Zahrah (Aktivis Dakwah Kampus)
Ramadan baru aja pamit. Euforia Lebaran udah lewat. Feed Instagram udah balik ke tema healing dan daily outfit, bukan lagi foto bareng keluarga sambil caption “minal aidin wal faizin”. Tapi pertanyaannya sekarang: semua vibes baik-baik selama Ramadan itu, bakal terus lanjut di Syawal? Atau cuma sensasional kayak filter TikTok?
Selama sebulan kemarin, kita bangun subuh buat sahur, shalat lima waktu (plus tarawih) jalan terus, sedekah semangat, lisan dijaga, hati dijaga, bahkan scrolling medsos pun lebih mindful. Tontonin kajian escape, ust felix di youtube bareng Raymond Chin sampai 30 episode. Tapi sekarang, pas Ramadan udah selesai… masih pada lanjut nggak tuh?
Jujur aja, istiqomah itu emang susah. Apalagi buat kita, Gen Z yang hidupnya serba cepat, multitasking, dan gampang terdistraksi. Tapi justru di bulan Syawal ini, kita dikasih tantangan paling real: bisa nggak semua kebiasaan baik itu jadi habits permanen, bukan cuma vibes musiman?
Syawal itu bukan garis finish, tapi titik start. Ibarat Ramadan adalah training camp, maka Syawal dan bulan-bulan berikutnya adalah real life battle. Dan dalam hidup, yang bikin kita menang bukan semangat sesaat, tapi istiqomah—konsistensi sampai malaikat mati say hallo ke kita.
Tapi kenyataannya, nggak sedikit dari kita yang setelah Ramadan malah balik lagi ke “setelan pabrik”. Tapi bukan setelan fitrah, malah setelan lama: bangun siang, shalat bolong-bolong, ngaji hilang dari playlist, dakwah setengah ikhlas dan FYP TikTok balik ke drama receh dan challenge gak jelas. Semua progress spiritual selama Ramadan kayak uninstall sendiri.
Padahal katanya Gen Z itu melek digital, paling update, katanya paling kritis dan paling semangat, biasa jiwa muda. Tapi kok bisa, hal-hal yang justru paling penting bin genting malah dilupakan? Contohnya soal Palestina—waktu lagi trending, semangat upload, share, sampai boikot, nangis-nangis depan layar HP. Tapi begitu algoritma ganti topik, kita pun ikut lupa. Padahal saudara kita di Gaza masih dibantai, tanah mereka masih dijajah, dan umat Islam dunia masih dalam keterpurukan.
Nah, di sini pentingnya kita belajar Islam secara kaffah. Bukan cuma ngaji yang lucu-lucu dan viral, tapi ngaji yang bikin kita paham bahwa Islam itu solusi hidup. Bahwa Islam bukan cuma soal ibadah ritual, tapi juga sistem hidup yang ngatur semuanya—dari akhlak, muamalah, sampai politik dan pemerintahan. Islam itu ngatur kita dari bangun tidur sampai tidur kembali. Dari bangun rumah sampai bangun negara.
Yup, Gen Z juga harus melek politik—tapi politik Islam, bukan politik ala demokrasi yang isinya cuma rebutan kursi, pencitraan, dan janji-janji manis ala tikus berdasi. Politik Islam itu bukan cuma tentang pemilu dan kampanye. Tapi tentang mengurusi urusan umat dengan syariat, tentang kepemimpinan yang adil dan taat pada Allah, bukan pada suara mayoritas. Ini penting, karena perubahan besar gak bakal datang dari sistem rusak—tapi dari sistem yang diturunkan langsung dari langit. Dan itu adalah tugas kita sebagai pemuda muslim untuk merubah kondisi umat yang tadinya Jahiliyah alias bodah jadi tercerahin dan jadi pintar dengan islam.
Dan solusinya? Jelas: tegaknya daulah Islamiyah. Bukan dongeng, bukan utopia. Tapi real project kebangkitan umat. Di bawah Komando Khalifah-lah jihad bisa digerakkan secara sah dan terorganisir. Di bawah daulah islam, Palestina bisa dibela dengan kekuatan militer, bukan cuma hashtag dan air mata. Dan hanya dengan sistem islam, umat Islam bisa bersatu lagi dalam satu kepemimpinan, satu panji, dan satu tujuan: izzul Islam wal muslimin.
Kita, Gen Z, nggak boleh cuma jadi penonton sejarah. Harus ikut turun, jadi pemain inti yang tak kan pernah terganti. Mulai dari upgrade iman, ikut kajian Islam yang kaffah, konsisten dakwah, belajar politik Islam, dan berani speak up tentang Palestina dan jihad sebagai solusi. Ini bukan radikal, ini real. Karena Islam emang diturunkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.
Jadi, setelah Ramadan, jangan balik ke versi lama yah. Upgrade terus!
Jadi Gen Z yang bukan cuma keren di feed, tapi juga keren di hadapan Allah. Bukan cuma trending pas Ramadan, tapi istiqomah sampai akhir zaman. Karena perjuangan kita belum selesai sampai tegaknya diinul islam di muka bumi.

No comments:
Post a Comment