Pegiat Literasi
Penderitaan rakyat Palestina seolah tiada akhir, sejak serangan Israel 7 Oktober 2023 lalu, ribuan orang telah syahid, dan sebanyak 39.000 anak di Gaza kehilangan satu bahkan kedua orang tuanya. Angka ini dirilis menjelang peringatan Hari Anak Palestina pada 5 April lalu. Dari jumlah ini, 17.000 di antaranya telah menjadi yatim piatu, kini mereka melanjutkan hidup tanpa dukungan dan perawatan, berlindung di bawah reruntuhan rumah dan tenda-tenda yang telah robek. Perang telah merenggut orang tua, masa kecil, rasa aman dan masa depan mereka, juga menciptakan krisis yatim dan piatu terbesar sepanjang sejarah modern. (mediaindonesia.com, 05/04/2025)
Hari anak seharusnya dirayakan dengan sukacita, namun tidak dengan anak-anak Palestina. Mereka justru kehilangan orang tua, keluarga, bahkan nyawanya sendiri. Ironisnya hal ini terjadi di tengah kampanye HAM dan juga perlindungan yang selalu digembar-gemborkan oleh Barat. Bahkan konvensi PBB untuk anak-anak UNHCR, yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh kehidupan, dan perkembangan, perlindungan dari pelecehan, kekerasan dan pengabaian, pendidikan, mengungkapkan pendapatnya, serta hak dibesarkan oleh orang tua.
Namun, semua narasi di atas tidak berlaku untuk anak-anak Palestina. Mereka kehilangan hak atas pendidikan, diasuh orang tua, perawatan, bahkan untuk nyawa pun telah direnggut oleh kebiadaban Zionis Yahudi sejak mereka masih belia. Kalau pun masih hidup entah bagaimana masa depan mereka di tengah segala keterbatasan. Tidak ada sesuatu pun untuk dimakan, tak ada air bersih untuk diminum. Kematian orang-orang tersayang menjadi pemandangan yang mengerikan di setiap harinya, fisik dan jiwa mereka terluka. Lalu bagaimana mereka bisa bertahan hidup?
Sementara itu, negara-negara muslim dan organisasi-organisasi dunia seperti Liga Arab, OKI bahkan PBB lebih memilih bungkam dan tidak berbuat banyak untuk melindungi dan menghentikan genosida terhadap anak-anak Palestina, mereka takluk oleh Zionis dan sekutunya. Selama penjajah masih menduduki Gaza, mereka tidak akan pernah merasakan kebahagiaan, keamanan, dan kesejahteraan. Mereka selalu berada dalam keadaan terancam. Lalu kemana para aktivis HAM yang selama ini kerap bersuara, mengapa mereka hanya diam melihat ketidakadilan itu?
Kekejaman Zionis tidak berhenti pada anak-anak, bahkan pada Hari Raya Idulfitri pun mereka tetap membombardir Gaza. Diperkirakan 1.309 warga Palestina meninggal dunia pasca gencatan senjata, termasuk di dalamnya para relawan kemanusiaan, tenaga medis dan juga jurnalis. Semua ini semestinya menyadarkan umat bahwa tidak ada yang bisa diharapkan dari lembaga-lembaga internasional melalui diplomasi, sebab organisasi-organisasi tersebut justru dipergunakan untuk menjaga integritas Amerika Serikat di negeri muslim, terutama Timur Tengah.
Pembebasan Palestina bukan berada di tangan Barat, bukan juga di bawah penguasa negeri-negeri muslim yang menjadi antek asing. Mereka telah terbukti membiarkan negeri kaum muslimin itu hancur lebur tanpa ada upaya serius selain kecaman dan diplomasi. Bahkan Mesir, dan Yordania menolak relokasi karena mereka enggan hidup bersama dan memberi tempat bagi saudara seiman di negaranya.
Oleh karena itu, harapan pembebasan Palestina hanya ada pada kepemimpinan Islam, yang akan menjalankan fungsinya sebagai raain (pengurus) sekaligus junnah (perisai) umat Islam di seluruh dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
“Sesungguhnya Al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaannya)-nya.” (HR Muttafaqun ‘alayh)
Pemimpin Islam tidak akan membiarkan penjajahan menimpa rakyat Palestina. Ia akan melawan Zionis Yahudi dengan jihad fisabilillah. Sebagaimana yang Allah perintahkan dalam QS Al-Baqarah: 191 yang artinya:
“Perangilah mereka di mana saja kalian jumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.”
Negara yang menerapkan Islam secara kafah telah terbukti selama 13 abad mampu melindungi Palestina. Mulai pembebasan Baitul Maqdis dari penjajahan Romawi oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. kemudian oleh dibebaskan pula oleh Salahuddin al-Ayyubi dari serangan pasukan Salib. Bahkan ketika kepemimpinan Islam telah mulai melemah yakni pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah, Khalifah Abdul Hamid II tidak mengizinkan entitas Yahudi memiliki satu jengkal pun tanah kaum muslimin itu.
Penguasa Islam bukan hanya melindungi Palestina, tetapi juga memberikan dukungan terbaik bagi tumbuh kembang anak-anak, menjamin seluruh haknya, mulai dari sandang, pangan, papan, pendidikan, keamanan, dan kesehatan, sehingga mereka bisa menjadi generasi cemerlang dari masa ke masa. Membangun negerinya dengan infrastruktur modern dan menjadi wilayah yang makmur dengan tata kota yang apik dan penduduknya sejahtera.
Kini, setelah kepemimpinan Islam runtuh sepenuhnya, pelindung umat pun sirna. Umat Islam bak anak ayam kehilangan induk, tercerai-berai menjadi negara bangsa yang dikungkung oleh nasionalisme. Sehingga mudah diadu domba dan dijajah. Tanpa adanya komando dari negara yang menerapkan syariat secara menyeluruh, umat tidak bisa melakukan pembelaan secara maksimal terhadap saudara seiman, meskipun mereka sangat ingin melakukannya. Padahal mobilisasi militer dan jihad fisabilillah adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan anak-anak Gaza, sekaligus solusi hakiki pembebasan Palestina yang seharusnya menjadi agenda perjuangan umat Islam sedunia. Wallahu alam Bissawab
No comments:
Post a Comment