Oleh: Fitri Fatmawati
(Praktisi Kesehatan dan Pemerhati Generasi)
Jumlah korban tewas akibat genosida Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 50.523 orang, dengan 114.776 lainnya terluka sejak awal genosida. Laporan terbaru lebih dari 39.000 anak di Jalur Gaza telah kehilangan satu atau kedua orangtua mereka akibat serangan Israel yang terus-menerus sejak 7 Oktober 2023.
Menurut Biro Pusat Statistik Palestina mengatakan "Anak-anak hidup dalam kondisi yang tragis, banyak yang terpaksa berlindung di tenda-tenda yang rusak atau rumah-rumah yang hancur, dengan hampir tidak adanya perawatan sosial dan dukungan psikologis,"
"Jalur Gaza menderita krisis anak yatim piatu terbesar dalam sejarah modern."
Sedangkan kematian yang menimpa anak-anak sendiri setidaknya 17.954 anak telah tewas dalam serangan Israel di Gaza, termasuk 274 bayi baru lahir dan 876 bayi di bawah usia satu tahun.
Tak Pantas Berharap Pada Lembaga Internasional
Banyak di antara kita bertanya-tanya kemana lembaga kemanusiaan, organisasi internasional seakan-akan diam membisu tak ada efek sama sekali bahkan genosida makin parah. Israel seakan-akan tambah memberanikan diri untuk terus menghabiskan rakyat di Gaza baik sipil maupun militernya.
Semua fakta kezaliman ini terjadi di tengah narasi soal HAM dan tetek bengek aturan internasional dan perangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak. nyatanya aturan-aturan tersebut tak mampu menghentikan apalagi mencegah penderitaan anak-anak Palestina. Padahal UNCRC (Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa) ini sudah diadopsi sejak 1989 namun nyatanya hanya narasi belaka.
Saatnya Sadar Solusi Yang Hakiki
Dari fakta semua ini semestinya menyadarkan umat bahwa tidak ada yang bisa mereka harapkan dari lembaga-lembaga internasional dan semua aturan yang dilahirkannya. Masa depan Gaza/Palestina ada pada tangan kita, yakni pada kepemimpinan politik Islam atau khilafah yang semestinya sungguh-sungguh harus kita bersama perjuangkan.
Khilafah berfungsi sebagai rain dan junnah, tidak akan pernah membiarkan kezaliman menimpa rakyatnya. Khilafah terbukti selama belasan abad berhasil menjadi benteng pelindung yang aman, dan memberikan support sistem terbaik bagi tumbuh kembang anak sehingga mereka bisa menjadi generasi cemerlang pembangun peradaban emas dari masa ke masa.
Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu. bahwa Nabi Muhammad –sallallahu alaihi wasallam– bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.)
Butuh Kontribusi Nyata
Ketika berbagai cara sudah berusaha kita lakukan mulai berdonasi, memboikot produk-produk yang terafiliasi Israel, menshare info yang berkaitan dengannya, mengilmui diri dan selemah-lemahnya iman dengan mendo’akannya tapi sudah lebih setahun bahkan hampir dua tahun, problem ini belum berhenti. Maka perlu alternatif revolusioner yang mampu mensolusi berbagai persoalan ini. Bahkan bukan hanya di Gaza saja tetapi di berbagai wilayah lain seperti Uyghur, Rohingya. Dan semua ini tak mungkin secara personal yakni harus secara kolektif.
Sebagai seorang muslim wajib terlibat dalam memperjuangkan kembalinya khilafah agar kita punya hujjah bahwa kita tidak diam berpangku tangan melihat anak-anak Gaza dan orang tua mereka dibantai oleh zionis dan sekutu-sekutunya. Juga memastikan bahwa langkah yang kita ambil sudah benar. Persoalan anak-anak Gaza akan selesai ketika persoalan Palestina juga terselesaikan secara tuntas. Dan solusi tuntas hanya dapat terwujud dengan jihad dan khilafah.
