Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z dan Penegakkan Islam Kaffah

Monday, March 10, 2025 | Monday, March 10, 2025 WIB


 Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

2045 menjadi angka unik bagi Indonesia. Di angka ini ciri tahun bergagasan Generasi Emas  muncul juga bertepatan  dengan genap satu abad Indonesia. Indonesia 2045. Di tahun ini pula  Indonesia diprediksi akan memasuki puncak bonus demografi. 

Bonus demografi merupakan momen yang jarang terjadi di suatu negara. Ketika jumlah penduduk yang berada dalam usia produktif, yakni 15—65 tahun lebih besar dibandingkan usia 0—14 tahun dan di atas 65 tahun, bonus  demografi akan menjadi keuntungan bagi suatu negara karena negara tersebut akan memiliki sumber daya produktif yang besar. Hanya saja, bonus ini pun dapat berbalik menjadi bumerang berbahaya jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu sekalipun tahun 2045 berjarak 21 tahun lagi, bibit unggul generasi sudah seharusnya disiapkan mulai saat ini karena merekalah yang akan memimpin bangsa ini pada 2045.

Fakta Kerapuhan Gen Z

Sungguh saat mendapati fakta gen z, rasa khawatir mendominasi terkait masa depan mereka.  Generasi muda yang  saat ini tengah diperankan  kalangan Gen Z terbelit berbagai kasus yang menggambarkan bagaimana rapuhnya mereka. 

Sebagai contoh adalah maraknya kasus bunuh diri di kalangan Gen Z.  Kasus yang terjadi di Bekasi, Jawa Barat. Seorang laki-laki berusia 13—15 tahun yang diduga pelajar, tewas usai melompat dari rooftop Metropolitan Mall Bekasi pada Selasa (22-10-2024), menjadi salahsatu fakta kerapuhan. 

Bukan hanya itu saja.  PHK yang tinggi ternyata terjadi pula di kalangan Gen Z. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, terdapat sekitar 9,89 juta orang dari kelompok Gen Z yang masih menganggur. Angka ini mencakup sekitar 19% dari total angkatan kerja di Indonesia yang didominasi oleh usia produktif. Faktor utama penyebab tingginya angka pengangguran di kalangan Gen Z adalah ketakcocokan antara keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan industri. 

Banyak lulusan pendidikan tinggi yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar kerja saat ini, seperti keterampilan digital, teknologi informasi, dan kemampuan berpikir kritis. Pada saat yang sama, gen Z ditekan oleh biaya kuliah yang mahal meski kuliah di kampus negeri. Mereka menjadi korban komersialisasi pendidikan. Sedangkan tingkat pendapatan keluarga mereka menurun, daya beli rendah, dan tidak sedikit dari mereka yang sebelumnya dari kalangan menengah harus turun kelas menjadi miskin.

Lukisan kelam lainnya terkait gen Z adalah terjebaknya mereka dalam arus besar gaya hidup rusak, mulai dari FOMO, game online, judi online (judol), seks bebas, konsumerisme, dan hedonisme. Belum lagi jatuhnya mereka dalam kriminalitas. Membunuh, merampok dll. menjadikan gen Z ini makin menjatuhkan nilai mereka dari sisi persepsi publik bahwa Gen Z seolah-olah bukan generasi mumpuni untuk memegang tongkat estafet peradaban. 

Sistem Rusak Biang Kerok

Sejatinya kita tidak menginginkan kerapuhan sistemis generasi  terus terjadi. Semua kerapuhan dan rusaknya kondisi mereka tidak mungkin kita ridhoi selamanya, karena jika ditelisik kerapuhan mereka tidaklah muncul tiba-tiba. Penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme berikut  kolonialisme Barat di negeri-negeri muslim telah menancapkan  jejak dalam kerusakan pemikiran pada kaum muslim.

Sejatinya hampir seluruh wilayah dunia Islam disekularisasi sehingga berjalan mengikuti UU sekuler Barat karena tentu saja Barat sangat menghendaki agar kaum muslim jauh dari aturan Islam. Upaya melemahkan kekuasaan Islam global yang sebelumnya berada di tangan pemerintahan Khilafah Utsmani di Turki terus dikuatkan . Sekularisasi kaum muslim memosisikan mereka sampai pada kondisi yang tidak lagi butuh terhadap agama. Mengerikan.

Kerusakan generasi di sistem pendidikan pun begitu menonjol.  Metodologi pendidikan sekuler Barat yang diterapkan di seluruh negeri-negeri muslim telah menciptakan badai  karena menghasilkan  para pengajar yang menjaga dan melestarikan metodologi tersebut. Alhasil generasi pragmatis dan sekuler menjadi output pendidikan yang tak terhindarkan.

Kurikulum Merdeka yang diberlakukan di negeri ini pun menjadi penyumbang kengerian. Sudahlah di satu sisi mereka dipaksa membayar biaya pendidikan yang mahal, di sisi lain mereka terjebak kurikulum liberal. Kurikulum Merdeka juga membuat generasi makin kehilangan ruh pendidikan, yakni aspek menuntut ilmu agar bisa meraih keberkahannya. Kurikulum tersebut hanya fokus pada hasil tanpa memberikan jejak kebaikan bagi pengajar maupun peserta didik. Hal ini tampak pada tidak adanya lagi konsep “tinggal kelas” dan “harus bisa lulus” bagi anak-anak pada usia sekolah.

Deraan lainnya lagi adalah adanya konten liberal di media. Konten ini mampu menyebabkan generasi menjadikan sekolah sebagai tempat untuk melakukan perundungan kepada sesama peserta didik. Tindak kejahatan yang di luar nalar, seks bebas, dan perilaku seksual menyimpang pun banyak dilakukan oleh anak-anak belia akibat bebasnya asupan negatif dalam hidup mereka.

Pada tataran perguruan tinggi, kurikulum yang ada membiasakan para intelektual berpikir instan serta sekadar meraih gelar. Hal ini tentu mencederai muruah kampus sebagai tempat untuk mencetak para calon pemimpin peradaban. Institusi perguruan tinggi lebih sibuk dengan reputasi internasional, tetapi abai dengan pemanfaatan keilmuan dari para pakar mereka untuk masyarakat luas dalam wujud kebijakan nasional. Tidak heran, ketika jurnal internasional terindeks Scopus dirasakan terlalu sulit diraih dan berbiaya mahal, pilihan mereka pun jatuh pada jurnal predator.

Reposisi Gen Z pada Fitrah Khairu Ummah

Perlu difahami dengan benar bahwa kunci kebangkitan ada pada generasi muda. Generasi muda berpotensi mewujudkan kegemilangan namun bisa pula menghancurkan. Dengan demikian potensi ini harus direposisikan pada fitrahnya sebagai Khairu Ummah. Potensi baik gen z harus diaktivasi agar tidak ambyar. Perjalanan mewujudkan peradaban cemerlang tidak bisa diisi oleh generasi rapuh, melainkan harus generasi tangguh. Generasi harus diaruskan untuk berada dalam ranah perjuangan yang benar. Perjuangan penegakkan Islam Kaffah tentunya sebagai jalan bukan jalan lain, karena jalan sistem rusak sebelumnya tidak mampu sama sekali membangun kebaikan. Untuk itu, Islam akan memberikan mereka arah dan tujuan yang jelas. Dengan Islam, generasi muda akan ditempa melalui proses pembinaan mengenai akidah Islam, aktivitas dakwah menuju tegaknya sistem Islam paripurna, serta gerakan dakwah yang memperjuangkan cita-cita untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan meneladan metode dakwah Rasulullah (saw.) dengan konsep rigid yang  sangat penting bagi pengarahan identitas dan produktivitas generasi sebagaimana Rasulullah saw. membina para sahabat di Makkah untuk mempersiapkan mereka menjadi bibit-bibit unggul menuju tegaknya Daulah Islam yang pertama di Madinah sebagai institusi yang menerapkan syariat Islam Kaffah.

Memahami bagaimana di awal  dakwahnya, Nabi saw. mengajak orang-orang yang telah siap menerima dakwahnya tanpa melihat usia, kedudukan, jenis kelamin, dan asal usulnya menjadi hal urgen.  Perjalanan beliau mengajak semua umat manusia dan menuntut kesiapan mereka untuk menerima Islam menjadi langkah penting. Rasulullah saw. membina mereka, kemudian menghimpun mereka dalam sebuah kutlah (kelompok) dan bersama-sama mengemban dakwah. Terbentuknya kutlah yang terdiri dari kaum laki-laki dan perempuan yang kebanyakan mereka dari kalangan pemuda di saat itu mereka mengimani Rasul saw., menaatinya, dan menekuni dakwah bersama beliau, menjadi cerminan perjalanan perjuangan yang harusnya kita ikuti dan kuatkan agar terbentuk keberhasilan penyelamatan gen Z.

Memahami pula hijrah ke Madinah yang dilakukan para tokoh-tokoh muda Madinah, demikian juga pengambilan posisi terdepan menyambut dakwah Rasulullah saw. dan siapnya mereka  menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah saw. untuk tegaknya Daulah Islam di sana menunjukkan bahwa hijrah adalah momentum yang telah menandai peralihan tahapan dakwah dari tahap pembinaan dan interaksi ke tahap penerapan hukum-hukum Islam di tengah masyarakat. Negara menjadi pusat pembangunan masyarakat yang berdiri di atas fondasi kukuh sehingga mampu menjadi pusat persiapan kekuatan untuk melindungi negara dan menyebarkan dakwah.

Rangkaian aktivitas dakwah Rasulullah saw. di atas, urgen untuk difahami generasi muda dalam merumuskan tujuan dan visi misi hidup hakiki yang berlandaskan akidah Islam serta menapaki jalan kebangkitan dan perubahan pemikiran, termasuk konsekuensi amar makruf nahi mungkar sebagai sebuah kewajiban (fardu ain). Sungguh mereka harus bergabung dengan sebuah jemaah dakwah yang meneladan metode dakwah Rasulullah saw. serta mencita-citakan tegaknya kembali kehidupan Islam melalui tegaknya Khilafah.

Adanya jemaah dakwah dapat memosisikan kembali  peran para Gen Z. Pembinaan dengan tsaqafah Islam ideologis dengan proses talqiyan fikriyan (proses menjadikan ilmu menjadi pemahaman dengan proses berpikir) dikuatkan dalam jemaah dakwah yang bersih. Proses pembinaan ini berjalan intensif dan tidak instan sehingga benar-benar akan menghasilkan para pengemban dakwah yang tangguh. 

Reposisi gen Z dengan membangun kematangan tsaqafah serta perpaduan pola pikir dan pola sikap yang mereka peroleh selama pembinaan menjadi jalan terwujudnya Khairu Ummah sebagai sematan terbaik pada diri generasi.

Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update