang tangguh sesuai syariat-Nya bagi seluruh rakyat. Karena keterikatan dengan syariat-Nya dan memiliki hubungan dengan Allah Ta'ala, maka seluruh pengurus yang diberikan amanah pun akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap hajat hidup publik, tanpa mudah terbeli oleh kepentingan materi.
Ini menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar mengatur ibadah, tetapi juga mengatur sistem sosial yang di dalamnya memastikan rakyat bisa bepergian dengan aman dan nyaman. Sungguh ini semua hanya bisa terjadi di bawah kepemimpinan Islam menyeluruh.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat di atas menegaskan kepada kita bahwa Islam betulan hadir sebagai solusi untuk seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem transportasi yang menjamin keamanan dan kesejahteraan rakyat.
Dengan demikian, mudik hendaknya menjadi momentum kebahagiaan tanpa dibingungkan dengan ketidaknyamanan dan ancaman keselamatan diri. Saatnya kita berpikir lebih dalam bahwa Islam adalah solusi sejati dan hakiki, Islam bukan hanya mengurusi soal teknis, namun juga memberikan perubahan sistemik menuju keadilan dan keberpihakan pada kenyamanan rakyat.
Wallahu a’lam bishawab.

No comments:
Post a Comment