Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Membumikan Al-Quran: Menjadikannya Pedoman Hidup Pribadi, Masyarakat dan Negara

Friday, March 28, 2025 | Friday, March 28, 2025 WIB

 


Oleh Sri Nurhayati, S.Pd.I

Praktisi Pendidikan


Ramadhan bulan yang penuh berkah dan mulia ini sudah hampir sampai ke penghujungnya. Ramadhan bulan yang memiliki keistimewaan, seperti salah satu keistimewaan itu adalah di bulan ini diturunkannya Al-Quran. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 185 yang artinya, “Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk manusia dan penjelasan-penejelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil).”

Al-Quran sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas adalah petunjuk jalan bagi manusi agar manusia tidak terjerumus pada kesesatan, karena Al-Quran merupakan penjelas bagi manusia dan pembeda antara yang hak dan batil.

Turunnya Al-Quran adalah rahmat bagi kita serta diturunkan di bulan mulia dan penuh berkah ini. Sehingga, tak salah jika setiap Ramadhan kita sering memperingati peringatan Nuzul Quran.

Kakawil Kemendag Sulawesi Selatan Ali Yafid pada Minggu 16 Maret 2025 menyampaikan, bahwa saat Nuzurul ini kita membaca, menerjemahkan sampai memahami Al-Quran. Itu kita bumikan dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dapatkan dari Al-Quran. Kalau hal ini kita lakukan, Insya Allah kedamaian dan ketentraman masyarakat bisa kita jaga. (metrotvnews.com)  

Pernyataan di atas menunjukkan bagiamana pentingnya Al-Quran dalam kehidupan kita. Al-Quran sebagai pedoman yang menjadi petunjuk kita dalam menjalankan kehidupan ini, ketika kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari akan mampu mewujudkan kedamaian dan ketentraman.

Namun, jika kita melihat fakta saat ini kriminalitas yang makin hari makin menjadi, baik pencurian, perampokan, pertikaian, pembunuhan, pemerkosaan dan lainnya terus mengintai ketentraman hidup kita. Apalagi berita-berita tentang kriminalitas setiap harinya selalu menyajikan peristiwa tindak kriminal dengan berbagai bentuk dan sarananya.

Tentu, hal ini semakin menjadikan kita ketakutan dan was-was. Sehingga, kedamaian dan ketentraman terasa hilang dan susah untuk kita dapatkan.

Tak hanya kriminalitas ini yang menjadikan kedamaian dan ketentraman ini hilang. Banyaknya kezaliman para penguasa yang membuat rakyat sengsara. Korupsi yang terus menggurita di negeri ini membuat muak rakyat.

Kebijakan-kebijakan yang tak berpihak pada rakyat telah membawa gelombang PHK makin membesar melanda rakyat ini. Seperti yang terjadi sebelum bulan Ramadhan, ribuan karyawan PT Sritex harus rela mendapatkan kepahitan menjadi korban PHK.

Selain itu, akibat kebijakan zalim para penguasa pun, kerusakan demi kerusakan terus terjadi, seperti datangnya bencana banjir bandang akibat pengalihan lahan sehingga membawa kerusakan pada lingkungan. Seperti yang banjir yang menimpa Jabotabek beberapa pekan lalu, banjir yang terjadi karena adanya alih fungsi lahan yang massif di Kawasan hulu. (Bisnis.com)

Kepahitan demi kepahitan harus dirasakan rakyat negeri ini. Semuanya karena kita telah berpaling dari aturan Allah yakni Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk kehidupan kita. Al-Quran sebagai pedoman hidup kita telah lama kita tinggalkan. Padahal negeri ini adalah negeri yang Allah limpahkan kekayaan alam, berbagai sumber daya alam dimiliki negeri ini, baik darat, laut termasuk di dalam perut bumi pun kekayaan ini melimpah ruah.

Namun, sayang semua kekayaan alam yang melimpah ruah ini tak bisa dinikmati rakyat ini. Karena, faktanya sebagian besar kekayaan negeri ini hanya dinikmati segelintir orang, seperti para oligarki yang menguasai negeri ini.

Inilah ketika kita meninggalkan Al-Quran dan menjadikan aturan yang berasal dari akal manusia yang mengatur kehidupan kita. Seperti sistem demokrasi-kapitalisme yang menjadikan aturan manusia mengatur kehidupan kita, sehingga hanya kesengsaraan dan kerusakan yang akan timbul akibat keserakahan manusia.

Karena, sejatinya manusia adalah makhluk lemah yang memiliki potensi saling bertentangan dan melahirkan berbagai permasalahan, seperti fakta-fakta di atas banyak terjadi di tengah kita adalah bukti yang nyata.

Tak hanya itu, ketika manusia diserahkan untuk membuat aturan, selain melahirkan kerusakan, berani pula menilai aktivitas dakwah sebagai perbuatan radikal, seperti tuduhan terhadap para pengemban dakwah yang menyerukan untuk kembali menerapkan Al-Quran secara menyeluruh (kaffah) dalam kehidupan sehari-hari dicap sebagai radikal, pemecah belah dan tuduhan buruk lainnya. Sungguh, ini adalah bentuk pengkerdilan yang lahir dari akal manusia yang lemah.

Membumikan Kembali Al-Quran

… Sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dana Kitab yang menerangkan.” (TQS. Al-Maidah ayat 15)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah telah mengutus Rasul-Nya (yaitu Nabi Muhammad saw) dengan membawa hidayah dan agama yang hak kepada seluruh penduduk bumi, baik yang arab maupun yang bukan Arab, dan baik yang tidak pandai membaca atau yang pandai membaca tulis. Allah mengutusnya dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan pemisah antara perkara yang hak dan batil.

Rasulullah saw (sebagai pembawa cahaya dan Al-Quran) yang di dalamnya menjelaskan segala urusan agama dan dunia serta menerangkan segala hal yang menjadi sumber kebahagian dan kesempurnaan manusia di dunia dan akhirat. (Syaikh Abu Bakar al-Jazairi,Aysar at-Tafaasir, 1/339).

Terkait membumikan Al-Quran seperti yang disampaikan Kawawil Kemendag Sulsel Ali Yafid, merupakan suatu hal harus kita sambut baik. Karena memang sudah semestinya kita membumikan Al-Quran. Tak hanya dibaca dan dihafalkan saja, tapi bagaimana Al-Quran ini diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Karena, makna membumikan dalam bahasa Indonesia berarti memasyarakatkan, mengaktualisasikan atau menjadikan sesuatu benar-benar ada dan nyata.

Oleh karena itu, Al-Quran tak cukup hanya sebatas kita baca dan hapalkan saja, tetapi lebih dari itu, seluruh kandungan al quran ini wajib untuk kita pahami dan amalkan dalam kehidupan kita, baik secara individu, bermasyarakat dan bernegara.

Sebab, Al-Quran tak hanya membahas masalah individu saja, tapi kehidupan bermasyarakat juga ada dalam Al-Quran, termasuk di dalam masalah bernegara pun dibahas. Selain itu, penerapan aturan ini adalah bukti iman dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt.

Keimanan kita terhadap Allah dan RasulNya harusnya mendorong untuk kita mentaati setiap apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan untuk kita. Karena, ketika kita menaati semua yang Allah dan Rasul-Nya bawa dan tetapkan, maka ketakwaan kita sebagai hamba Allah telah terwujud.

Oleh karena itu penerapan aturan dalam kehidupan kita selain Al-Quran ini dan ditambah dengan sunahnya Rasulullah saw kehidupan yang penuh keberkah itu akan terwujud.

Ketika keberkahan ini terwujud maka kedamaian dan ketentaraman akan terwujud juga di tengah kehidupan kita. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Araf ayat 96 yang artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”    

Sebab itu, jika kita mendambakan kehidupan yang penuh dengan keberkahan, maka sudah saatnya kita kembali untuk mengamalkan setiap hukum yang ada dalam Al-Quran secara total dan menyeluruh di tengah kehidupan kita, baik pribadi, masyarakat dan negara.

Wallahu’alam bissawab.

 

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update