Oleh : Della Frice Br Manurung
Mahasiswi UMN Al-Washliyah
Perilaku yang mencoreng nama baik intelektual kembali terulang. Baru-baru ini, Berita penangkapan sembilan pemuda, termasuk tujuh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen yang terlibat dalam aksi kriminalitas —merusak dan menjarah warung kelontong—menjadi sorotan publik. (medan.tribunnews.com )
Kasus seperti ini bukan yang pertama kalinya,dan entah sampai kapan kita akan terus menyaksikan potret suram intelektual muda yang kehilangan arah.Ironisnya, mereka adalah mahasiswa, yang seharusnya menjadi representasi generasi terdidik dan harapan masa depan bangsa.
Kejadian ini menyisakan pertanyaan besar: di mana letak kesalahan kita sebagai masyarakat dalam membangun karakter intelektual muda? Banyak yang berpendapat bahwa faktor ekonomi atau kenakalan remaja menjadi penyebab utama. Namun, benarkah persoalan ini hanya sebatas itu? Ataukah ada akar masalah yang lebih mendasar?
Kegagalan Sistem Pendidikan
Peristiwa ini sejatinya menjadi cermin gagalnya sistem pendidikan kita dalam membentuk generasi yang berkarakter mulia dan bertakwa. Bukankah pendidikan seharusnya menjadi tameng dari perilaku seperti ini? Atau mungkin ada yang salah dengan pendekatan kita selama ini?Pendidikan kita terlalu sibuk mengejar angka, nilai, dan gelar, sementara moral dan akhlak dikesampingkan. Dalam sistem seperti ini, agama hanya dianggap pelengkap, bukan fondasi. Akibatnya, generasi muda tumbuh dengan standar hidup yang salah: kebebasan tanpa batas, gaya hidup liberal, dan pandangan materialistis.
Mahasiswa bukan sekadar pemilik gelar atau status sosial semata. Mereka adalah calon pemimpin dan agen perubahan, yang memiliki tanggung jawab untuk membangun peradaban, bukan menghancurkannya. Jika pendidikan hari ini tidak mampu membekali generasi muda dengan karakter, kompetensi, dan kesadaran akan tanggung jawab sosial, maka kita akan terus menghadapi krisis moral dan sosial yang merugikan masa depan bangsa.
Apa Solusinya?
Islam menawarkan pandangan yang berbeda tentang pendidikan. Dalam Islam, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tapi juga pembentukan karakter yang kokoh. Negara berperan memastikan bahwa kurikulum berbasis pada nilai-nilai Islam, dengan akidah sebagai fondasi. Hal ini membuat standar hidup seseorang tidak lagi "apa yang saya suka" atau "apa yang menguntungkan saya", tapi "apa yang halal dan haram menurut Tuhan".
pendidikan didalam islam sejatinya adalah sarana untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkepribadian kuat dan bertakwa. Ketika agama tidak dijadikan sebagai asas pendidikan, generasi muda akan tumbuh tanpa memahami batasan halal dan haram. Maka, tak heran jika perilaku menyimpang seperti ini terus berulang.
Selain itu, Islam mengajarkan kontrol sosial yang kuat dan penegakan hukum yang tegas. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menjaga masyarakat dari kehancuran moral. Ketika negara menjamin pendidikan berbasis nilai, masyarakat mengawasi perilaku individu, dan hukum ditegakkan dengan adil sanksi yang tegas bagi pelaku, maka generasi muda tidak hanya akan menghindari kejahatan, tetapi juga menjadi solusi bagi masalah di sekitarnya.
Kasus ini harus menjadi wake-up call bagi kita semua. Ini bukan sekadar masalah mahasiswa yang salah jalan, tetapi bukti nyata bahwa sistem yang ada tidak mampu membimbing mereka. Tindakan mahasiswa ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ini adalah alarm bagi kita semua—Perlu adanya perbaikan, tidak hanya dalam pendidikan, tetapi juga dalam bagaimana masyarakat dan negara ikut berperan dalam perbaikan. Sebab,Generasi muda yang kuat dan bertakwa akan menjadi fondasi kokoh bagi masa depan bangsa yang lebih cerah dan penuh harapan.
Dan hal ini hanya dapat terwujud ketika Islam diterapkan dalam setiap aspek kehidupan di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Wallahu a'lam bis shawab.

No comments:
Post a Comment