Oleh Nani, S.PdI (Relawan Opini Andoolo Konawe Selatan)
Ramadhan yang semestinya menjadi kebahagiaan bagi seluruh umat Islam di dunia serta disambut dengan penuh sukacita, justru berbeda dengan saudara kita di Palestina. Mereka menyambutnya dengan penuh dukacita karena dibatasi untuk beribadah di tempat suci mereka dengan dalih keamanan.
Laporan dari SINDOnews.com (4/3/2025), mengkonfirmasi bahwa rezim Zionis Israel kembali memberlakukan restriksi ketat terhadap akses umat Islam ke Masjid Al-Aqsa selama Ramadan 2025. Bahkan, aparat keamanan telah disiagakan untuk menindak tegas setiap pelanggaran. Pembatasan ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh di Gaza, menunjukkan bahwa meskipun tidak ada konfrontasi militer aktif, tekanan dan penindasan terhadap hak-hak beribadah umat Islam Palestina terus berlanjut.
Sebagai respons atas kebijakan represif ini, kelompok Hamas, seperti yang dilansir oleh Antara pada Sabtu, 1 Maret 2025, menyerukan kepada seluruh warga Palestina untuk memfokuskan ibadah di Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan. Pernyataan Hamas menekankan pentingnya menjadikan hari dan malam Ramadan sebagai momentum untuk beribadah, memperkuat keteguhan hati, dan melakukan perlawanan terhadap pendudukan ilegal serta para pemukim. Seruan ini adalah bentuk penolakan nyata terhadap upaya Israel untuk mengkooptasi Al-Quds dan membatasi hak umat Islam.
Lebih lanjut, imbauan solidaritas juga digaungkan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk memberikan dukungan kepada saudara-saudara mereka di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem. Dukungan ini menjadi penting sebagai wujud persaudaraan dan kepedulian terhadap kondisi sulit yang dihadapi umat Islam Palestina.
Sheikh Ekrima Sabri, seorang pengkhotbah di Masjid Al-Aqsa, pada Jumat malam, 28 Februari 2025, mengungkapkan bahwa otoritas Israel diduga kuat membatasi akses ke masjid melalui karantina wilayah dengan dalih keamanan. Tindakan ini semakin memperjelas upaya sistematis untuk menghalangi umat Islam Palestina menjalankan ibadah mereka dengan tenang dan khusyuk, terutama di bulan Ramadan yang penuh kemuliaan.
Kekejaman rezim Zionis yang terus berulang, mengancam, dan bahkan secara terang-terangan membatasi akses umat Islam Palestina ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada bulan Ramadan ini adalah tindakan yang tidak dapat dibiarkan. Upaya ini jelas bertujuan untuk menciptakan ketidaknyamanan dan menghilangkan kekhusyukan dalam beribadah.
Menyikapi kondisi ini, penting untuk menyadari bahwa mengharapkan solusi dari kekuatan kapitalis dunia adalah ilusi belaka. Sistem kapitalisme yang dianut oleh kekuatan-kekuatan Barat seringkali didasari oleh kepentingan materi dan geopolitik yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal, apalagi dengan kepentingan umat Islam. Mereka cenderung tidak ingin melihat kebangkitan dan kejayaan Islam karena khawatir akan hilangnya pengaruh dan kekuasaan mereka.
Islam, sebagai sebuah ideologi yang memiliki daya ekspansi yang kuat, menawarkan solusi hakiki untuk permasalahan ini. Oleh karena itu, di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, mari terus memberikan perhatian dan dukungan nyata kepada saudara-saudara kita di Palestina. Salah satu langkah penting adalah dengan menyebarkan informasi mengenai kondisi mereka dan solusi mendasar yang dibutuhkan. Dengan demikian, kesadaran umat Islam akan penderitaan saudara di Palestina yang sedang menghadapi genosida akan terus terjaga.
Momentum ini harus menjadi pemicu bagi persatuan umat Islam secara global. Umat perlu bersatu dan menyingkirkan segala penghalang yang ada di negeri masing-masing, kemudian bersama-sama menuntut penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam seluruh aspek kehidupan.
Umat Islam tidak lagi dapat menggantungkan harapan pada solusi yang ditawarkan oleh Barat maupun narasi-narasi palsu tentang perdamaian yang seringkali menguntungkan pihak penjajah. Entitas Zionis adalah kekuatan agresor (muhariban fi'lan) yang hanya dapat dihadapi dengan kekuatan yang setara, sebuah bahasa perang yang akan efektif dan solutif jika berada di bawah kepemimpinan seorang Khalifah.
Penegakan kembali Khilafah adalah sebuah isu yang menentukan (qadliyah mashiriyah) dan wajib menjadi agenda utama seluruh umat Islam. Untuk mewujudkan hal ini, dibutuhkan dakwah yang terorganisir dan berlandaskan ideologi Islam yang kuat untuk membangun kesadaran umat akan kewajiban menegakkan Khilafah dan berjuang bersama-sama untuk mewujudkannya, serta menyerukan jihad yang terarah untuk pembebasan Palestina.
Dengan persatuan, kesadaran, dan perjuangan yang berlandaskan ajaran Islam, umat Islam memiliki potensi besar untuk membebaskan Al-Quds dan mengembalikan kemuliaan Islam di muka bumi. Ramadan ini harus menjadi titik balik kebangkitan umat untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Wallahu ‘alam bissawab.

No comments:
Post a Comment