Hasna F.Kh
Pegawai Swasta
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya
Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Ir. Soekarno)
Pepatah yang diungkapkan oleh Ir. Soekarno mencerminkan kekuatan dan potensi luar biasa yang dimiliki oleh generasi muda. Namun, ironisnya, banyak pemuda saat ini, khususnya Gen Z, menghadapi berbagai tantangan yang menghambat mereka untuk bangkit. Di antara masalah yang mereka hadapi adalah biaya pendidikan yang tinggi, tingkat pengangguran yang meningkat, gangguan mental, serta terjebak dalam gaya hidup yang tidak sehat, seperti FOMO, konsumerisme, dan hedonisme. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara potensi yang ada dan kenyataan yang harus dihadapi. Perhatian khusus diperlukan agar mereka dapat berkontribusi secara maksimal dalam masyarakat.
Gen Z merupakan generasi digital native, tidak bisa kita pungkiri juga. Sementara itu, perkembangan media sosial tidak sekedar menampilkan konten informasi berita, namun juga konten-konten yang menampilkan gaya hidup, pengalaman, pencapaian, penampilan, dan popularitas. Gen Z tidak mengetahui standar kemuliaan yang benar, yang akhirnya mereka suka membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan yang dipamerkan orang lain.
Ketika mereka merasa kurang dibandingkan dengan standar yang ditampilkan muncul kecemasan akan tertinggal atau keterasingan. Bahkan, demi tidak ketinggalan tren, mereka sampai melakukan doom spending alias gemar berhutang. Jika FOMO berlanjut, gaya hidup ini dapat membahayakan generasi muda. Mereka juga terbiasa berperilaku konsumtif hingga krisis identitas.
Sejatinya akar masalah munculnya gaya hidup FOMO tidak serta merta akibat tren media sosial, tetapi mengakarnya pemahaman sekularisme kapitalisme liberalisme di negeri ini. Sekularisme adalah pemahaman yang memisahkan agama dari kehidupan. Sekularisme menjadikan manusia merasa kehidupan di dunia ini tidak terikat dengan aturan agama kecuali masalah spiritual. Maka, lahirlah ideologi kapitalisme yang memandang capaian dan kepuasan materi menjadi tujuan hidup. Maka, tidak aneh atmosfer kehidupan sangat jauh dari nilai agama. Akhirnya, muncul sikap hedonistik, gaya hidup liberal dan konsumtif.
Berbeda dengan sistem Islam dalam menjaga generasi Z dari gaya hidup rusak seperti FOMO, sistem Islam yang diterapkan negara khilafah akan memberikan perlindungan extra kepada semua warganya. Perlindungan ini sebagai cerminan aqidah Islam, yang mengharuskan siapapun wajib terikat dengan aturan Allah Swt. dalam kehidupan.
Islam memandang, negara berfungsi sebagai junnah (pelindung), sedangkan pemuda memiliki potensi luar biasa dan kekuatan yang dibutuhkan umat sebagai agen perubahan menuju kebangkitan Islam. Dalam Islam, khilafah memastikan potensi generasi Z terarah dan hanya untuk kemuliaan Islam dan umat Islam saja. Ditambah lagi,
Islam memiliki sistem pendidikan yang mampu melejitkan potensi Gen Z dan mengarahkan hidupnya sesuai dengan tujuan penciptaan dan mempersembahkan karya terbaik untuk umat dan Islam. Sistem pendidikan Islam juga memastikan setiap individu memiliki kepribadian (pola pikir dan pola sikap) Islam dan keahlian ilmu kehidupan.
Tolak ukur kepribadian Islam dilihat dari cara berfikir dan bersikap sesuai dengan apa yang diperintahkan olah Allah Swt. pemilik alam semesta dan isinya. Dengan demikian, setiap individu akan memiliki kesadaran untuk beramal sesuai dengan syariat-Nya. FOMO karena takut ketinggalan tren, bersikap hedonisme, liberal, konsumtif bukan perilaku yang dibenarkan syariat, maka gaya hidup seperti ini tidak mendapat tempat dalam atmosfir kehidupan generasi khilafah. Sebab mereka memahami bahwa kemuliaan terletak pada amal saleh dan rida Allah Swt. Justru yang ada, mereka berlomba-lomba melakukan kebaikan sesuai potensi yang mereka miliki.
Generasi akan sangat memahami kebutuhan umat dan kemuliaan Islam. Kesadaran itu semakin mengkristal karena negara khilafah mengontrol konten-konten yang ada di media sosial. Media dalam khilafah digunakan untuk mengedukasi umat terkait syariat, meningkatkan taraf berfikir politis warga negara, menunjukkan kewibawaan khilafah di kancah perpolitikan internasional.
Karena itu, sebagai pemuda, Gen Z muslim harus menyadari potensinya yang luar biasa sebagai agen perubahan yang sangat dibutuhkan umat, yakni membangun kembali peradaban gemilang yang pernah dicapai umat Islam pada masa lalu dalam naungan khilafah Islamiyah.
Wallahu a’lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment