Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Pasca-gencatan senjata, situasi Gaza jauh lebih mencekam. Bumi Gaza kerap disirami hujan darah diikuti serpihan daging manusia akibat gelombang serangan bom Zion*s yang makin masif dan brutal. Mereka pun tidak segan-segan menyerang pengungsian dan membakar hidup-hidup para korban, hingga bumi Gaza pun bergetar dengan pilunya tangis dan jeritan.
Apa yang terjadi di bumi Palestina dengan pemberlakuan kembali blokade darat telah menyebabkan berbagai wilayah dilanda krisis pangan. Jutaan penduduk Gaza yang tersisa kehilangan pendapatan. Mereka pun mengalami kelaparan parah. Sampai-sampai dikabarkan sebagian dari mereka terpaksa memakan daging kura-kura untuk sekadar bertahan.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), merilis data, jumlah korban anak yang tewas sejak berakhirnya gencatan senjata pada 18 Maret 2025 mencapai 600 orang dari 1.522 orang korban. Sementara jumlah anak-anak yang terluka mencapai lebih dari 1.600 orang, dari total 3.834 korban.
Zion*s Tak Faham Kudasai
Firman Allah Ta'ala,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (TQS Al-Anfal [8]: 36)
Demikianlah yang seharusnya kita fahami dari tabi'ah entitas Yahudi. Mereka tak mengerti 'kudasai'. Mereka hanya mengerti bagaimana hancurkan kekuatan iman Islam dan kekuatan serta kekuasaan Islam.
Palestina saat ini, yang kemudian dikenal dengan nama Israel, adalah entitas yang dibuat oleh Barat, khususnya Inggris, ketika menjadi negara adidaya, kemudian dilanjutkan oleh Amerika. Mereka didatangkan ke wilayah Palestina dengan klaim palsu yang kejam.
Klaim tipuan keji sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Theodore Herzl kepada Sultan Abdul Hamid II ditolak mentah-mentah oleh Sultan. Penolakan yang berujung pada konspirasi menjatuhkan beliau dan meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah sebagai benteng terakhir pertahanan Palestina, termasuk Al-Quds, di dalamnya.
Kala Inggris menjadi adidaya dan Palestina di bawah pemerintahan Mandat Inggris, eksodus kaum Yahudi dari Eropa besar-besaran ke Palestina. Skema pembelian tanah, kemudian mereka dipersenjatai, lalu mendirikan “negara” di atas wilayah Palestina, beruntun merunut perampasan keji atas nama janji pemberian Tuhan.
Mereka menjadi agresor dengan dukungan penuh dari Inggris, Amerika, dan negara-negara Barat. Isr4ell sengaja dijadikan sebagai duri di dalam daging yang bisa digunakan untuk menyulut konflik di tengah kaum muslim, khususnya wilayah Syam (Palestina, Yordania, Libanon, dan Suriah) dan Timur Tengah. Sampai saat ini, dalam pandangan Islam, Isr4el tetaplah agresor yang merebut dan menduduki wilayah kaum muslim.
Status Isr4el sampai saat ini tidak berubah, tetap merupakan kafir harb fi’lan, yaitu entitas yang dengan nyata melakukan serangan terhadap negara atau wilayah kaum muslim. Meski berbagai upaya perdamaian telah dilakukan oleh sejumlah penguasa kaum muslim, status Isr4el tetap tidak berubah, menjadi kafir harb hukman ataumenjadi kafir mu’ahad, yaitu entitas kaum kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslim dan negara Islam. Kudasai rakyat Palestina tidak pernah mereka mengerti.
Seiring dengan itu, para penguasa kaum muslim yang melakukan perdamaian dengan entitas Israel itu tidak mewakili kaum muslim, bahkan tidak sedikit di antara mereka justru merupakan antek dan kaki tangan negara-negara kafir penjajah. Oleh karena itu, berbagai upaya perdamaian yang telah dilakukan oleh para penguasa kaum muslim itu tetap tidak bisa mengubah status Isr4el menjadi dar al-harb hukman atau mu’ahad.
Berbagai upaya perdamaian yang telah dilakukan oleh sejumlah penguasa kaum muslim, termasuk melakukan normalisasi hubungan dengan Isr4el, sesungguhnya bisa dianggap sebagai bentuk pengkhianatan kepada Allah, Rasul, dan kaum muslim. Oleh karena itu, dalam pandangan Islam, upaya perdamaian dan normalisasi hubungan dengan Israel itu dianggap tidak pernah ada dan tidak mempunyai nilai sedikit pun dalam pandangan Islam.
Isr4el dan Kekuatan Semu
Pertanyaannya apakah entitas Isr4el kuat? Jawabannya, sebenarnya mereka tidak kuat, tetapi sengaja diciptakan seolah-olah kuat. Mereka dipertahankan oleh negara-negara kafir penjajah untuk terus-menerus menjalankan agenda penjajahannya di negeri kaum muslim.
Mereka pun dijaga oleh para penguasa kaum muslim yang ada di sekelilingnya, khususnya penguasa Timur Tengah, yang selama ini menjadi agen dan pelayanan negara-negara kafir penjajah. Bayangkan, misalnya, Iran yang mempunyai senjata nuklir dan militer yang lebih besar daripada Isr4el, menyerang Isr4el, pasti Isr4el kalah. Jangankan Iran sebagai negara, Isr4el saja kalah dengan Hizbullah, padahal Hizbullah hanyalah organisasi milisi, bukan negara.
Permasalahannya adalah baik Iran maupun Hizbullah, sama-sama tidak bekerja dan melayani kepentingan Islam dan umatnya, tetapi bekerja dan melayani kepentingan negara-negara kafir penjajah, khususnya Amerika. Sebelumnya, Irak, di bawah Saddam Husein, juga sama. Dengan senjata nuklir dan militer yang lebih besar daripada Israel, kalau saat itu Irak mau menyerang Israel, maka Isr4el pasti kalah. Namun, Irak tidaklah bekerja dan melayani kepentingan Islam dan umatnya, tetapi bekerja dan melayani kepentingan negara-negara kafir penjajah, khususnya Inggris. Begitu juga dengan Suriah di bawah Hafidz Assad dan Bashar Assad, dan yang lain-lain.
Inilah fakta negara-negara kaum muslim di sekitar Palestina. Negara-negara ini tidak bekerja dan melayani kepentingan Islam dan umatnya, tetapi bekerja dan melayani kepentingan negara-negara kafir penjajah. Ada Inggris, Amerika, dan Prancis. Oleh karena itu, meski negara-negara tersebut mempunyai senjata nuklir dan militer yang lebih besar daripada Israel, tetap saja tidak digunakan untuk menyerang Israel. Justru digunakan untuk menyerang negeri kaum muslim. Sebagaimana yang dilakukan Saddam terhadap Kuwait pada era 1990-an.
Masalah Palestina, Masalah Kaum Muslim
Sungguh, masalah Palestina merupakan masalah kaum muslim di seluruh dunia, bukan hanya masalah bangsa Arab, apalagi direduksi hanya masalah rakyat Palestina. Ini karena Palestina adalah tanah kharajiyah yang merupakan milik kaum muslim di seluruh dunia, bukan hanya milik rakyat Palestina atau bangsa Arab.
Di Palestina juga ada Masjidilaqsa serta tempat Isra dan Mikraj Nabi Muhammad saw., yang bukan hanya milik rakyat Palestina atau bangsa Arab, tetapi merupakan milik umat Islam di seluruh dunia. Oleh karena itu, masalah Palestina bukan hanya masalah rakyat Palestina dan bangsa Arab, tetapi masalah umat Islam di seluruh dunia.
Solusinya bukan terkait masalah teritorial, tetapi eksistensi. Artinya, yang menjadi masalah bagi rakyat Palestina, bangsa Arab, dan kaum muslim di seluruh dunia, bukan masalah teritorial entitas Isr4el, tetapi eksistensi entitas itu di wilayah Palestina. Itulah masalah utamanya.
Selama eksistensinya tetap ada di sana, selama itu pula masalahnya tidak selesai. Oleh karena itu, solusinya adalah dengan menghilangkan eksistensinya dari wilayah Palestina, sebagaimana saat Khilafah masih ada.
Solusi ini tidak bisa diwujudkan melalui negara-negara dan penguasa kaum muslim saat ini. Pertama, karena memang negara-negara tersebut adalah negara yang dibatasi teritorial yang dikenal dengan nation state. Ini tentu berbeda dengan Khilafah yang ada saat itu. Kedua, negara-negara dan penguasa kaum muslim saat ini tidak bekerja dan melayani kepentingan Islam dan umatnya, tetapi bekerja dan melayani kepentingan negara-negara kafir penjajah.
Dari dua fakta di atas sebenarnya sudah bisa ditemukan solusinya. Tidak lain adalah dengan adanya negara adidaya Islam, yang tidak dibatasi dengan teritorial. Negara ini hanya bekerja dan melayani kepentingan Islam dan umatnya, bukan bekerja dan melayani kepentingan negara-negara kafir penjajah. Jika ini ada, maka solusi hakiki dan permanen untuk menyelesaikan masalah Palestina ini sangat mudah.
Adanya negara adidaya yang menyatukan suara kaum muslim ini saat ini hukumnya wajib. Pasalnya, sudah lebih dari 40 tahun masalah Palestina ini tidak kunjung selesai. Sebagaimana dalam kaidah usul,
لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna, kecuali dengan adanya sesuatu, maka hukum adanya sesuatu itu menjadi wajib.”
Para fukaha telah menetapkan kewajiban negara tersebut menjadi sepuluh. Kewajiban ini dipilah oleh Syekh Wahbah Zuhaili menjadi dua, yaitu:
Pertama, kewajiban terkait dengan agama:
- Menjaga agama. Al-Mawardi menyatakan, “Menjaga agama sesuai dengan pokok-pokok usulnya yang tetap dan apa yang disepakati oleh umat terdahulu.”
- Memerangi musuh.
- Menarik fai dan zakat. Yang dimaksud dengan fai di sini adalah harta yang sampai kepada kaum muslim dari kaum musyrik, atau mereka menjadi sebab sampainya harta tersebut. Adapun zakat merupakan kewajiban bagi kaum muslim.
- Mendirikan syiar agama; seperti azan, salat Jumat, salat jemaah, hari raya, menyatukan puasa dan hari raya, haji, serta memimpin umat salat berjemaah.2
Kedua, kewajiban politik:
- Menjaga keamanan dan sistem umum negara. Al-Mawardi menyatakan, “Menjaga wilayah, dan mempertahankan kehormatan, supaya orang bisa hidup dengan harmonis. Mereka bisa bepergian tanpa rasa khawatir, baik terhadap jiwa maupun hartanya. Inilah yang saat ini dilakukan oleh polisi.”
- Mempertahankan negara dari serangan musuh. Al-Mawardi menyebutnya, “Membentengi perbatasan dengan peralatan yang bisa digunakan untuk mencegah dan kekuatan yang bisa menghalangi sehingga tidak ada musuh yang berani menyerang kehormatan atau menumpahkan darah kaum muslim atau mu’ahad di sana.”
- Mengurus dan menyupervisi sendiri urusan umum.
- Menegakkan keadilan.
- Mengelola harta.
- Mengangkat para pegawai yang amanah dan profesional.
Inilah tugas negara Islam yang ditulis oleh Al-Mawardi dalam kitabnya, Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah. Jika negara ini ada dan melaksanakan sepuluh tugas ini, maka masalah Palestina ini sudah lama selesai.
Saat kaum muslim masih mempunyai negara, dan negaranya lemah saja, [bangsa] Tatar yang kuat bisa dikalahkan dan Konstantinopel bisa ditaklukkan. Lebih-lebih jika negaranya kuat dan menjelma menjadi adidaya dunia, maka urusan dengan entitas Isr4el itu tidak membutuhkan waktu lama, karena kudasai tak pernah dimengerti Z*onis. Mereka hanya faham Jihad dan Khilafah tanpa nanti, tanpa basa basi.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment