Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kenaikan Harga Pangan Jelang Ramadan, Masalah Teknis atau Sistemis?

Saturday, March 08, 2025 | Saturday, March 08, 2025 WIB




Oleh Delfiani

(Pegiat Literasi)



Setiap menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat kembali dihadapkan pada fenomena klasik kenaikan harga kebutuhan pokok. Fenomena ini terus berulang, seakan menjadi "ritual" tahunan yang tidak bisa dihindari.


Dilansir dari media tribunjabar.id, pada 25 Februari 2025, kenaikan harga beberapa komoditas terjadi di sejumlah pasar yang tersebar di Kabupaten Bandung. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Bandung, Dicky Anugerah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan dan evaluasi di beberapa pasar yang dikelola oleh pemerintah daerah.  

Dicky menegaskan bahwa stok kebutuhan pokok di Kabupaten Bandung dalam kondisi aman, meskipun beberapa komoditas, seperti telur ayam ras dan cabai, mengalami kenaikan harga. Ia juga memastikan bahwa ketersediaan pangan bagi masyarakat tetap terjaga hingga Idul Fitri. Untuk mendukung hal tersebut, Disperdagin berencana berkoordinasi dengan petani cabai serta peternak ayam guna memastikan pasokan tetap stabil.


Kenaikan Harga di Tengah Stok Aman: Ada Apa dengan Distribusi?  


Secara teori ekonomi, harga suatu barang ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran. Jika stok barang tersedia dalam jumlah cukup, maka harga semestinya stabil atau bahkan turun. Namun, realitas di lapangan sering kali bertolak belakang. Meskipun pemerintah dan pelaku usaha memastikan bahwa stok aman, harga-harga tetap merangkak naik, terutama menjelang momen-momen tertentu seperti bulan Ramadhan dan hari besar lainnya.  


Fenomena ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang bermain dalam mekanisme pasar, terutama dalam aspek distribusi. Kenaikan harga di tengah stok yang cukup mengindikasikan adanya ketidakseimbangan dalam rantai pasok. 


Salah satu faktor utama yang sering terjadi adalah praktik penimbunan oleh segelintir pihak yang ingin mengambil keuntungan besar. Para spekulan ini sengaja menahan barang di gudang untuk menciptakan kelangkaan di pasar, sehingga harga melonjak dan mereka dapat menjual dengan keuntungan yang tinggi.  


Selain itu, rantai distribusi yang panjang dan tidak efisien juga menjadi penyebab utama. Banyaknya perantara dari produsen hingga ke tangan konsumen akhir membuat harga terus meningkat di setiap mata rantai. Belum lagi kebijakan yang kurang efektif dalam mengontrol distribusi, sehingga memungkinkan terjadinya permainan harga oleh pihak-pihak tertentu.  


Jika hal ini terus dibiarkan, maka setiap tahun masyarakat akan selalu menghadapi pola yang sama. Harga naik tanpa alasan yang masuk akal, sementara kesejahteraan tetap stagnan. 


Pemerintah harus berani mengambil langkah tegas untuk memastikan distribusi berjalan dengan baik, menghilangkan praktik spekulasi yang merugikan, dan memperpendek rantai distribusi agar harga tetap stabil di tengah pasokan yang mencukupi. 

Tanpa perbaikan sistem distribusi yang jelas, hukum pasar yang ideal hanya akan menjadi teori yang tak pernah benar-benar berlaku di lapangan.


Mencari Solusi Sejati: Mengganti Sistem yang Tidak Berpihak pada Rakyat


Setiap kali harga-harga melambung tinggi, terutama menjelang hari besar seperti Ramadhan, pemerintah kerap merespons dengan kebijakan jangka pendek seperti operasi pasar dan pengawasan harga. Namun, solusi ini hanya bersifat tambal sulam dan tidak menyentuh akar masalah. Faktanya, setelah intervensi sesaat itu selesai, harga kembali naik, dan fenomena ini terus berulang dari tahun ke tahun.


Masalah utama dari ketidakstabilan harga ini bukan sekadar soal distribusi atau stok barang, melainkan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem ekonomi kapitalis, yang saat ini mendominasi, pada dasarnya berorientasi pada keuntungan segelintir elite ekonomi, bukan kesejahteraan rakyat. 

Prinsip pasar bebas dalam kapitalisme memungkinkan spekulasi, monopoli, dan penimbunan yang akhirnya menyebabkan lonjakan harga yang tidak wajar. Pemerintah hanya bertindak sebagai pengawas tanpa mekanisme kontrol yang benar-benar melindungi rakyat.

Solusi sejati bukan hanya mengandalkan kebijakan teknis jangka pendek, tetapi mengadopsi sistem ekonomi yang sahih yakni sistem ekonomi islam yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. 


Jika kita melihat bagaimana pasar dalam sistem Islam di masa lalu, ada perbedaan mendasar yang membuat harga tetap stabil. Beberapa faktor yang menjamin stabilitas harga di antaranya adalah:

Larangan Penimbunan Barang (Ihtikar).


Dalam sistem Islam, praktik penimbunan barang dilarang keras karena dianggap merugikan masyarakat. Negara memiliki mekanisme pengawasan yang ketat dan sanksi tegas bagi pelaku ihtikar, sehingga pasokan barang tetap terjaga dan harga tetap stabil.

Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:

 "Tidaklah seseorang menimbun barang kecuali ia adalah pendosa." (HR.Muslim).


Daya Beli yang Dijaga


Sistem ekonomi dalam Islam memastikan kesejahteraan rakyat melalui distribusi kekayaan yang adil, pajak yang ringan, dan kebijakan ekonomi yang tidak membebani masyarakat kecil. Dengan daya beli yang stabil, tidak ada kepanikan pasar yang dapat menyebabkan lonjakan harga.

Sistem Moneter yang Stabil Negara menggunakan standar emas dan perak sebagai mata uang, yang secara alami memiliki nilai intrinsik dan tidak mudah terinflasi. Berbeda dengan sistem kapitalis yang menggunakan uang kertas tanpa nilai riil, standar emas dan perak menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang.


Dari sini, jelas bahwa kenaikan harga menjelang Ramadhan bukan sekadar persoalan teknis seperti pasokan dan permintaan, melainkan masalah sistemis. Jika regulasi dan sistem ekonomi masih berbasis pada mekanisme kapitalistik yang memberi ruang bagi spekulasi dan monopoli, maka lonjakan harga akan terus berulang. Oleh karena itu, solusi Islam harus diambil melalui perubahan sistem secara menyeluruh menuju sistem ekonomi yang sahih yakni sistem ekonomi Islam yang terbukti mampu menjamin kestabilan harga serta kesejahteraan rakyat.

Wallaualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update