Oleh: Aisyah Abdullah (Pegiat Literasi)
Bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur'an. Sebab di bulan ini ayat-ayat Allah, turun kepada Rasulullah untuk memberikan petunjuk, memberikan penjelasan mengenai petunjuk tersebut, dan menjadi pembeda antara hak dan batil. Momentum turunya wahyu ini diperingati sebagai Nuzulul Qur'an. Peringatan Nuzulul Qur'an juga diperingati oleh seluruh kaum muslim didunia. Dengan cara dan tradisi yang berbeda-beda. Begitu pula dibumi pertiwi. Malam Nuzulul Qur'an dirayakan dengan meriah membawa aneka makanan ke surau, lalu di isi dengan tausiyah oleh Ustadz kepada jama'ah yang telah hadir. Tentu pesan yang ingin diwujudkan adalah tersiarnya syi'ar keislaman. Juga sebagai bentuk penghormatan kaum muslimin akan keagungan ayat-ayat Al-Qur'an.
Ditahun ini untuk menyemarakkan peringatan Nuzulul Qur'an Kemenag mengadakan event bertajuk khataman Al-Qur'an 30 Juz. Sebagaimana dilansir dari Metro TV. Pada 16 Ramadhan 1446 Hijriah Kementerian Agama menggelar 350 ribu Khataman Al-Qur'an diseluruh wilayah di Indonesia.
Kegiatan ini pula ikut dimeriah oleh Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan yang ikut serta dalam peringatan Nuzulul Qur'an dengan program bertajuk Indonesia Khataman Al-Qur'an di Sulsel dipusatkan di Aula Kantor Wilayah Kemenag Sulsel Makassar.
Ali Yafrid Kakanwil Kemenag Sulsel mengatakan bahwa program ini diharapkan mampu menguatkan keIslaman dan kebangsaan serta mengajak umat Islam untuk mencintai, memahami, dan meneladani Al-Qur'an. Kepada Metro TV (Minggu, 16/03/25).
Nuzulul Qur'an adalah peristiwa turunnya wahyu pertama dari Allah SWT kepada baginda Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Peristiwa ini pun menjadi titik awal Al-Qur'an sebagai pedoman hidup bagi manusia.
Namun sayang peringatan Nuzulul Qur'an seakan hanya menjadi tradisi Ramadhan dan seremonial belaka yang diadakan tiap tahunnya oleh umat Islam tidak dijadikan sebagai pedoman hidup. Sebab di tengah kemeriahan memperingati Nuzulul Qur'an realita umat Islam saat ini masih hidup di bawah aturan yang tidak bersumber dari Al-Qur'an melainkan dari akal manusia.
Indonesia salah satu negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia saat ini diatur oleh sistem demokrasi kapitalisme. Dimana sistem ini dengan asas sekulernya telah memisahkan peran agama mengatur kehidupan.
Sistem ini telah menjadikan akal manusia yang terbatas dan lemah sebagai sumber aturan yang berpotensi menimbulkan pertentangan dan lahirnya berbagai problem dalam kehidupan.
Dalam sistem kapitalisme sekuler pula kedaulatan berada ditangan rakyat menjadikan manusia sebagai penentu hukum, berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan pribadi bukan atas kebenaran hakiki yang bersumber dari Al-Qur'an. Hal ini menyebabkan terjadinya ketimpangan dalam penerapan hukum dan keadilan yang seharusnya berlandaskan pada wahyu Allah SWT.
Kita bisa menyaksikan fakta saat ini akibat hegemoni sistem sekularisme dan kapitalisme bulan Ramadhan nampaknya belum membawa perubahan bagi nasib kaum muslim di seluruh dunia. Dimana umat Islam semuanya masih hidup dalam keadaan terpuruk, tertindas, terhina dan terzalimi. Musuh-musuh Allah tidak berhenti membunuh dan menjajah kaum muslim sebagaimana yang terjadi di Gaza(Palestina). Para pemimpin negeri-negeri muslim pun masih saja mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat. Misalnya kenaikan pajak, privatisasi SDA, pengurangan subsidi pada sektor-sektor vital dan lain-lain.
Al-Qur'an Pedoman Hidup
Al-Qur'an adalah petunjuk bagi umat manusia mengarungi kehidupan. Al-Qur'an telah memberikan penjelasan terhadap segala sesuatu. Allah SWT berfirman " kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Al-Qur'an sebagai penjelas segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim." (Al-Baqarah : 89).
Maka dari ayat ini jelas umat Islam wajib menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup sekaligus sumber hukum utama yang mengatur segala aspek kehidupan serta sebagai solusi bagi setiap permasalahan yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan.
Al-Qur'an sudah semestinya menjadi landasan hidup bagi setiap individu, masyarakat dan landasan dalam bernegara. Berpegang teguh pada Al-Qur'an merupakan bagian dari pada konsekuensi dari rukun iman yang ketiga. Cacat keimanan seseorang jika hanya beriman kepada Allah namun tidak beriman kepada Al-Qur'an sebagai pedoman hidup seorang muslim yang menyentuh setiap aspek kehidupan seorang muslim.
Al-Qur'an bukan hanya sekedar untuk bacaan, tidak cukup hanya sekedar dihafal, tetapi mengamalkan semua isi kandungan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Karena dalam Al-Qur'an terkandung pedoman yang sempurna untuk membawa umat manusia dalam kehidupan yang benar dan keberkahan hidup.
Oleh sebab itu semua umat manusia dan khususnya pada seluruh kaum muslim yang ada disegala penjuru dunia harus menyadari terkait kewajiban berpegang teguh pada Al-Qur'an secara keseluruhan dan memperjuangkannya sebagai pedoman hidup tidak hanya bagi individu, bagi masyarakat namun bagi negara pula.
Untuk mewujudkan agar Al-Qur'an dijadikan sebagai dasar yang mengatur segala aspek kehidupan dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh melalui partai politik ideologis.
Wallahu a'lam

No comments:
Post a Comment