Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Butuh Upaya Nyata Menolong Gaza

Wednesday, November 06, 2024 | Wednesday, November 06, 2024 WIB

 

Oleh Umi Lia

Member Akademi Menulis Kreatif

Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR) memperingatkan Israel terkait kegiatan genosida di Gaza Utara. Zionis meningkatkan operasi militernya dalam beberapa pekan terakhir dan sudah menewaskan lebih dari 42.000 orang selama setahun ini, serta meninggalkan puing-puing reruntuhan di sebagian besar wilayah. PBB menuduh mereka melakukan kejahatan perang karena menghancurkan sarana kesehatan. Namun Kementerian Luar Negeri Zionis Yahudi ini membantah dan menyebut tuduhan tersebut “keterlaluan.” (metrotvnews.com, 21/10/2024)

Sejak tanggal enam Oktober lalu, Israel melakukan serangkaian serangan udara dan darat serta mengepung daerah yang dilanda perang. Hal itu menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi. Invasi yang dilakukan pada Sabtu malam (19/10) mengakibatkan 73 warga di Beit Lahiya, Gaza Utara tewas. Zionis terus mendesak rakyat Palestina untuk meninggalkan negerinya dan membantah angka-angka yang menunjukkan jumlah korban. Sementara negeri-negeri Arab tidak berkomentar dan tetap diam tanpa tergerak untuk menolong.

Sebaliknya Amerika Serikat, Jerman, Perancis dan Inggris secara konsisten mengirim bantuan kepada Israel. Persenjataan dan keuangan terus dipasok untuk menghancurkan Gaza. Akhir September lalu misalnya AS mengirim paket bantuan militer senilai 8,7 miliar dolar (sekitar Rp131,6 triliun). Bantuan ini diterima kaum zionis setelah membombardir wilayah Libanon.

Di sisi lain, para penguasa muslim masih tetap bungkam. Sikap diam itu menunjukan abainya mereka akan penderitaan saudaranya. Mereka hanya mengeluarkan retorika-retorika kosong yang tidak berpengaruh apa-apa. Seolah kaki dan tangannya terbelenggu oleh paham nasionalisme, sehingga tidak merasa derita Palestina sebagai urusannya juga.

Hal itu terjadi karena selain faktor nasionalisme, keberadaan penguasa di negeri-negeri muslim tak ubahnya sekedar boneka yang mudah dikendalikan dan harus menuruti perintah tuannya. Mereka bahkan melakukan intimidasi dan kriminalisasi pada orang-orang yang memperjuangkan Islam di panggung politik. Oleh karena itu, para pemimpin Arab dan dunia Islam tidak bisa menjadi harapan untuk bisa membebaskan Palestina. Demikian juga dengan lembaga-lembaga dunia seperti PBB ataupun organisasi-organisasi bentukan kaum muslim seperti Liga Arab dan OKI (Organisasi Konferensi Islam). Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mengecam, apalagi memimpin umat untuk melakukan jihad mengusir penjajah Israel.

Dari serangan-serangan brutal Entitas Zionis kepada muslim Palestina, seolah diperlihatkan ketegaran warga Gaza di sana. Mereka kehilangan saudara, anak atau orang tuanya, bahkan terluka, tapi tetap tegar bahkan mampu menjalankan perintah Allah, salat, membaca al-Quran, puasa Ramadan walau berada di tengah kehidupan yang tidak menentu. Kekejaman Israel tidak membuat mereka hilang kesabaran, justru sebaliknya keimanan mereka makin kuat, makin yakin dan pasrah pada kehendak Allah. Dalam kondisi sulit mereka tetap loyal pada syariat agamanya.

Islam mengajarkan bahwa sesama muslim itu bersaudara, Rasulullah saw. menyebutnya seperti satu tubuh. Jika ada satu anggota badan yang sakit, maka yang lain pun akan ikut merasakan. Karena itu, seluruh umat Islam di dunia memiliki tanggung jawab untuk menghentikan kekejaman Israel terhadap warga Gaza. Caranya dengan terus menyuarakan tuntutan pada para penguasa negeri-negeri muslim agar segera mengirimkan militer untuk berjihad mengusir Israel. Karena kebrutalan mereka hanya bisa dihentikan dengan jihad bukan dengan kecaman atau perundingan-perundingan. Berperang di jalan Allah dilakukan untuk mengusir entitas Yahudi dari tanah Palestina. Sebagaimana tercantum dalam QS al-Baqarah ayat 191 yang artinya:
“Perangilah oleh kalian di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.”

Ketika para pemimpin negeri muslim terdiam maka tidak ada harapan selain umat harus mempunyai kekuasaan yang akan menjadi junnah (perisai), sehingga dapat melindungi dan menolong muslim di mana pun mereka berada. Kekuasaan yang menolong (shultan nashira) seperti yang telah diberikan Allah Swt. kepada Rasulullah saw. akan terwujud dalam bentuk negara yang menerapkan sistem Islam. Penerapannya akan menyatukan negeri-negeri muslim beserta wilayah, rakyat, juga militernya. Selanjutnya akan menyerukan jihad untuk membebaskan Palestina, menolak solusi dua negara, memboikot semua produk dan pemikiran yang berhubungan dengan Zionis, juga melawan negara-negara lain yang mendukung Israel.

Maka upaya nyata yang bisa dilakukan untuk menolong muslim Palestina adalah dengan menegakkan sistem Islam. Untuk itu diperlukan adanya kelompok dakwah dalam menyadarkan dan mengingatkan akan kewajiban-kewajibannya. Rasulullah saw. sudah memberi contoh bagaimana kekuasaan yang menolong itu bisa diraih. Metode atau caranya adalah, pertama, mengkader orang-orang yang siap berdakwah (tastqif). Kedua, berinteraksi atau berdakwah di tengah umat seraya menunggu dan mengupayakan adanya dukungan dan pertolongan dari orang-orang yang memiliki kekuasaan (tafa’ul ma’al ummah wa thalabun nushrah). Ketiga, menerima kekuasaan dari pemilik kekuasaan (istilamul hukmi). Jejak perjalanan dakwah Rasulullah saw. menunjukkan tiga tahapan tersebut sebelum akhirnya tegak negara Islam di Madinah.

Pada tahap interaksi dengan umat, penting disampaikan bahwa membela dan menolong Palestina ini hukumnya wajib. Solusi untuk menghentikan kekejaman Zionis adalah jihad yang dipimpin seorang pemimpin/khalifah. Kemudian membongkar kerusakan sistem yang sedang berlaku sekarang yaitu kapitalisme beserta ide turunannya nasionalisme. Setelah itu disampaikan pula tentang ajaran Islam kafah yang mampu menyelesaikan berbagai masalah umat, termasuk menghentikan genosida di Gaza. Tujuan akhirnya adalah umat paham syariat Islam, kemudian menjadi opini umum, sehingga mereka tergerak untuk memperjuangkan penerapan sistem Islam. Karena pada hakikatnya rakyatlah pemilik kekuasaan.

Krisis di Gaza dan persoalan apa pun bisa diselesaikan dengan tuntas jika umat Islam mempunyai pelindung, yakni penguasa yang menerapkan hukum Allah. Seperti zaman dulu Shalahuddin al-Ayyubi bisa membebaskan Palestina dan mengusir tentara Salib. Dalam darah kaum muslim mengalir spirit jihad, di mana pun penjajah ada bisa diusir. Maka inilah saatnya memperjuangkan institusi penerap syariah agar bisa membebaskan Palestina.
Wallahu a’lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update