Oleh : Rifka Nurbaeti, S.Pd
Bupati Bandung Dadang Supriatna berkomitmen untuk memberantas buta aksara dan buta baca Al-Qur'an, dengan berbagai program seperti insentif guru ngaji dan pendidikan muatan lokal mengaji dan menghafal Al-Qur'an. Angka buta aksara Al-Qur'an di Indonesia masih tinggi, dengan penelitian Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta (2024) mengungkap sekitar 72,25% umat Islam belum mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. (Sumber: Ketik.co.id | Media Kolaborasi Indonesia)
Melalui peringatan Nuzulul Qur'an ini, Bupati Bedas ini berharap semakin mencintai Al-Qur'an, membacanya, memahami kandungannya, dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Bupati Kang DS mengajak seluruh kaum muslim di Kabupaten Bandung, untuk menanamkan kembali pemahaman yang benar tentang Al-Qur'an. Sehingga kita dapat mewujudkan masyarakat yang agamis serta berkontribusi dalam membangun Kabupaten Bandung yang lebih Bedas, maju, berkelanjutan menuju Indonesia Emas," harapnya.
Peringatan Nuzulul Qur’an yang setiap Ramadan diselenggarakan janganlah sebatas seremonial belaka. Pengentasan buta aksara al-Quran jelas harus serius dilakukan. Namun tidak cukup hanya sebatas agar kaum muslim bisa membaca Al-Qur'an, namun yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana agar Al-Qur'an dikaji, dipahami, dan diamalkan serta disebarkan ke tengah-tengah umat manusia.
Kondisi Umat Tanpa Al-Qur’an
Saat ini, disamping kondisi banyaknya kaum muslimin yang tidak bisa membaca Al-Qur’an mulai dari faktor jumlah siswa yang tidak sebanding, minat siswa kurang, motivasi keluarga dan kompetensi guru juga kurang, diperparah lagi dengan sistem pendidikan yang diterapkan saat ini hanya 2 jam/minggu belajar agama. Jadi bagaimana mungkin dengan waktu yang sangat sedikit bisa mengentaskan buta huruf Al-Qur’an.
Terlebih lagi, umat Islam tidak hidup di bawah cahaya Al-Qur’an bahkan banyak diabaikan penerapannya dalam kehidupan masyarakat dan negara. Saat ini, lebih dari 100 tahun mereka melewati Ramadan ke Ramadan. Namun, spirit Al-Qur’an yang turun saat Ramadan tidak juga menggerakkan mereka untuk segera menerapkannya dalam kehidupan.
Mereka tampak lebih percaya pada pemikiran manusia yang lemah dalam membuat undang-undang. Tidak peduli atas peringatan yang begitu mengerikan dari Allah Swt. bagi para pendusta Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 182-183 yang artinya: “Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami akan Kami biarkan secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku sangat teguh.”
Apalagi sudah jelas, akibat mengabaikan Al-Qur’an dan hukum-hukumnya, negeri ini menjadi gelap. Lihatlah berbagai bentuk kemungkaran dan kebatilan yang merajalela di negeri ini, seperti korupsi triliunan rupiah oleh para pejabat rakus, maraknya judi online, perampasan tanah rakyat oleh oligarki serakah, bencana alam yang bertubi-tubi akibat rusaknya lingkungan, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, pelacuran, penipuan dan kebohongan oleh para petinggi negeri, bunuh diri dan pembunuhan, serta perampokan sumber daya alam milik rakyat oleh kaum kapitalis. Semua kerusakan ini persis seperti yang digambarkan Al-Qur’an. (Lihat: QS. Ar-Rum [30]: 41; QS. Thaha [20]: 124).
Mengembalikan Al-Qur'an Sebagai Pedoman Hidup
Sungguh, umat semestinya sadar bahwa wujud takwa yang hakiki adalah dengan hidup bersama Al-Qur’an, yakni dengan menerapkan hukum-hukumnya (tanpa pengecualian) di bawah institusi politik Islam (Khilafah). Dengan cara inilah, karakter risalah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan segera terwujud. Umat Islam akan kembali tampil sebagai umat mulia dan menjadi pionir peradaban, sedangkan kaum kafir akan tunduk merendah di hadapan Khilafah Islam.
Sejatinya pula, ayat-ayat dalam Al-Qur’an tidak hanya berbicara soal urusan individu, melainkan juga mengatur urusan komunal, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga negara. Al-Qur’an mengandung hukum soal ibadah, akhlak, makanan dan minuman yang individual, tetapi juga mengatur soal pembagian peran dan fungsi laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Juga urusan politik, muamalah dan sanksi, yang dalam penerapannya perlu support system dari negara.
Sungguh, umat semestinya kuat keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah tuntunan hidup sepanjang zaman. Kemuliaan mereka hanya ada pada aturan Islam yang sempurna ditegakkan. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim)
Wallahualam bissawab.
No comments:
Post a Comment