Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hancurnya Mentalitas Generasi, Siapa yang Bertanggung jawab?

Friday, February 21, 2025 | Friday, February 21, 2025 WIB Last Updated 2025-02-21T00:49:27Z
Reni Renia Devi, S.Kp., M.Kep

Oleh : Reni Renia Devi, S.Kp., M.Kep

 

​Penyakit mental (Mental Illness) pada kalangan remaja saat ini merupakan kondisi yang umum terjadi. Angka remaja yang menderita kesehatan mental menyentuh angka yang sangat tinggi, yaitu 15,5 juta orang atau setara 34,9 persen dari total remaja Indonesia. Data ini didapatkan dari Kementrian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Hal ini dikarenakan generasi muda saat ini memang menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Paparan dari berbagai platform media sosial memungkinkan mereka untuk terhubung dengan teman tanpa batas, mengeksplorasi minat, mengakses berbagai informasi dengan cepat, hingga menjadi sarana edukasi dan kreativitas. Namun dibalik manfaat itu semua, penggunaan media sosial secara berlebihan dan tidak bijak juga akan membawa dampak negatif.


Paparan terhadap standar kecantikan yang tidak realistis, cyberbullying, dan kecanduan digital yang bisa mempengaruhi kesehatan mental remaja. Mereka bisa dihinggapi perasaan cemas dan kurang percaya diri, karena kepercayaan diri mereka ditentukan oleh standar media sosial. Seandainya mekanisme koping atau pertahanan dalam diri remaja itu lemah, maka remaja akan mengalami kondisi tertekan jika dirinya tidak bisa mencapai standar ideal palsu yang ditetapkan oleh media sosial tersebut, bahkan kalau sampai tidak kuat bisa saja sampai bunuh diri.


Pengaruh kondisi dalam rumah juga akan sangat mempengaruhi kondisi mental remaja. Suasana rumah yang masing-masing anggotanya sibuk dengan urusannya, atau suasana rumah yang jauh dari agama dan kedamaian, akan memicu remaja yang sedang dalam kondisi labil menjadi terpuruk dan tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Akibatnya ada yang mencari pelarian dengan bergaul bebas di luar rumah dengan teman-teman yang dirasa mampu membersamai dan memahami dirinya, atau mengaktualisasikan dirinya di komunitas yang salah. Karena di lingkungan itulah remaja merasa dihargai dan mempunyai jati diri daripada di rumah yang penuh tekanan, kurang kasih sayang, orang tua tidak harmonis, kekurangan ekonomi dan masih banyak lagi penyebab remaja akhirnya mengalami gangguan kesehatan mental.


Banyaknya remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental menunjukkan bahwa adanya kegagalan negara dalam membina generasi. Generasi emas 2045 nyaris mustahil terwujud jika kondisi ini dibiarkan. Karena yang akan terbentuk adalah remaja - remaja lemah secara mental, bahkan agama, kurang prestasi, berani melakukan kriminal dan tidak ada tujuan hidup selain meraih kesenangan dan materi.


Hal ini jelas diakibatkan karena negara menerapkan sistem kapitalisme -  sekulerisme sebagai landasan kehidupan dan pengelolaan negara serta masyarakat. Landasan kehidupan kapitalisme ini akan melahirkan aturan-aturan kehidupan yang berdampak mewarnai dalam berbagai aspek kehidupan. Pendidikan sekuler misalnya yang memisahkan agama dari kehidupan akan membentuk remaja berperilaku liberal yang gagal memahami jati dirinya. Remaja pun gagal memahami dan mengambil berbagai penyelesaian shahih atas segala persoalan kehidupannya. Sehingga penyakit mental tidak terhindarkan.


Berbeda dengan Islam, kepemimpinan Islam memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi cemerlang yang berkualitas, melalui penerapan aturan islam dalam berbagai sistem kehidupan melalui syariat Islam. Islam mewajibkan negara membangun sistem pendidikan yang berasas akidah Islam. Negara juga wajib menyiapkan orang tua dan masyarakat untuk mendukung proses pembentukan generasi pembangun peradaban Islam yang mulia dan bermental kuat. Negara akan menetapkan kebijakan untuk menjauhkan remaja dari segala pemikiran yang bertentangan dengan Islam, yang menyebabkan remaja terombang-ambing dengan persoalan hidupnya dan akhirnya mengalami gangguan kesehatan mental yang tidak mempunyai masa depan gemilang.


Dengan kebijakan inilah maka generasi emas Islam akan terwujud kembali seperti yang sudah terjadi dalam masa-masa penerapan syariat Islam terdahulu.


Wallahu ‘alam bi shawab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update