Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menilik Kondisi Ekonomi ke Depan: Indonesia Emas atau Cemas ?

Monday, November 04, 2024 | Monday, November 04, 2024 WIB

Oleh Ninik

Aktivis Muslimah

Presiden dan Wakil Presiden pemenang Pemilu 2024 sudah dilantik, menyusul pelantikan para Menteri dan Aparatur Negara di bawahnya. Tercatat per tanggal 20 oktober 2024, Presiden Prabowo dan wakilnya telah sah memerintah negara ini dengan segenap harapan dan strategi yang telah direncanakan untuk bisa membawa perubahan bagi bangsa dan negara, khususnya perubahan di bidang ekonomi. Salah satu target ambisius Prabowo berupa pertumbuhan ekonomi sebesar 8% selama dirinya menjabat, sehingga mimpi menuju Indonesia Emas 2045. Akankah target ambisius di bawah payung besar mimpi Indonesia Emas ini akan tergapai selama pemerintahannya, ataukah justru menjadikan ekonomi Indonesia semakin mencemaskan?

Jika melihat kembali dengan apa yang sedang dialami oleh rakyat dan negara, target pertumbuhan ekonomi 8% ini tentu diragukan oleh banyak pihak terutama para Pakar Ekonomi. Hal ini dikarenakan pasalnya sektor penggerak ekonomi dari industri telah mengalami tren penurunan. Sebagai gambaran kontribusi manufaktur terhadap PDB di 2022 sebesar 32%, kemudian di 2023 turun hingga 18,67 %. Menurut Hendri Saparini, Ekonom senior, mengatakan bahwa penurunan di sektor industri bahkan de-industrialisasi bisa menjadi salah satu hambatan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 % (beritasatu.com, 11/09/24). Selain itu, berbagai persoalan bisa menjadi beban berat pada masa kepemimpinan Prabowo 2024-2029, diantaranya;

Pertama, IKN mangkrak. Salah satu masalah serius yang diwariskan mantan Presiden Jokowi adalah berbagai proyek mercusuar. Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) diduga kuat berujung mangkrak, sebagaimana yang disampaikan  oleh Dosen Ilmu Politik UI, Chusnul Mar’iyyah. Menurutnya, masalah kebijakan IKN ini sudah salah sejak awal. Dari cacat prosesnya hingga janji pindah pada tanggal 17 agustus lalu, tidak ditepati. Apalagi konon Indonesia sebenarnya tidak punya cukup dana untuk menyelesaikan proyek raksasa ini (media-umat.info, 13/10/2024).

Kedua, terlalu banyaknya Gen Z yang menganggur. Menurut data BPS tercatat ada sekitar 9,9 juta gen Z saat ini yang tidak beraktivitas produktif (cnbcindonesia.com, 15/05/24). Belum lagi dengan kondisi lapangan kerja yang tidak seimbang dengan jumlah angkatan kerja di usia produktif, sehingga menambah jumlah pengangguran yang ada.

Ketiga, tarif pajak dan iuran diprediksi makin meningkat. Rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12%, dan penerapan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) hanya sebagian dari kebijakan yang berpotensi mengerek kenaikan harga (cnbcindonesia.com, 12/10/24). Belum lagi dengan naiknya iuran BPJS di tahun 2025 nanti, sungguh menjadi kado pahit bagi rakyat untuk kesekian kalinya.

Keempat, potensi kenaikan sektor energi berupa BBM dan gas elpiji yang sedari sekarang pun juga sudah merangkak naik harganya. Informasinya bahwa pemerintah akan memangkas subsidi BBM dan membatasi jumlah penerima gas elpiji di 2025. Belum lagi permasalahan utang negara yang dipastikan akan semakin ditambah di tahun depan. Kabarnya Prabowo akan menarik utang baru sebesar Rp775,9 triliun di 2025, sebagaimana tertuang dalam dokumen Nota Keuangan Rancangan APBN (RAPBN) 2025 (cnnindonesia.com, 19/08/24)

Selain itu, jika melihat kepada susunan kabinet Merah Putih yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo beberapa waktu lalu, nampak bahwa nama-nama yang mengisi Kementerian yang berhubungan dengan perekonomian adalah orang-orang lama, seperti Sri Mulyani, Zulhas, Bahlil Lahadalia, Airlangga Hartarto, dan sebagainya. Semakin menguatkan bahwa ke depan pesimis terjadi transisi perubahan yang berarti, yang terjadi justru hanya transisi permasalahan negeri. Harapan mewujudkan Indonesia Emas hanya akan jadi mimpi pahit tanpa aksi, bahkan yang tersisa hanyalah Indonesia cemas.

Permasalahan demi permasalahan menanti, sedang pemimpin negeri ini hanya berganti jas dan peci, sedangkan mereka yang mengisi jabatan strategis tetaplah wajah lama. Dari sini kita dapat menilai bahwa urusan negeri ini (terutama ekonomi) diselesaikan tidak berdasarkan pada kompetensi dan prestasi, melainkan pada asas bagi-bagi kursi. Permasalahan ekonomi negeri ini bukan sebatas permasalahan ganti pemimpin semata, namun problem mendasarnya tidak lain karena diterapkannya sistem Kapitalisme yang rusak dan merusak. Sistem inilah yang menjadi biang kerok hipokritnya misi pertumbuhan ekonomi 8%, apalagi visi Indonesia Emas 2045 mendatang. Serasa laksana pungguk merindukan bulan.

Dalam sistem kapitalis pertumbuhan ekonomi dijadikan standar untuk menilai keberhasilan ekonomi. Yang mana pertumbuhan ekonomi memandang persoalan ekonomi berdasarkan angka agregat. Bukan individu per individu di dalam masyarakat. Sistem ekonomi Kapitalisme mengabaikan masalah distribusi kekayaan baik secara sosial maupun komersial. Inilah mengapa tujuan ekonomi kapitalisme hanya fokus pada pencapaian pertumbuhan, mengatasi pengangguran, dan inflasi/deflasi. Negara yang sejahtera (welfare state) bagi mereka adalah yang meningkat kekayaannya secara agregat, bekerja untuk mencapai tingkat produksi semaksimal mungkin.

Dengan fokus pada angka agregat itulah maka kita akan melihat bagaimana APBN disusun secara defisit yang untuk menutupinya diperlukan utang. Pajak dan pungutan menjadi sumber utama bagi keuangan negara. Sementara itu, sumber energi (migas dan mineral) justru diliberalisasi habis-habisan atas nama investasi. Pembangunan infrastruktur tidak lagi untuk kesejahteraan rakyat. Namun, demi mengundang dan memuluskan proyek para kapitalis.

Tidak ada jalan lain untuk keluar dari lingkaran setan permasalahan yang diciptakan oleh kapitalisme ini, selain mencari sistem atau ideologi lain yang shohih dan terbukti secara historis mampu memwujudkan kesejahteraan rakyat dan negara. Sistem lain itu tidak lain adalah sistem yang berasal dari Pencipta manusia, yaitu Islam.

Islam melandaskan seluruh aspek kehidupan (termasuk aspek ekonomi) pada ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Kehidupan berbangsa dan bernegara dibangun di atas keimanan akan akidah Islamiyah, dan ketaatan dalam implementasi setiap hukum syariat untuk mengatur seluruh urusan rakyat dan negara. Pahala dan dosa, surga dan neraka menjadi visi utama masa depan setiap pemimpin dan pejabat dalam pemerintahan negara Islam. Dengan modal keimanan dan ketaatan inilah akan menolak setiap upaya yang berusaha penghianatan terhadap amanah rakyat berupa praktek oligarki dan korporatokrasi dan sebagainya yang menjadikan pemilik modal sebagai penguasa real atas negeri ini.

Selain aspek pemimpin yang amanah dan berorientasi akhirat, negara juga akan diisi oleh orang-orang yang kompeten dan bertanggung jawab untuk menunaikan amanah pelayanan kepada rakyat. Akan dipilih orang-orang yang berkualitas sesuai dengan keilmuan di bidang masing-masing.

Selain itu, Islam menetapkan pemimpin (penguasa) sebagai pengatur sekaligus pelindung bagi rakyatnya. Berdiri disamping rakyat, memastikan setiap kebutuhan mendasar rakyatnya terpenuhi. Penguasa Islam tidak akan sekali-kali menyerahkan rakyatnya untuk menjadi mangsa manis bagi pemilik modal (kapitalis). Akan menerapkan sistem ekonomi Islam bersama dengan sistem-sistem Islam lainnya di seluruh bidang kehidupan. Negara akan membangun sektor riil untuk bisa menggerakkan sektor ekonomi rakyat dan negara, sedangkan sektor non riil serta yang berlandaskan riba akan dibabat habis.

Negara Islam adalah negara yang mandiri. Berdikari tanpa berharap bantuan dari negara lain, apalagi sampai berutang yang menyebabkan negara di bawah ketiak negara lain. Memaksimalkan dalam pengelolaan sumber daya alam negeri oleh SDM yang berkualitas. Sehingga hasilnya akan mampu menopang keuangan negara mewujudkan kesejahteraan rakyat serta dirasakan langsung oleh rakyat. Adapun pajak tidak akan menjadi pilihan bagi negara untuk menerapkannya, karena hukum dasar pajak dalam Islam adalah haram. Kecuali pada kondisi kas negara kosong setelah mengucapkan dengan berbagai cara untuk mengisinya namun gagal. Barulah pajak akan dikenakan yang terbatas pada orang-orang kaya saja.

Insyaallah dengan pemimpin yang amanah dan kompeten serta penerapan dari sistem islam yang kaffah pada semua aspek kehidupan, akan menjadi jawaban atas kecemasan yang dialami Indonesia selama ini. Sistem Islam akan menjadi jawaban atas visi besar bangsa ini. Mewujudkan Indonesia Emas 2045 bukanlah sekadar idaman jempol semata, tetapi akan menjadi keajaiban yang terukir oleh sejarah dunia. Allahuakbar

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update