Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekuler Kapitalis Meluncur, Tatanan Keluarga Babak Belur

Friday, November 15, 2024 | Friday, November 15, 2024 WIB

Oleh: Fatimah Ummu Maira

(Aktivis Muslimah)

 

Di penghujung tahun 2024 semakin santer berita retaknya hubungan rumah tangga bahkan sampai berujung pembunuhan. Anak yang membunuh orang tua, bahkan seorang ibu dengan tega membunuh anaknya.

 

Di Cirebon tepatnya desa kasugengan kidul (24/8) seorang anak tega membunuh ayahnya dan melukai adiknya karena dalam kondisi mabuk terpengaruh alkohol tidak terima di nasehati oleh ayahnya.

 

Lebih tragis lagi seorang ibu tiri di Pontianak tega membunuh anaknya yang berusia 6 tahun, karena cemburu dengan anak tersebut. Jasad korban di temukan didalam karung (22/8) setelah dilaporkan hilang sepekan.

 

Anak yang harusnya berbakti kepada orang tua lantas tega membunuh ayahnya dengan dalih tidak terima dinasehati. Ibu yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak anaknya menjadi pembunuh di sistem yang ada saat ini. Kenapa? Karena saat ini kita berada di dalam negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalisme.

 

Dimana negara hanya memproduksi kebijakan dzalim yang makin menjauhkan umat dari takwa. Tidak hanya itu dari kebijakan yang ada telah membuat bangunan keluarga retak dan tidak harmonis, tetapi sistem sekuler juga telah menghancurkan ikatan antar anggota keluarga. Ayah dan ibu bisa menjelma menjadi predator bagi anak-anaknya, dan anak-anak mereka pun bisa berubah menjadi monster yang siap mendzalimi ayah dan ibunya.

 

Kehidupan sekuler telah benar-benar merusak bangunan keluarga. Hal ini karena sekularisme telah menjauhkan manusia dari agamanya. Konsekuensi dari itu semua, mereka kehilangan makna kehidupan, yakni terkait untuk apa mereka diciptakan dan apa yang harus dilakukannya di dunia.

 

Jauhnya mereka dari agama menyebabkan amarah mudah tersulut, alias sumbu pendek. Manusia yang tidak beriman dan bertakwa niscaya akan dikuasai oleh syahwatnya. Ia merasa bebas melakukan segala sesuatu tanpa memperhatikan konsekuensinya. Hilangnya agama dari pedoman hidup manusia juga menjadikan hubungan antar manusia penuh dengan kerusakan.

 

Sistem sekuler kapitalisme memaknai kehidupan hanya sebatas tempat mencari materi. Akhirnya, kesenangan bisa mengalahkan rasa kasih sayang, ditambah konsep untung rugi, telah menjadi satu-satunya pengikat hubungan antar manusia. Bangunan keluarga muslim benar-benar hancur karena jauhnya mereka dengan agamanya sendiri.

 

Rusaknya bangunan keluarga muslim bukan terjadi dengan sendirinya. Situasi tersebut merupakan upaya dalam melemahkan kekuatan umat dengan menyerang benteng pertahanan terakhirnya, yaitu keluarga.

 

Merekapun melakukan berbagai upaya untuk menghancurkan keluarga muslim dengan menancapkan sekularisme. Mulai dari serangan pemikiran yang mengubah pola relasi, termasuk pola relasi antar keluarga yang hanya sebatas pada materi. Ayah-ibu membahagiakan anak-anaknya dengan materi, begitu pula sebaliknya, bakti anak-anak adalah dengan memberikan materi sebanyak-banyaknya di hari tua mereka.

 

Selain pola relasi, sistem sekuler kapitalisme pun menjadikan hedonisme, konsumerisme, maupun kesetaraan gender, turut melengkapi hancurnya keluarga muslim. Tuntutan gaya hidup hedonis dan konsumtif menjadikan ekonomi keluarga “wajib” stabil sehingga para ibu rela meninggalkan buah hatinya hanya untuk mendapatkan double income dalam keluarga.

 

Begitu pula kesetaraan gender yang diperjuangkan para feminis, telah menjadikan para ibu tidak merasa berdosa meninggalkan anak-anak mereka untuk bekerja. Mereka pun merasa tidak harus menaati suami-suami mereka saat gaji yang mereka terima melebihi gaji suaminya. Para ibu dipaksa mengalihkan perhatiannya pada ranah publik dan mengabaikan urusan domestiknya, termasuk mengasuh anak-anak.

 

Inilah berbagai wujud tertancapnya sekularisme di tengah umat yang dilakukan dari segala sisi (poleksosbudhanhukkam). Oleh karena itu, kaum muslim harus menyadari ada upaya sistemis dalam menghancurkan keluarga muslim, yang hanya bisa dicegah dengan bangkitnya pemikiran umat terkait hal tersebut.

 

Ide sekuler kapitalisme yang menjadi pangkal rusaknya bangunan keluarga makin kuat menancap di tengah masyarakat dengan hadirnya negara yang menerapkan ide tersebut dalam wujud tata aturan kehidupan. Hal ini tampak dari absennya negara dalam melindungi akidah umat dan abainya negara dalam mengurusi seluruh kebutuhan umat.

 

Dengan begitu, negara lah yang paling bertanggung jawab atas sekularisasi yang kian kencang, mulai dari sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem sanksi, hingga sistem politik telah dibuat saling terkait untuk mendukung sekularisasi itu sendiri.

 

Kebijakan-kebijakannya telah nyata mengoyak bangunan keluarga muslim. Sebaliknya, kebijakan yang ditetapkan Khilafah akan menjadikan keluarga sebagai tempat menyemai kasih sayang antar anggota keluarga.

 

Bertolak belakang dengan sekularisme, Islam menjadikan umat makin dekat dengan agamanya. Tanpa agama, manusia akan tersesat di dunia. Agama adalah pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Dengan paham agama, mereka akan memahami hakikat kehidupan. Manusia adalah seorang hamba yang memiliki tugas di dunia untuk beribadah kepada Penciptanya.

 

Dengan memahami tujuan penciptaan semata untuk beribadah kepada Allah Taala, seorang muslim akan terdorong untuk terus beramal saleh. Keimanan yang tertanam akan menjadikan manusia-manusia penuh dengan ketakwaan dan kasih sayang. Para ayah dan ibu akan benar-benar menyayangi anak-anaknya, begitu pula sebaliknya.

 

Sedangkan negara akan menjamin keimanan dan ketakwaan tumbuh kuat dalam diri kaum muslim. Inilah yang menjadi pangkal solusi bagi persoalan kriminalitas. Bangunan keluarga akan kukuh dan para anggotanya akan memahami hak dan kewajibannya. Negara juga akan menjaga fungsi dan peran keluarga tersebut agar sesuai syariat.

 

Negara akan menghadang masuknya pemahaman-pemahaman sekuler kapitalistik untuk merasuki umat seperti paham materialistis, hedonistik, juga kesetaraan gender. Sebaliknya, negara akan terus memberikan pemahaman akan pentingnya hidup sederhana dan bukan berfokus pada materi, melainkan pada amal saleh untuk bekal akhirat.

 

Sistem sekuler kapitalistik telah nyata menjadi akar persoalan runtuhnya bangunan keluarga. Hanya Khilafah yang mampu menjamin terwujudnya maqasid syariah, yakni terpeliharanya agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Hubungan manusia dengan manusia akan harmonis, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Atas izin Allah Swt, peradaban umat manusia akan kembali menemui keluhurannya dalam naungan Daulah Khilafah Islamiah. Wallahu’alam bi shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update